Kampung Ramadan Jogokariyan, Jalan Paling Teduh

BERDERET penjaja makanan melayani pembeli yang sedang berkunjung di Kampung Ramadan Jogokariyan. Ada penjaja sosis, teriyaki, es buah, hingga nasi goreng korea di sekitar Jalan Raya menuju Masjid Jogokariyan.
Dok Pribadi

Dok Pribadi

Hiasan serupa lampion berada di udara kosong depan Masjid menjadi satu di antara lokasi favorit pengunjung yang ngabuburit untuk berfoto atau pun tempat untuk berbuka. Berbuka on The Road. Tali-tali menjadi perekat lampion kertas warna-warni itu. Langit yang masih biru menjadi pelengkap indahnya hiasan ini. Terlebih ketika senja tiba, ada hiasan lampu yang semakin mempercantik area.
Mulai sekitar pukul 16.00 WIB, para masyarakat mulai memenuhi ruang-ruang suci di Masjid Jogokariyan, sentra berbuka bersama di Kampung Ramdan. Kehangatan, ketulusan, tanpa pamrih. Ketiga kata tersebut merupakan hal yang saya rasakan ketika kali pertama menjejakkan kaki di sepanjang jalan Masjid Jogokariyan.
Saling menghargai, siapapun kita.
Sudah menjadi tradisi, Masjid ini menyediakan makanan untuk berbuka bersama. Dibantu oleh penduduk setempat, acara ini berjalan lancar.
Orang-orang biasanya membeli jajan terlebih dulu sebelum akhirnya menuju ke tempat nasi dan piring berisi lauk pauk yang disajikan oleh pengurus masjid yang dibantu oleh warga.
“Ayo merapat ke dalam yang sudah mengambil nasi. Ingat ya, sudah ngabuburit di sini jangan lupa salat berjamaah juga di sini. Rugi kalau di sini hanya untuk berbuka puasa saja,” begitulah pengurus masjid berujar melalui pengeras suara.
Semakin mendekati waktu berbuka semakin ramai.
Saya menunggu seorang kawan yang kebetulan lokasi tinggalnya dekat dengan Jogokariyan, Navilatul Ula. Kami berburu takjil terlebih dahulu sebelum menjadi bagian dari kebersamaan yang mendamaikan saat magrib berkumandang.
Tampak dalam masjid telah terisi penuh. Beberapa warga yang berniat berbuka di sana, mengambil tikar yang telah dipersiapkan oleh panitia dan menggelarnya di sisi-sisi jalan. Namun pemandangan lain juga akan menambah suasana Ramadan nan kekeluargaan. Beberapa orang duduk bersila sembari menunggu bedug magrib di tengah jalan.
Langit yang semula berwarna biru digantikan dengan semburat oranye yang menandakan sebentar lagi magrib berkumandang.
Nasi di atas meja depan masjid telah habis. Kami baru selesai berburu takjil. Apa yang menyebabkan kami kami tetap tertarik untuk menjadi bagian tradisi buka bersama dengan nasi dan lauk pauk sederhana bersama ratusan orang ini?
Meski habis tetap ada barisan.
“Siapa yang belum kebagian nasi? Ayo ke dalam,” kami mengikuti aba-aba tersebut. Di belakang masjid tersebut berjejer rumah warga. Di sanalah warga masih sibuk untuk menyiapkan nasi di piring dan menuangkan kuah gulai di atasnya.
“Ayo yang belum dapat ke sini,” tutur satu di antara warga. Ibu paruh baya tersebut tetap melayani para masyarakat sekitar.
Tak ada gurat kelelahan atau kesal dari raut Ibu Paru baya tersebut. Ia tetap melayani para warga yang antre mendapatkan jatah makan berbuka puasa. Banyak cara yang bisa dilakukan manusia untuk menghargai waktu dan kesempatan. Ibu Paruh baya tersebut telah memutuskan untuk menghargai kesempatan dan waktu untuk memastikan semua warga yang ikut berbuka mendapat jatahnya masing-masing.
Kami berdua memutuskan duduk di teras rumah tersebut yang hanya berjarak satu langkah dari Masjid. Di depan kami duduk, masih ada beberapa warga yang mengantre.
Beberapa orang tampak sudah melahap nasih dengan kuah gulai dari piring masing-masing.
“Jamaah kali ini ada dua kali, silakan yang sudah selesai makan bisa melakukan salat jamaah terlebih dahulu.” tutur penjaga masjid melalui pengeras suara.
Tak peduli siapapun kamu, kamu adalah  murid dari alam semesta yang diciptakan Tuhan.
Tampak semua orang berbanjar rapi menuju untuk mendapatkan nasi, beberapa sudah rapi duduk di pinggir jalan dan tengah jalan dengan teratur.
Adzan berkumandang, semua mulai lahap memakan nasi gulai dengan awalan doa berbuka puasa.
Suatu petang yang tidak akan pernah aku lupakan, berada di bawah langit yang sama dengan ratusan pengunjung lainnya di Jogokariyan, diberi kesempatan mengisi paru-paru dengan udara bersih, dan atmosfir kesederhanaan sebagai manusia.


PS: Perjalanan ini saya lalui dengan seorang kawan, Navilatul Ula.

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan