Cerita dari Blora: Kisah Istri Soesilo Toer Hingga Kambing-kambing Peliharaan di Pataba

“INI hari ulang tahun anak saya, kebetulan sekali,” tutur Ibu Soes kepada para pengunjung Pataba di siang itu.
Secara pribadi saya tidak mengenal anak dari Soesilo Toer dan keluarga besar Soesilo Toer. Pertama kali mengenal Soes jujur saja melalui buku-buku Pramoedya yang merupakan kakak dari Soes.
Siang bergelora terik. Rumah yang terletak di Jalan Sumbawa No 40 tersebut memiliki jendela-jendela yang besar dengan cat putih dan hijau yang mendominasi. Halaman rumah tersebut cukup luas. Ada dua rumah yang jadi satu di sini. Rumah yang terletak agak menjorok ke belakang merupakan tempat tidur Pramoedya di waktu kecil.
Memasuki gerbang yang terkunci. Tampak beberapa kambing bebas berkeliaran di halaman. Aroma tubuh dan pup-nya tercium sesuai dengan arah angin di siang itu.
“Maaf Mbak, lewat samping ya. Pintu depan ini kuncinya dibawa Pak Soes.  Pak Soes lagi memperpanjang SIM,” tutur Ibu Soes kepada saya. Rumah tersebut terbilang cukup nyaman.
Beberapa tanda kehidupan rumah tangga bisa dilihat saat memasuki rumah melalui samping, dua buah Kasur, TV model zaman dulu, kursi, meja, dan rak piring.
Buku-buku di Perpustakaan Pataba belum tertata dengan lebih rapi. Tampak lukisan Pram masih bersender pada dinding dan buffet. Sepertinya belum terpikirkan bagaimana detail perpustakaan ini.
Saya mengetahui Mbah Soes lebih dalam melalui kisahnya dari TV ke TV, dari talk show ke talk show. Ia merupakan adik Pramoedya. Untuk mengenang pemikiran Pram yang telah tertuang pada buku-buku, ia memutuskan membuat perpustakaan dengan nama Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Pataba).
Perpustakaan tersebut juga didukung oleh pemerintah mulai sekitar tahun 2018.
“Bisa menunggu Bapak sebentar Mbak, dia lagi memperpanjang SIM kendaraan,”
Dengan mengenakan celemek, ia menemui beberapa pengunjung. Dari keterangannya, banyak mahasiswa dari luar negeri yang sedang melakukan penelitian memutuskan untuk menginap di kediaman Pram semasa kecil.
Soes sebagai penulis acap kali juga menjadi narasumber primer untuk penelitian-penelitian mereka.
Kesederhanaan. Itulah cermin pertama yang terpantul dari frame kehidupan Pram.
“Nik kulo mboten memiliki kambing, pripun leh urip, Mbak. Kalau punya uang diam, gak punya juga diam,” jelas Ibu Soes.
Sekelumit Kehidupan Soes
Soes tidak memiliki anak dari istri pertama. Namun, ia memiliki anak dari istri ketiganya, yakni Benee.
“Penulis itu hidupnya penuh kesunyian dan pemikiran dalam Bu,”
“Kulo niki ngeten mpun sabar e ra karoan,” jelasnya.
Sembari menawari kudapan sisa lebaran yang masih terhidang di meja, Bu Soes menjelaskan ia sudah 29 tahun hidup menemani Soesilo Toer.
“Perjalanan hidup Mbak, kudu sabar,” terangnya.
Mbah Soes begitu kami mengenalnya melalui tulisannya, ia adalah seorang yang memiliki kisah banyak mengenai kehidupan.
“Dulu pernah Mbak, depan rumah kita tersumbat airnya karena pas itu hujan dan banyak sampah. Para tetangga memang bilang, aroma tidak sedap. Waktu rumah ini dibangun, lupa membuat saluran air. Ya Pak Soes dilaporkan ke Kelurahan,”
Dari keterangan Ibu Soes, sampah tersebut tersumbat karena hujan deras. Hingga mengeluarkan aroma tidak enak.
Ada hal unik di lingkungan tempat tinggal Soes ini, meski aroma dari sampah hasil pulungan dan aroma kambing yang menyeruak jika angin berhembus hal tersebut tidak pernah mengganggu para penghuninya.
Update Terkini Tentang Buku-buku Soes
Keluarga Toer ini termasuk keluarga yang dianggap kekritisannya mencekam bagi pemerintah yang berkuasa pada tahun itu. Di zaman itu, dari 8 bersaudara, 4 di antaranya pernah mendekam di balik jeruji penjara.
Untuk menyambung kehidupan, Soes aktif menulis.
“Kalau menulis di buku, nanti anak saya yang mengetik,” jelas istri Mbah Soes.
Tampak beberapa buku tulisan Soesilo Toer sangat familiar, satu di antaranya yakni tentang suku Samin.
Di Pataba, pengunjung juga bisa membeli buku-buku yang telah siap cetak.
Banyak hal yang dianggap masyarakat sekitar lingkungan Soes terkait kehidupan Pram sangat sentimental. Ada yang peduli, ada yang biasa saja, ada yang menghargai sejarah, dan ada yang beranggapan mengkritik melawan arus untuk rakyat kecil adalah hal yang tabu.
Bersambung…..

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan