Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan

Novel Gadis Pesisir adalah novel kedua Nunuk Y. Kusmiana yang telah aku baca. Novel pertamanya berjudul Lengking Burung Kasuari juga tak jauh-jauh dari kisah kearifan lokal Papua. 
Kali ini, melalui Gadis Pesisir, Nunuk menggambarkan Papua dengan latar sekitar tahun 1960-an. 
Dok Pribadi
Penulis kelahiran Ponorogo, Jawa Timur ini mengemas kearifal lokal dengan sangat menyentuh. Terlebih melalui tokoh-tokoh perempuan asal Irian Jaya yang memiliki suami dengan mata pencaharian di laut sebagai nelayan. 
Makan dari hasil tangkapan ikan yang terkadang memiliki hasil tidak berapa.
Novel ini membuat pembaca terus bersyukur dan menhargai apa yang kita peroleh, minimal tidak menyisakan makanan. 
Di luar sana tentu masih ada orang yang kurang beruntung, seperti sosok Halijah. 
Halijah adalah potret gadis usia 14 tahun yang kurus, hitam, dan secara fisik kurang menarik. Akan tetapi sorotan matanya memiliki makna penting bagi yang melihatnya dengan jeli, ketulusan. 
Ketulusan tersebutlah yang membuat Halijah dilirik oleh seorang polisi asal Jawa yang bertugas di sana. Namanya, Supri. 
Pertama, aku menduga jika aku bisa menebak ending dari kisah ini. Namun ternyata aku salah. 
Tak akan menyesal kamu jika meluangkan waktu membaca novel dengan jumlah halaman 321 ini.
Tetangga Halijah, kerap kali tak pernah memandang keluarga Halijah karena keadaan ekonomi mereka yang sangat minim. Hingga tibalah Supri sering main hingga melamarnya. 
Di kampung Nelayan tempat Halijah dan kedua orangtuanya tinggal, terdapat juga rumah Ibu Jawa. Ibu Jawa dikisahkan di Irian Jaya ini termasuk disegani karena kedudukan suaminya sebagai polisi dengan pangkat tinggi. 
Ceritanya sendiri secara umum menggambarkan kehidupan kampung nelayan dari berbagai tingkatan ekonomi. 
Gara-gara Halijah, aku berlajar untuk menghargai hidup. 
Setiap dialog yang ada memiliki makna yang dalam. Aku suka sekali. 
Kali ini aku tidak akan mengutip dialog tersebut, hampir semua setiap kata dalam novel ini adalah bagian favoritku semua. 
Dan endingnya sangat tidak terduga, terimakasih Mbak Nunuk telah memberikan karya yang sangat apik.
Irian Jaya juga Indonesia, betapa di sana memiliki kehidupan beragam dan kemajemukan yang sangat menyentuh. 

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?