Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

BACALAH apa yang telah ditulis Faisal Tehrani  pada kehidupan Basri dengan latar tahun 1960-1970 an, yang pedih bagi jiwa dan raga. Martabat kemanusiaan Basri tetap ada, tak bisa dirampas meski ia mencoba melupakan semua masa lalu nya dengan berpindah dari negara ke negara. Kepasrahan menuntun Basri bertemu dengan tokoh-tokoh yang menolongnya hingga akhirnya ia kembali bertemu dengan Val setelah 20 tahun lamanya. Dua-duanya sama-sama terlibat nestapa. Meski demikian mereka tidak mengeluh karena mereka semua tidak bersalah.
Dok Pribadi/ Kingkin

Cerita-cerita tersebut adalah sejarah perih Basri, penturan Faisal dalam novel ini perlu diapresiasi. Ada beberapa sudut pandang dalam cerita ini yang ditampilkan. Sudut orang ketiga, dari sisi “aku” Basri, Basariah, dan Val.
Kuala Lumpur 1974, Basri dan kawan-kawan di universitas melakukan demo besar-besaran dengan mengatas namakan kaum petani kecil. Tuntutannya sederhana, menaikkan harga karet, mengusir investor asing (dikaji dengan kebijakan yang tepat), dan kebijakan lainnya.
Gerakan mahasiswa tersebut justru berujung dengan penangkapan dekan, dosen, dan para mahasiswa yang dituduh oleh pemerintah Malaysia. Mereka diburu, beberapa teman seperjuangan Basri tertangkap. Dan Basri menjadi pelari atas dasar prinsip politik yang ia anut.
Val, sosok yang terlahir dari kerabat kerajaan yang berjanji tidak akan mengikari cinta Basri membentuk kisah hidup Basri semakin nestapa.
Tragedi demi tragedi mereka lalui.
Pedih tidak terperi ketika Basri dalam pelariannya mendapat kabar jika Val menikah. Menangis, tidak terima, putus asa. Namun ia kuat karena Allah. Hingga tabir kepedihan pun juga dirasakan Val.
Novel dengan judul asli Cinta Hari-hari Rusuhan yang terbitan Malaysia ini, telah membuat saya terbius mengikuti alurnya. Tidak membosankan, justru semua kisah ini menjadi pelajaran tersendiri bagi pembaca –waktu terus berputar, tetaplah berbuat kebaikan. Jatuh bangun dalam hidup sudah menjadi kudapan.
Terus berjalan dan memperbaiki kesalahan. Jika sudah baik maka pertahanakan, semudah itu kalimatnya, namun susah dilakukan.
“Cintamu adalah cinta yang bersemi saat kerusuhan. Cinta pada masa kerusuhan tak akan bisa kau bawa ke mana-mana,” –Halaman 187.
Cinta Basri dan Val memang bersemi dikerusuhan, di tengah kritisnya pemikiran untuk menjadikan negara lebih baik.
Mengingatnya hanya menambah rasa bersalah keduanya.
Bentang Pustaka mengalihbahasakan novel dengan jumlah halaman 277 ini dengan judul Lelaki yang Membunuh Kenangan. Membacanya seperti melihat ketimpangan  sosial-politik dan sudut pandang kehidupan manusia. 
Basri dan Val melakukan pengorbanan cinta yang sarat.
Well, novel ini sangat rekomen sekali untuk dibaca.
Usai membaca novel ini, Vionna Febronia, kawanku, yang sekarang berada di Malaysia melanjutkan studi lanjutnya , mengemukakan akan mencari novel tulisan Faisal Tehrani dalam versi Bahasa aslinya. Saya tidak sabar menunggu kabar baik darimu Vionna, terima kasih selalu menjadi teman diskusi buku yang menyenangkan.
Selamat berburu novel ini ya! bagi kamu yang belum membacanya. Sangat menyentuh dan bisa menjadi teman yang menyenangkan di waktu luang.


Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan