Reviu Buku Tempat Terbaik di Dunia: Melihat Jakarta dari Sisi Lain

"Seperti yang kubilang, Roanne," katanya ketika ia melihat saya. "Ini adalah tempat terbaik di dunia. Semua yang kamu pengin, bisa kamu dapatkan dan kamu lakukan di Bantaran Kali. Di kampung kumuh ini kami menjalankan hidup semewah hidup miliader di Jakarta," –Tikus, halaman 155, Tempat Terbaik di Dunia. 

Dok Pribadi

Roanne Van  Voorst merupakan seorang antropolog asal Belanda yang melakukan penelitian doktoralnya di Jakarta.
Roanne menulis novel Tempat Terbaik di Dunia ini atas permintaan Tikus –nama samaran, seorang warga Bantaran Kali –bukan nama lokasi sebenarnya di Jakarta. Di lokasi tersebut Tikus dan sekitar 150 warga Jakarta yang datang dari berbagai daerah tinggal di pinggiran kali yang sangat rawan banjir.
Ini adalah kali pertama saya membaca karya Roanne yang diterbitkan oleh Marjin Kiri pada 2018.
Kisah ini bermula ketia Roanne memutuskan untuk meneliti kehidupan warga Jakarta yang berada di titik parah saat kebanjiran. Bagaimana mereka bisa bertahan? apa yang mereka lakukan saat banjir melanda? 
Roanne tentu memiliki alasan kuat sehingga dosen doktoralnya menyetujui untuk melakukan penelitian di sana.
Perjalanan kehidupan ia lalui dengan datang ke Ibu Kota Negara Indonesia, Jakarta, sekitar tahun 2010.
Jika ingin mengetahui kehidupan masyarakat kecil di Jakarta, Roanne telah merasakannya bahkan disambut baik oleh mereka untuk hidup di Bantaran Kali.
Mulanya, Roanne melakukan pendataan melalui pemerintah setempat, namun dari tulisan Roanne dalam buku tersebut ia mengaku merasa kecewa hampir 90% pemerintah tidak memberi rekomendasi kampung yang paling parah saat terkena banjir. Justru para pemerintah tersebut memberikan jawaban jika penelitian itu bahaya, di kampung tersebut banyak copet dan lainnya. Hingga suatu kali Roanne berada di bus kota dan bertemu dengan Tikus. Dari sanalah ia pada akhirnya tinggal di Bantaran Kali.
Sebagai seorang yang tinggal di Indonesia, saya mengapresiasi kegigihan roanne saat meneliti. Ia rela melebur dalam masyarakat di Bantaran Kali selama satu tahun. Ia mengalami dan merasakan banjir.
Beberapa pengalamnya juga menggelitik bagi pembaca, tak terkecuali saya.
“Pikiran ini ternyata sangat naif. Saya tidak memperhitungkan bahwa pembuat kebijakan tersebut malu akan keberadaan kawasan kumuh di kotanya. Di mata mereka, kawasan kumuh adalah perkampungan semrawut yang tidak sesuai dengan citra kota modern seperti Jakarta: perkampungan semaca itu harus ditata ulang atau dibongkar secepat mungkin. Akhirnya, pembicaraan kami selalu berjalan dengan pola yang sama,” Halaman 10 –Tempat Terbaik di Dunia.
Buku ini ditulis mulai dari perjalanan Roanne saat bertemu dengan beberapa pemerintah setempat di Jakarta untuk meminta arahan, supaya ia tidak mendatangi kampung yang keliru. Kemudian, ia selali mendapat jawaban dengan pola yang sama, hingga akhirnya ia bertemu dengan Tikus yang membawanya kepada Tempat Terbaik di Dunia –Bantaran Kali.
Di Bantaran Kali, Roanne melihat fenomena sosial Indonesia dan budaya komunal Indonesia yang sangat kontras sekali dengan kebudayaan di Belanda.
Di akhir cerita saya menyadari Tikus meminta Roanne menuliskan kisah di Bantaran Kali ini.
“Kamu bisa menulis tentang kami, kan? Tentang bagaimana dulunya di sini, juga tida adil dan sungguh disayangkan semua dirusak? Suara kami tak pernah didengar karena kami cuma penghuni kampung kumuh. Tapi, kata-katamu setidaknya masih akan mendapat perhatian! Kamu bisa menceritakan kisah kami kepada dunia,” –Tikus, halaman 184, Tempat Terbaik di Dunia.
Dalam hal itu Tikus berujar di Bantaran Kali sebagai tempat terbaik sebelum digusur, karena di sana semua ada dengan jangkauan murah meriah.
Ada fenomena-fenomena sosial bagi kaum kecil di sini, seperti pengobatan rumah sakit yang diskriminatif pada masa itu hingga kekerabatan yang kental. Saya jadi ingat akan perkataan teman saya seorang Wartawan di Yogyakarta, jika kamu ingin hidup dengan “Sendiri” sana hiduplah di Amerika atau negara barat lainnya. Indonesia itu komunal. Kini hal tersebut juga tergambar dalam perjalanan Roanne.
Roanne menyebutkan di Belanda tidak ada kegotongroyongan seperti ini, hampir semua orang menghabiskan waktunya sendiri. Membaca sendiri, nonton sendiri dan lainnya. Hal tersebut tidak dilihat Roanne di Bantaran Kali. Suatu kali akhirnya ia memutuskan untuk pergi sendiri tanpa sepengetahuan penduduk Bantaran Kali yang sudah seperti keluarganya sendiri itu.
Anak muda harus taat kepada orang tua. Hal tersebut juga tidak sesuai dengan budaya di Belanda. Di Belanda adanya tukar pikiran antara yang muda dan tua bukan hal tabu lagi, justru menjadi kebiasaan. Bukan berarti pendapat yang tua selalu benar, hal tersebut bertolak dengan budaya di Indonesia.
Secara substansial selain hal tersebut. Ada hal lain yang ditulis Roanne dalam buku ini, yakni pandangan Roanne terkait pemerintah Indonesia dan beberapa politikus di Jakarta.
Kenapa masih ada saja banjir?
Setahun setelah tinggal di Bantaran Kali, Roanne kembali lagi ke Belanda hingga kabar mengejutkan datang dari Tikus di 2015 dan Roanne kembali lagi terbang ke Indonesia. Kampung Bantaran Kali tersebut telah digusur.
Ada kebijakan lain yakni rumah bersubsidi dari pemerintah untuk para warga, syaratnya yakni KTP harus Jakarta. Menurut Roanne hal tersebut juga kurang memberikan solusi bagi warga Bantaran Kali yang sehari bisa saja hanya memiliki penghasilan yang cukup untuk makan dua hari sekali.
Roanne mengemas apik kisah perjalanannya di Jakarta bersama warga Bantaran Kali. Saya yakin sosok Tikus, Neneng, Enin dan lainnya masih ada di Jakarta. Semoga mereka mendapat kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Mereviu buku yang sudah saya baca hingga selesai menurut saya adalah cara meninggalkan kesan dan rasa terima kasih kepada penulis atas kisahnya yang tanpa penghakiman namun selalu memberikan sudut pandang yang banyak tentang hidup.
Buku ini sangat rekomen untuk dibaca.
Roanne juga menyinggung tentang budaya korupsi baik dari tataran politik pemerintahan hingga masyarakatnya di buku ini, selamat berburu bagi yang belum membaca buku ini!

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan