Review Novel: Orang-orang Biasa dan Kejujuran Impian

Dok Pribadi
ANDREA HIRATA telah kembali! Saya akhirnya kembali menemukan nafas Andrea Hirata yang hampir mendekati spirit of life-nya tokoh-tokoh dalam Laskar Pelangi melalui novel dengan jumlah halaman 262 sampai dengan kata tamat.
Sebagian besar tokoh di dalam novel ini yakni orang-orang yang di sekitar kehidupan adalah orang-orang yang tidak pernah terpikirakan oleh sebagian dari kamu.
Pengangguran terselubung dengan masa lalu yang sederhana nan jauh dari kata glamor. Memikirkan cita-cita saja mereka tidak berani.
Jika kamu ingin memiliki kepakaan terhadap sudut pandang orang-orang biasa ini, cobalah sekali-kali memiliki pendekatan humanis dengan tukang sapu jalan yang menghamba kepada pemerintah. Saya yakin, kamu akan mendapatkan segudang cerita kehidupan yang tidak artifisial.
Beranikah kamu melakukan hal tersebut tanpa membawa identitas pribadi? Menyoal hal ini saya sarankan jika kamu ingin melihat kehidupan dari sisi secara langsung.
Kembali kepada review novel ini. Warna kuning, mencolok. Aroma kertas memikat. Itulah yang saya rasakan saat membaca novel ini hingga tuntas. Meski saya berencana membaca sehari selesai, namun hal tersebut molor hingga 3 hari.
Honorun. Salud. Junilah. Dinah. Tohirin. Rusip. Nihe. Handai. Sobri. Mereka semua adalah tokoh-tokoh sentral yang menghidupkan cerita ini. Saya lebih suka menyebut mereka memiliki perekonomian yang kurang beruntung. Hingga pada generasi berikutnya, mereka memahami kehidupan dari persepsinya.
Yaitu ketika anak Dinah, Aini. Anak seorang penjaja mainan anak-anak kaki lima yang berhasil menembus tes kedokteran di Universitas Negeri namun terbentur biaya.
Berikut ini beberapa cuplikan isi novel yang saya sukai, beberapa adegan memang membuat saya tertawa penuh paradoks. Meski mereka berasal dari ketiadaan, namun kejujuran dan uang halal merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk hidup.
Anak sekolah zaman sekarang ternyata suka berkelompok berdasarkan bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri, dan bagaiamana mereka ingin dilihat orang lain. Yang keren, modis, cerdas, dan berbakat macam-macam punya grupnya  masing-masing. Yang suka tepuk Pramuka bergaul sesame mereka, yang suka menaikkan bendera juga. Lalu, muncul grup baru, yang disebut para pembuli –halaman 9
Kalimat di halaman 9 tersebut merupakan tukilan adegan di mana-mana orang-orang biasa terebut diremehkan, diinjak-injak dan dibully oleh tokoh yang menganggap diri mereka memiliki kuasa yang lebih. Golongan tersebut beranggapan jika telah mengesampingkan orang lain, menganggap diri mereka lebih baik. Sedih sekali saya melihat adegan ini. Seolah-olah mereka mengira dengan menghina orang lain dirinya menjadi lebih baik daripada yang dikesampingkan. Padahal belum tentu.
“Kurasa kau adalah satu-satunya murid di dunia ini yang tak naik kelas, banyak nilai merah di rapor, yang berani bercita-cita menjadi dokter, Aini,”
Tukilan percakapan tersebut merupakan kegigihan Aini. Anak seorang pedagang kaki lima yang memiliki cita-cita menjadi dokter ahli karena suatu alasan. Dulu ia tak paham matematika hingga pada momentum tertentu ia semangat belajar dan menembus keterbatasan. Melalui Ainilah tokoh orang-orang biasa memiliki ide brilian.
Ada beberapa hal yang tidak terduga di tengah cerita hingga akhir cerita ini.
“Fakultas kedokteran katamu, Dinah?! Apa aku tak salah dengar?!”
“Ya, But, kau tak salah dengar, Fakultas Kedokteran,” –halaman 77
Meski sembat terbersit criminal di tengah kalimat teman-teman orangtua Aini, pada akhirnya kejujuran berhasil menjawab semua ketidak mungkinan.
“Sudah berapa tabunganmu sekarang, Aini?”
“Tujuh puluh lima ribu, Bang,”
Setiap minggu tabungan Ainin naik 25 ribu.
“Untuk apa tabunganmu itu, Aini?”
“Untuk kuliah di Fakultas Kedokteran, Bang,” –Halaman 122
Usai karya tetralogi Laskar Pelangi, bagi saya ini merupakan karya yang spirit-nya mendekati semangat teman-teman dari Laskar Pelangi.
Well terlepas dari pandangan beberapa pembaca novel dalam mengikuti karir Andrea Hirata, let them be.
Ini merupakan novel yang rekomen, dari bintang 1-5, saya berikan bintang 3,9!
Selamat berburu novel ini ya!
Ungaran, 9 April 2019


Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan