Triliun Kesunyian

Fiksi ini diabadikan untuk mengenang pikuknya Kota Semarang* 

Dok Pribadi

Ketika laju kendaraan berhenti di perempatan lampu merah di sudut Kota Semarang, suara sirine ambulans memekakan telinga. Beberapa pengendara roda dua, berboncengan, mereka menerobos sisi kiri jalan. Terpaksa kendaraan di depan melaju meski lampu berwarna merah.
Pengendara roda dua di depan ambulan tersebut seolah dikejar waktu. Pembonceng mengibarkan bendera kecil berwarna kuning. 
Masih meraung. Panas menyengat. Namun kali itu aku hanya menjadi penonton kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang tersebut. 
Aku berada di sebuah ruang. Di sini orang-orang sibuk bercengkrama dengan lawan bicaranya masing-masing. Ada yang sibuk dengan gadgetnya, mengantre pesanan makanan, atau pun hanya melamun saja. 
Aku berada di lantai dua. Pemandangan di sini sangat strategis, aku bisa melihat lalu lintas di perempatan, patung Warag Ngendok, dan tentu beberapa orang-orang yang ada di sekelilingku. 
"Kenapa supir ambulan terkadang tidak memberi kesempatan pengendara di depannya untuk menepi sejenak? Mereka butuh waktu barang sedetik," ujar Kidung kepada rekan di depannya. 
Mereka berdua asik mendiskusikan pekerjaan masing-masing yang sarat petualangan. 
"Jenazah itu memang harus disegerakan di kubur," terang Yen. 
Aku hanya bisa mendengarkan diskusi mereka. Namun, siang hari di ruang  teduh adalah favoritku. 
Daripada berada di panas terik, lebih baik aku menjadi pengamatnya. 
Biasanya orang-orang akan memilih aku berdasarkan penerbit dan penilis, termasuk Kidung. Namun, dengar-dengar cerita dari teman-temanku yang terpajang di toko buku, Kidung ini suka dengan buku yang ditulis dengan makna kearifan lokal tinggi. 
Lampu di perempatan berubah hijau. Kendaraan di sisi kanan mulai melaju. 
Aku adalah buku yang sedang Kidung baca. Konon kisahku ini menceritakan tentang tanah Papua. 
"Apa kalau di Papua ada ambulan yang meraung seperti di sini?" tanya Kidung. 
"Papua...mendengarnya saja masih terasa asing sekali," 
Di sini kita terjebak dalam keramaian lingkungan, kedua orang di hadapanku terhanyut dalam buku masing-masing. 
Di antara ramainya para pengendara di jalan raya sana ada pandangan yang berbeda, antar kedua kutub pemikiran manusia. Namun, bukankah hidup memang seputar Triliun perbedaan yang bisa menyatu? 
Di balik semua ini, ada aroma kertas yang mempersatukan pembacaku untuk berdisku, di triliun kesunyian ini, aku siap menampung beberapa ide meraka yang masih tersembunyi. 
Semarang, 26 Februari 2019. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018