Review Buku Albert Camus: Orang Aneh

Sebagai sastrawan, Albert Camus selalu menghadirkan tulisan yang menggelitik pembacanya. Tokohnya selalu unik. 
The Stranger, yang telah dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Orang Aneh adalah satu di antara beberapa karyanya. 
Dok Pribadi
Novel ini aku beli dengan harga yang lebih rendah dibanding jika di toko buku, waktu itu di bulan Januari, Gramedia Pandaran memiliki even Gramedia Fair 2019. 
Orang Aneh tertera dibandrol Rp 30.000, sedangkan novel fenomenal dikalangan anak Sastra Inggris dan para penikmat sastra yang berjudul Scarlet Letter dibandrol Rp 25.000. 
Bandingkan dengan kamu yang nongkrong di kedai kopi, cost-nya tinggian nongkrongmu bukan? 
Orang Aneh adalah novel yang menyadarkan kita akan situasi-situasi sosial masyarakat yang bisa dirasakan sampai sekarang. Contoh kondisi masyarakat yang ada sekarang yakni lebih pandai menjadi pembicara ataupun penghakiman kurang bijak alih-alih pendengar dan penasihat yang bijak. Itulah yang secara umum digambarkan Albert Camus di novel Orang Aneh. 
Melalui tokoh utama Aku, Mersault seorang yang memiliki rutinitas: kantor - apartemen - bersama kekasih, Albert Camus ini memiliki keunikan sendiri. 
Ia berhasil menggambarkan karakter Mersault sebagai karakter individu yang memiliki kehidupan introvert namun sekaligus ekstrovert di dalam pikirannya sendiri. 
Ada bagian di mana Mersault tidak mengetahui guna keberadaannya saat Raymond dan rekannya bercakap-cakap di bibir pantai. 
Mula-mula Raymond dan Masson bicara tentang berbagai soal dan orang yang tidak  kumengerti. Aku menduga keduanya telah lama berkenalan dan bahkan mungkin telah pernah hidup bersama-sama. [Halaman 72] 
Kisah hidup Mersault berakhir di penjara usai peristiwa: ibunya meninggal di panti jompo, ia menjadi tempat curhat Raymond, Raymon mengajaknya ke pantai hingga peristiwa naas itu terjadi. 
Sosok Mersault rela dihukum mati atas apa yang ia lakukan meski itu bukan mutlak kesalahannya. 
Sifatnya yang kepada beberapa orang introvert membuat hakim dan para juri pada waktu itu menghakiminya dengan tanpa pengampunan. 
Novel dengan jumlah halaman 168 ini rekomen untuk dibaca. 
Adegan di mana ia mengingat Ibunya yang telah tiada di balik jeruji penjara dan ia sesungguhnya meyakini jika Tuhan ada namun hanya dinampakkan dalam frame eksplisit, novel ini wajib kamu baca. 

Comments

Popular posts from this blog

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Terima Kasih Mbak Gojek

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru