Filosofi Memanah hingga Impian-impian

“Ayo, mencoba archery,” ajak beberapa teman di Jumat pagi itu.
JIKA biasanya aktivitas fisik yang sering dilakukan oleh sebagian orang adalah jogging, fitnes, sepedaan, dan lainnya. Hari itu kami mencoba aktivitas fisik lain yang difasilitasi oleh tempat kami berkarya.
Adalah melibatkan konsentrasi, otot lengan, itulah hal yang kami coba, archery, atau memanah.
dok pribadi/ on frame: Lestari Margaretha

Kami mencoba, hari itu, di halaman samping kantor yang dikhususkan untuk Archery.
Fokus. Kokoh, tidak goyah merupakan hal yang penting dari memanah. Ini adalah kali pertama saya mencoba memanah, pun sebagian besar teman-teman. Ada beberapa cara dasar yang dajarkan oleh senior kami. Secara bergantian kami mempraktikan, sekali praktik ada 3 anak panah yang melecut menuju titik fokus dari jarak sekitar 3-5 meter.
Sekitar 1,5 jam kami bergantian menggunakan 2 busur panah. Saat mencoba hal tersebut, ada yang mendekati titik pusat lingkaran, ada yang keluar orbit, dan juga ada yang kelewat dari papan. Masing-masing mencoba tiga kali, setiap kami anak panahnya 1:3 ada yang mendekati titik fokus.
Seperti hidup sendiri, bisa saja dari beberapa hal yang kita coba ada yang tidak langsung sesuai keinginan, namun ketika kita mencoba lagi dan bangkit dari ketidak mungkinan ketidak mungkinan tersebut ada probabilitas kita untuk berhasil.
Itu analogi versi saya, bisa jadi kamu memiliki analogi yang lain.
Jumat itu, merupakan kali Lestari Margaretha menjajal Archery. Panah ia tarik, hingga siku lengannya membentuk sudut siku-siku dengan badan. Ia bidik di tengah. Lalu ia lucutkan pegangannya pada busur. Panah melesat ke depan.
Probabilitas melesat atau tidaknya panah pas sasaran juga bergantung angina, postur tubuh, dan daya yang diberikan.
Rata-rata dari tiga kali bidik, dua di antaranya hampir mendekati titik fokus utama. Kami menikmati permainan tersebut. Benu Pandubrata memiliki pendapat mengenai filosofi Archery ini, “Untuk mencapai tujuan kamu harus menarik semua potensi dari dirimu keluar,” –Benu dalam percakapan.
Jika dianalogikan kembali, papan panah tersebut adalah impian-impian kita. Dengan fokus, kita akan bisa meraihnya. Impian-impian masing orang tentu berbeda, bagi saya menghirup udara dan bisa melakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain itu juga sebuah impian. Terlebih jika masih bisa menekuni hobi di sela-sela kesibukan, itu juga merupakan anugerah tersendiri.
Hidup terus membuktikan jawaban-jawaban atas usaha dan doa, cepat atau lambat akan ada waktunya impian-impian yang belum terwujud bisa diraih.
Kami menikmati aktivitas fisik ini di Jumat pagi sebelum kembali ke rutinitas kebiasaan. Sikap paling baik untuk memelihara kesehatan tubuh satu di antaranya yakni dengan aktivitas fisik, archery ini menjadi hal yang bisa dicoba konsisten selain aktivitas fisik lainnya.

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan