Celoteh Buku: Koplak, Oka Rusmini

Peringatan: Kamu sudah membaca Tarian Bumi? Aku yakin kamu tentu  ketagihan terus dengan karya novel wartawan satu itu –Oka Rusmini.
Aku akan Mulai Berceloteh
Dok Pribadi/ Kingkin

Perempuan kelahiran tahun 1967 itu memiliki cara bertutur mudah dipahami dan mengalir. Di novel Koplak yang diterbitkan oleh Grasindo –Kompas Gramedia Grup. Membuatku membayangkan seorang Kepala Desa di Desa Sawut, Bali, bernama Koplak menjalani hidup dengan ketulisan di tengah hingar-bingar politikus yang ingin mencalonkan diri sebagai DPR bahkan hingga presiden.
Wartawan selalu memiliki caranya sendiri dalam meleburkan fakta dengan kisah humoris tokoh fiksi.
Dalam waktu sekali duduk, aku bisa selesai menamatkan novel dengan jumlah halaman 185.
Info tentang latar belakang penulis Koplak, sangat membantu pembaca bisa menilai bagaimana kira-kira novel ini akan menggelitik. Pernah mendapatkan penghargaan dari Sastra Badan Bahasa, South East Asian Write Award, Kusala Sastra, dan bisa kamu googling sendiri jika masih penasaran dengan Oka Rusmini.
Siapakah yang memiliki pikiran tokoh Koplak bisa memikirkan fakta-fakta yang terjadi di Indonesia. Seperti mengapa pemerintah melakukan impor beras dan gula?. Selain karena Indonesia negara agraris dan maritim, di mana garam terbuat dari air laut kenapa masih impor? Kegelisahan tersebut tampak dari dialig-dialog mengalir yang apik di bagian Kaya halaman 83 hingga 90. Ketajaman jurnalisnya tampak di halaman ini.
Kamu sudah membaca Tarian Bumi? Aku belum. Jika kamu sudah, kisah dari kawan-kawanku yang berjurusan sastra yang telah membaca Tarian Bumi, menceritakan tentang kekuatan yang sangat berbeda dari novel tersebut. Berat namun ringan.
Tidak biasanya aku bisa menyelesaikan novel sekali duduk, kecuali novel-novel romance ringan seperti Dilan. Oka Rusmini memiliki gaya magis lain, menceritaka isu berat dengan ringan dan mengalir.
Akan tetapi, yang membuat Koplak belakangan ini sering migrain adalah soal mengelola dana desa. Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Marwan Fajar, menyebutkan dana desa untuk desa-desa di seluruh Indonesia 2016 mencapai 47 triliun rupiah. Desa yang paling kecil menerima dana desa sebesar 600 juta rupiah dan yang besar 900 juta rupiah –Halaman 62
Aku berikan bocoran melalui tukilan di paragraph 62 tersebut, Oka Rusmini mencerminkan kondisi terkini melalui fakta.  Hal tersebut tentu membuat adik-adik (dan kakak-kakak, serta semua masyarakat Indonesia) penerus bangsa yang membaca Koplak ikut berpikir. Ada apa sebenarnya hingga itu terjadi? Apa benar kebijakan tersebut untuk rakyat?
Di televisi, radio, media daring, dan lainnya orang-orang saat kampanye DPR dan lainnya sibuk berbondong-bondong mendatangi desa-desa dengan pakaian necis.
Terinspirasi dari Koplak dan penduduk Desa Sawut, begini kira-kira obrolan yang akan terjadi –di novel Koplak bahkan lebih hidup diskusi tentang demokrasi, isu gender, dan kehidupan sosial-politik.
“Apa kamu kenal mereka?”
“Siapa? Yang berdasi dan jas itu?”
“Mereka memiliki visi-misi yang memakmurkan rakyat, membawa nama rakyat dalam setiap pemilu,”
“Apa benar apa yang mereka gemborkan untuk aku dan kamu?”
Dan di akhir-akhir novel ini menyajikan isu terini di tahun 2018 terkait pengeboman geraja. Well, layak dibaca untuk bahan renungan.
Kamu tidak akan merasa menyesal menghabiskan 3 jam duduk membaca ini, apalagi didampingi minuman kesukaanmu. Saat membaca ini, aku didampingi Koma.
Selama mencoba!
Semarang, 30 Juni 2019.
DIbaliknya: Ditambah lagi editornya Septi WS, aku pernah satu kelas di kepenulisan fiksi pada Akademi Bentang 2014, kamu akan menikmatinya tanpa jeda lebih dari 5 menit. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan