Review Novel Merdeka Sejak Hati: HMI Pemecah Islam?

“Apa kamu dulu waktu menjadi mahasiswa ikut Himpunan Mahasiswa Islam?”
Tidak.
Saya memiliki alasan kenapa tidak mengikuti organisasi-organisasi tertentu di kampus –pada masanya. Pertama saya berargumen kuat, meski landasan dari organisasi itu bagus, saya takut jika di dalam organisasi tersebut memiliki kepentingan politik dan melupakan tujuan utama berdirinya organisasi.
Dok pribadi

Buat saya mengikuti organisasi harus dengan passion. Jadi tidak asal ikut-ikutan teman. Atau pun paksaan karena ingin bergaul dengan banyak orang.
Membaca Novel Merdeka Sejak Hati yang ditulis oleh A. Fuadi. Pengetahuan saya terkait HMI menjadi semakin dalam, saya kagumi pendirinya.
Bagi saya mengetahui seluk-beluk organisasi juga menjadi hal yang sangat pen lrting. Dengan mengetahui seluk-beluk saya yakin dalam mencapai tujuan organisasi tersebut akan sangat ringan dan kita menjadi mudah untuk berkontribusi karena mantab dalam mengikuti sebuah organisasi.
“Kamu ikut HMI dulu? Bagaimana sejarahnya?” Tanya saya kepada teman kuliah dulu.
Saya tidak tahu sejarahnya –jawab teman saya melalui chat Whatsapp.
Saya yakin sebagian teman saya yang ikut tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) juga memiliki jawaban yang sama, tidak mengetahui seluk-beluknya. Meski demikan saya pun percaya ada mahasiswa yang memahami substansi dari berorganisasi.
Membaca Merdeka Sejak Hati membuka cakrawala lebih dekat dengan HMI dan pendirinya. Terima kasih A. Fuadi telah menulis cerita ini. Novel ini berlatar pada tahun sebelum Indonesia merdeka, hingga masa kemerdekaan, hingga 1991-an. Menampilkan kehidupan Pane di Sumatera, Bengkulu, hingga Batavia (Jakarta), dan Yogyakarta.
Bak remaja pada umumnya, Lafran Pane yang seroang piatu memiliki kehidupan masa remaja yang cukup dibilang bandel. Ia memiliki pertanyaan dasar: bagaimana biar tidak terikat? Ia harus merdeka.
Jika tidak membaca novel ini, saya kurang paham dengan Lafran Pane. Referensi membaca saya masih kurang. Masak tidak mengetahui Lafran Pane? Dari novel dengan jumlah halaman 365 terbitan Gramedia ini tersingkaplah sudah siapa Lafran Pane.  
Ada sejarah panjang di balik kehidupan Lafran Pane ini.
Hingga tibalah ia mencetuskan HMI di ruang kelas pada 5 Februari 1947. Sebagai organisasi baru di awal masa kemerdekaan ada tuduhan yang penuh dengan tatapan tajam: HMI ingin memecah belah umat Islam di Indonesia?
Kisah hidup Lafran Pane ini patut dijadikan sauri teladan. Meski ia mumpuni dan diberi berbagai jabatan, ia menolak dengan halus. Ia ingin hidupnya didedikasikan untuk kesederhanaan: Merdeka sejak hati.
Dan juga pendidikan, sehingga aku lengkapi rumah kami  dengan buku bacaan buat anak. –Halaman 269
Cita-cita bersama itu adalah kepentingan nasional dan kepentingan islam. Yaitu mempertahankan Indonesia serta mempertinggi derajat dan martabat rakyat Indonesia, juga untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran islam di muka bumi. –halaman 334
Lafran Pane menyejukkan. Ia mengajarkan kepada anak-anaknya untuk merdeka dari keterikatan pada utang ada dan utang harta. Merdeka dari ikatan-ikatan materi dan duniawai. Merdeka sejak hati. Merdeka sejak nurani.
Terkati HMI, Lafran tidak ingin ia dispesialkan hanya karena ia sebagai pemrakarsa HMI. Justru ia ingin HMI bisa dijadikan tempat belajar bagi siapa saja tidak hanya mahasiswa STI (sekarang UII). Dalam masa hidupnya Lafran Pane tercatat pindah studi dari STI ke UGM.
Lepas menamatkan novel dengan jumlah halaman 365 ini saya semakin yakin kesederhanaan adalah kunci untuk menjadi lebih bermanfaat untuk sekitar. Lafran Pane merupakan role model yang perlu dijadikan suri tauladan anak-anak muda sekarang dalam mengisi kemerdekaan:  berkontribusi untuk negara sesuai porsinya masing-masing, terlebih sesuai dengan passion-nya.
“Tetaplah sederhana dan memahami kehidupan dengan sudut pandang keilmuan yang bermanfaat,”
PS: dengan membaca novel ini saya jadi memahami kenapa Yogyakarta didapuk sebagai Kota Pelajar.
Demak, 6 Juni 2019.
07.37 a.m.

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan