Tentang Sosiolinguistik: Pilihan Pembicaraan dan Kebiasaan

Esai ini ditulis untuk mengabadikan percakapan dengan seorang saudara yang pernah memberi saya hadiah buku John Steinback saat ia berkunjung di negara yang belum pernah saya kunjungi.*
Penulisan ini mengenai kecenderungan manusia dan pemilihan pilihan dalam hidup.
“Tetap berdoa kepada Allah supaya terus dilindungi.” –Budi dalam percakapan.
Kamu akan mengetahui Budi mana yang saya maksud, jika kamu benar-benar memahami dunia sastra. Ya, sejak dulu hingga sekarang nama lengkapnya adalah Budi.
Budi adalah seorang sastrawan ia memiliki hobi membaca dan menulis beberapa hal yang ia amati dalam kehidupan sehari-harinya. Latar belakangnya berasal dari pergaulan yang tidak membicarakan materi semata dan fisik-fisik rupa kehidupan.
Namun, ia pernah menyelami kehidupan malam Jakarta karena ia ingin meneliti rupa-rupa manusia yang sangat kompleks dan beragam. Selain itu, perjalanan kehidupannya juga sangat berwarna.
Ia sendiri telah memakan asam kehidupan yang lebih banyak daripada saya, itulah sebabnya ia  menjadi saudara sharing yang benar-benar jauh dari kata artifisial ketika membicarakan rupa-rupa manusia dalam balutan sosiolinguistik.
Ada bermacam-macam manusia yang pernah Budi temui selama menyelami kehidupan di Jakarta dalam seminggu untuk observasi, pertama ada beberapa lelaki yang membicarakan perempuan dari fisiknya, dan lain sebagainya. Pun, sebaliknya, ada perempuan yang membicarakan lelaki dari fisiknya.
Ia juga bertemu dengan orang-orang yang memahami hidup dengan makna yang berbeda, bukan dari jumlah mobil yang dimiliki, berapa jumlah rumah yang ada, namun ia berjumpa dengan orang-orang yang menilai kehidupan dengan seberapa besar mereka memberi untuk orang-orang yang kurang beruntung dalam hidup, baik lelaki atau pun perempuan.
Dengan latar belakang pilihan percakapan lelaki: topik, sudut pandang, percakapan orang-orang sehari-hari dipengaruhi orang beberapa hal; pengalaman seorang lelaki, wawasan seorang lelaki, yang dipengruhi oleh lingkungan keluarga, pergaulan dan hal lain.
“Semoga kamu ketemu sama lelaki yang luar biasa,” Budi mendoakan saya dalam balutan sosiolinguistik. Saya hanya bisa mengamini. 
Menyoal lelaki dalam sosiolinguistik, Budi sebagai lelaki sendiri menjelaskan jika tidak ada laki-laki seperti hayalan perempuan; baik 100%. Di sini baik mengenai percakapan-percakapan yang dipilih serta sudut pandang.
Kenapa Budi dan saya akhir-akhir ini membicarakan tentang sosiolinguistik? Saya sendiri juga tidak membutuhkan alasan, biasanya topik yang kami bicarakan adalah mengenai hal-hal yang erat dengan kehidupan impian-impian dengan kecenderungan spirit of life.
“Lelaki pasti membicarakan perempuan dengan sudut pandang masing-masing,” Budi menambahkan.
Adalah Budi mengemukakan sudut pandang setiap orang tidak perlu dikomplain, karena kita menerima perbedaan.
Ia menceritakan bagaimana sosiolinguistik benar-benar hadir dalam pikiran-pikiran manusia, sebagai lelaki ia lebih membicarakan sifat-sifat dasar yang dimiliki lelaki dalam hidup.
“Di desa-desa tentu lelaki juga membicarakan perempuan sesuai kapasitas mereka, itu juga dipengaruhi lingkungan, dan persentasenya tentu berbeda jika yang berbicara adalah lelaki dengan wawasan yang luas, ia akan membicarakan perempuan dengan sudut pandang yang berbeda,” –Budi.
Banyak perempuan percaya semua lelaki baik. Dan Tuhan selalu memberikan apa yang seharusnya cocok untuk masing-masing, melalui proses yang panjang. Seperti Budi, saya turut bergembira, Budi telah memilih jalan hidupnya dan terus berpikir positif dalam hidup besama perempuan yang ia sayangi karena hatinya.
Seperti orang yang beriman mengimani An-Nur ayat 26: Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik,
Budi memberikan sharing yang bermanfaat terkait sosiolinguistik, bukan tentang penghakiman-penghakiman namun tentang instrokpeksi diri yang dalam.
Mengenai perjalanan hidup Budi, ia juga mengalami kisah yang sarat makna terkait perjalanan cintanya sendiri. Manusia yang berusaha, Tuhan yang menentukan namun manusia tetap harus berusaha  dan menjadi pribadi yang lebih baik daripada yang kemarin.
Pembicaraan dalam kehidupan manusia juga rupa-rupa, “Kita menerima perbedaan sudut pandang,” pada kalimat tersebut ditegaskan manusia memang beragam seiring dengan  berbedaan budaya yang membentuknya.
Pilihan-pilihan dan kebiasaan pada akhirnya membentuk manusia menjadi dirinya sekarang dan yang ada di masa mendatang.
jadi, saya berharap kebaikan selalu menyertai teman-teman semua, mulailah dengan kebiasaan-kebiasaan baik.
“Once you replace netagative thoughts with positive ones you’ll start having positive results,” –Budi.
Dari percakapan Budi tersebut, ditambah dengan perspektif kita dalam memahami kehidupan, hal-hal positif yang ada di pikiran kita akan membawa kita ke mana saja dengan izin semesta.


Comments

  1. Budi Darma ta ini? Kayak biasanya, mengalir enak bnget dibaca >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. thanks cuk, selamat membaca! dia adalah Budi yang sering anak-anak SD tulis di buku tulis mereka saat pelajaran Bahasa Indonesia haha

      Delete
  2. Mudah-mudahan, eksistensi laki macam Mas Budi yang nggak memandang orang terutama cewek dari fisiknya aja masih banyak di muka bumi. AMIN.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin Riani, terima kasih novelis yang banker telah berkunjung ke lapak ini, wkwk

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan