Reviu Novel Penari dari Serdang: Apakah Cinta Wajib Diperjuangkan?

“Kalau cinta, jangan dibunuh. Perjuangkan!” kalimat tersebut terucap dari mulut Putri Chaya kepada seorang wartawan, Bagus, dari Jakarta yang kala itu sedang menjadi juri  kesenian di Medan. Kata kerja cinta menjadi hal yang sederhana diucap namun susah dijelaskan, bagi saya sendiri. 
Novel yang ditulis oleh Yudhistira Anm Massardi (ayah vokalis-basis Barasuara, Iga Massardi) ini menyuguhkan peristiwa sejarah melayu di Sumatera Timur dengan alur kisah cinta antara penari dari Serdang, Putri Chaya –janda beranak satu, dengan seorang wartawan yang terlah berkeluarga dengan anak dua.

Dok Pribadi/ Kingkin

Yudhistira menawarkan sejarah melayu yang telah lama hilang kembali ke permukaan. Cinta sebagai penggeraknya.
Apakah benar cinta wajib diperjuangkan?
Apakah kamu benar-benar mencintai seseorang tanpa pernah mendua?
Apakah kamu mendasari perasaan cinta berdasarkan keinginan untuk beribadah kepada Tuhan sehingga menyadari di dunia ini adalah fana?
Jika seorang janda memiliki hubungan dengan seorang yang telah beristri dengan mengatasnamakan cinta, apakah cinta itu wajib diperjuangkan? Yudhistira mengajak manusia berpikir tentang perasaan dan logika yang harus jalan secara berimbang.
Di sisi lain, saya mengakui enak sekali menjadi tokoh yang diciptakan oleh Yudhistira ini. Terutama wartawan Majalah IndonesiaKini, apa yang menjadi daya tarik seorang bagus didahadapan dua janda asal Serdang yang memiliki bakat menari ini?
Bagus dipertemukan kepada Putri Chaya dan Tengku Natasya.
Dari dialog-dialog yang ada, Bagus memikat kedua orang tersebut karena dia adalah seorang wartawan. Dengan tulisannya, Bagus bisa mengubah dunia.
Di sisi lain, Bagus meninginkan jika pernikahan untuk hidupnya adalah sekali seumur hidup.
Bagian-bagian tertentu di dalam novel ini mengajak pembaca berpikir dengan menggunakan perasaan dan logika.
Sorot matanya juga menyimpan rasa sunyi, tapi masih ada api yang menyala di dalamnya –Halaman 10
Penggambaran visual yang ditampilkan juga melibatkan semua indra, jujur saja sepanjang adegan tertentu saya membaca sembari membayangkan.
“Kehidupan tidak akan menjadi lebih indah tanpa pahitnya kopi,” ujar Bersihar setelah kami menghirup tenggakan pertama.

“Seperti obat, pahitnya kehidupan memberikan harapan dan semangat bagi masa depan yang lebih baik,” ia melanjutkan filsafatnya. –Halaman 200
Terkadang membaca tidak bisa digambarkan seberapa persen tingkat kepuasannya, membaca Penari dari Serdang ini dibarengi dengan meminum teh hangat atau pun the dingin juga sangat memikat. Ditambah dengan nuansa hijau nan teduh sebagai latar membaca. Aroma kertas novel ini semakin membuat nyaman untuk menikmati isi dari novel tersebut.
Terlepas bagaimaan pilihanmu dalam menyikapi cinta. Tapi saya yakin di dunia ini masih banyak orang yang setia. Menggunakan perasaan, nurani, dan akal sehat bersama-sama untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Cinta kepada dirimu sendiri, cinta kepada pasangan hidupmu, cinta kepada keluarga, cinta kepada sesama akan membuatmu melihat kehidupan ke depan lebih jauh.
Persepsi kehidupan akan kamu dapat ketika membaca novel dengan jumlah halaman 322 ini tanpa menyesal.
Novel ini sangat rekomen sekali untuk dibaca.
Demak, 8 Juni 2019.
12.20 p.m.

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan