Keheningan Parang Jati

dok pribadi

KETIKA memasuki toko buku aku mencium aroma wangi dari kertas bertuliskan Anatomi Rasa. 
Sebagai editor dari Parang Jati, Ayu Utami meleburkan diri dengan penulis Anatomi Rasa.
Jangan hakimi buku dari kovernya, bagi kamu yang melihat kover ini pasti akan terkecoh jika ini adalah novel romance yang mendayu-dayu untuk anak-anak SMA, bukan?
Novel sastra ini mengisahkan filsafah dan filosofi dalam tiga bagian. Anatomi yang bagus bagi para pencari jawaban tentang kehidupan.
JIka pada umumnya orang-orang tenggelam dalam keriuhan hiruk-pikuk kota dengan harapan mendapatkan segudang harta, materi, kemasyuran. Melalui Antalogi Rasa ini Parang Jati mengantarkan para pembacanya kepada keheningan yang berisi.
Kalau kamu nyinyir kepada rasa, periksalah, apakah kamu dipengaruhi oleh bias rasionalisme Barat? Kalau kamu terlalu suka kepada rasa, juga periksalah diri. Jangan-jangan kamu malas berpikir? –Anatomi rasa, Halaman 6.
Di sini, Rasa ditinjau dari alam kebatinan jawa.
Kata rasa menggambarkan lapisan pengalamanan manusia, Parang Jati mengambarkan kisah Dewa Ruci sebagai contoh dalam antalogi di bagian pertama. Dalam kisah Dewa Ruci mengandung hal penting tentang makna rasa.
Pergilah ke laut. Tanpa keramaian, tinggalkan keriaan dunia kota sejenak. Inilah satu di antara beberapa cara untuk mengenal makna rasa sendiri. Dari kisah Dewa Ruci, rasa ini adalah sebuah paradoks,
Budaya Jawa sangat erat dalam buku dengan jumlah halaman 277 dengan editor Ayu Utami ini menyuguhkan keheningan yang berisi.
Buku ini menggambarkan makna pencarian hidup yang otentik atau tulen, bukan tentang keunggulan yang dimiliki.
Bagi ku sendiri, kehidupan bukan seberapa baik kamu atas orang lain, namu kehidupan adalah tentang seberapa diri kita mengenal diri sendiri dan memiliki kontribusi yang baik dalam hidup.
Minimal, diri kita lebih baik dari yang kemarin.
Parang Jati mengisahkan keheningan adalah sebuah rasa yang paling dalam di dalam nafas manusia. Anatomi rasa sangat rekomen untuk dibaca.
Menutup review singkat ini, aku berikan tukilan rasa versi Parang Jati berdasarkan kebudayaan jawa melalui kisah Dewa Ruci.
Paradoks spiritual; jika engkau mencari kebesaran, kau harus menjadi yang paling kecil. Jika engkau mencari yang ilahi, kau harus masuk ke dalam diri –Anatomi Rasa, Halaman 11. 

Comments

Popular posts from this blog

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Terima Kasih Mbak Gojek

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan