Tentang Rupa-rupa Hidup dari Kacamata Pembaca Tanah Tabu

Kehidupan adalah proses. Suatu sore, seorang pembaca Tanah Tabu berujar kepadaku dengan pandangan sayu. Sewaktu kanak-kanak, hidup bebas, tidak memikirkan konflik atau benturan realita rupa-rupa manusia. Di masa kecilnya, ia tidak pernah membicarakan keputusan-keputusan orang lain atau pun membicarakan orang lain dengan penuh kasak-kusuk terhadap pilihan hidupnya. Berbalik dengan apa yang dilihatnya terhadap rupa-rupa manusia di zaman ia telah mencapai usia dikatakan dewasa.
Sore ini, ia menceritakan banyak hal tentang perubahan-perubahan yang telah ia alami atau pun dunia yang telah ia lihatnya selama ini.  
Ini adalah sebuah reminder terhadap diri sendiri, kata pembaca Tanah Tabu kepadaku sore itu.
Pembaca Tanah Tabu ini berpendapat, sebaiknya aku tidak boleh menghakimi keputusan orang lain terhadap keputusan-keputusan yang telah dipilih.
Hidupnya telah sarat pengalaman. Ia dihakimi, tetap diam. Ia memilih fokus terhadap kebahagiaannya sendiri dan kebahagiaan yang bisa ia bagi-bagikan kepada orang-orang yang menyayanginya dengan tulis tanpa pamrih.
“Sebab hidup ini adalah proses, tentu setiap orang mengambil keputusan sudah dipikiran baik-buruknya untuk kehidupan masing-masing. Pun pasti ada sebab-akibatnya.” Ucapnya tanpa memalingkan muka dari mata ku.
Aku tertegun, seperti ini kah hidup telah menyepuhnya menjadi manusia dewasa?
Banyak orang di luar sana, jika sore-sore begini pada umumnya baru selesai pulang kerja. Kami memutuskan menyelami sore pada keheningan yang sunyi bersama buku Tanah Tabu.
Ia dewasa menjelma mengenal rupa-rupa manusia, ia berkisah jika di zamannya ia memilih untuk dekat-dekat dengan manusia simpel tanpa memutuskan kebaikan atau pun keburukan setiap orang.
“Hati-hati, jangan terbawa penghakiman-penghakiman serta gosip yang sifatnya menghancurkan energy positif,”
Ada banyak cara untuk mengetahui keberkembangan sebuah lingkar pergaulan, melalui percakapan-percakapan. Tampaknya, pembaca Tanah Tabu tersebut bertemu dengan teman yang membuatnya geleng-geleng kepala. Seringkali ia bertemu dengan komentator.
Aku hanya bisa melihatnya berbicara alih-alih menimpali.
“Orang yang tidak menyukaimu tentu akan menyangkal semua apa yang telah kita lakukan, tidak tahu motifnya apa. Celakanya ia selalu mengajak orang lain,” imbuhnya.
Dalam obrolan itu, Pembaca Tanah Tabu menemui rupa-rupa yang lebih beragam daripada masa kanak-kanaknya.
Pembaca Tanah Tabu ini memiliki umur mendekati kepala lima, namun semangatnya untuk berfokus pada hal-hal positif dan berkarya terus ia lakukan. Pembaca Tanah Tabu menjelaskan ada beberapa orang diciptakan untuk tidak memahami kita dan memilih menghakimi kita alih-alih menerima.
Aku terus mendengarkan rupa kehidupan yang ia ceritakan, pun dengan rasa cintanya terhadap apa yang ia lakukan.
“Teruslah berjalan, bereksperimenlah, pelajari manusia itu sendiri kamu akan memiliki banyak hal yang tidak terduga yang tak bisa kamu dapatkan di bangku pendidikan formal,” imbuhnya.
Apa itu sastra?
Baginya sastra tidak memiliki definisi khusus. Sastra adalah nafas kebebasan dan nafas yang dibawa oleh manusia sendiri, kompleks dan tidak memiliki patokan batasan.
Ia menjelaskan sedemikian,
Langit telah berupa gelap saat kami menyadari waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WIB.

Comments

Popular posts from this blog

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Terima Kasih Mbak Gojek

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan