Review Novel Ibu Susu

Membaca, bagi saya, adalah proses spiritual yang menyenangkan.
Setiap orang pasti memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, itu hal yang wajar. 
Dari membaca, saya mendapatkan ilmu kehidupan baru dari sisi yang berbeda, termasuk bacaan fiksi. 
Kali ini tulisan fiksi Ibu Susu yang ditulis oleh Rio Johan adalah novel yang akan saya review. 
Dok Pribadi

Berjumlah 202 halaman, Rio Johan mengemas bagus kisah Firaun Theb yang memiliki mimpi mengenai air susu. 
Penyajian kisah yang minim dialog di penulisan Rio Johan, jujur saja mengingatkan akan cara Nukila Amal dalam Cala Ibi; minim dialog.
Bedanya adalah, jika Nukila Amal dalam Cala Ibi menggunakan diksi-diksi dan metafora yang membuat kulit jidat berkerut, Rio Johan berbeda. Alurnya mengalir tanpa metafora. 
Hal ini, membuat penikmat buku semakin senang, karena bisa memahami dengan nyaman. 
Dikisahkan, pada awalnya, Firaun Theb bermimpi terkait susu. Kala itu, putranya sedang mengalami bala. 
Air susu Ibu Agung sudah tidak keluar usai menyusui tiga bulan. 
Ada beberapa tersirat dan tersurat yang dipesankan Rio Johan di Ibu Susu. 
Well, saya suka sekali gaya penuturannya. Mengalir. 
Fakta yang ingin disampaikan melalui riset telah Rio sampaikan dengan apik. 
Mimpi Theb, merupakan cerminan pemimpin yang ditegur. Hingga ia mempertaruhkan segalanya demi putra penerus kerajaan Firaun. Hingga akhirnya Firaun mengadakan sayembara Ibu Susu bagi anaknya.
Firaun mencari sosok yang dilihatnya melalui tafsir mimpi, di mana bisal menyembuhkan anaknya melalui air susunya. 
Iksa adalah jawaban dari kegelisahan Firaun Theb, meski demikan tak semua mengerti kenapa ramalan tersebut jatuh kepada Iksa. 
Nilai kehidupan sarat tercermin dari diksi-diksi yang dipilih. 
Kisah dengan sarat makna Ibu Susu dikemas dalam kegurihan yang enak dibaca. 
Dari skala 1-5, novel Rio Johan ini saya berikan bintang 4. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018