Buruh Tani Kol Brebes, Tersenyum Dalam Kesederhanaan

PAGI, sekitar pukul 09.00 WIB hari Minggu 8 April 2018 di perbatasan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes, langit tampak berawan. 
Unitas alam saling melengkapi pagi itu, kicauan burung, gemericik mata air murni dari bukit-bukit, dan tatanan alam yang sangat hijau menjadi teman perjalanan kami saat memasuki kawasan Bojong ke atas. 
Ya, Margaretta Pita dan aku memutuskan pagi itu tak hanya sekedar ongkang-ongkang kaki. 
*Sabtu Malam Sebelum Keberangkatan*
"Aku Minggu libur lho Pita, liputannya. Gabut besok," Sabtu malam kami di Slawi yang penuh kegabutan. 
"Ayok besok ke CFD," celetuk Pita. 
"Halah ntar kalau bangun siang gimana?" balasku.
"Kalau jadi aku ke gereja Sabtu ini," terang Pita. 
Keberangkatan kami untuk CFD di Kota Tegal di hari Minggu diawali dengan drama malam hari: Bisakah kita bangun subuh? 
Niat adalah niat. Pukul 05.30 WIB kami bertolak dari Slawi - Tegal. Jogging. 
Usai itu kami memutuskan untuk ke Bukit Baper di perbatasan Kabupaten Tegal dengan Kabupaten Brebes, tepatnya terletak di Sirampog. 
Akomodasi waktu: 
Jogging di CFD Kota Tegal dari Slawi: 30-45 menit. 
Dok Pribadi/ April 2018
Kota Tegal - Bukit Baper: 60-90 menit. 
Apakah yang kami temukan di sepanjang perjalanan ke perbatasan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes? 
Di Hari Minggu pagi, biasanya orang-orang di Kota metropolis lebih memilih untuk diam di rumah usai bekerja di hari produktif, jalan ke mall, dan lainnya. 
Dari Kota Tegal menuju Bukit Baper ini melewati lahan para petani kentang, bawang merah, dan kol/ kubis. 
Melewati Sirampog hamparan pemandangan hijau pun tampak memanjakan mata. 
Untuk menuju Bukit Baper ternyata tidak mudah, ada jalan menanjak yang belum diaspal. Di sinilah kita bertemu dengan para buruh tani kol. 
Pagi sekali mereka menyiangi lahan milik orang untuk mencari rezeki yang halal. 
"Kami bukan pemilik sawah ini, kami membantu saja menyiangi. Ini milik Pak Haji Iman," tutur Ibu tersebut. 
Ia mengisahkan dari pagi hingga jelang dzuhur mendapat upah Rp 50.000. 
Meski baru kenal, para buruh tani tersebut tersenyum simpul sambil bertanya kami hendak ke mana. 
Manusia dan kesederhanaan itulah hal yang paling tak bisa dilupakan. 
Bentangan lahan kol tersebut cukup luas. Ada dua orang yang menyiangi lahan sawah tersebut pagi itu, di Hari Minggu. 
Jika biasanya di Kota besar pada hari Minggu sibuk dengan acara Car Free Day, di sebuah perbatasan Kabupaten Tegal dan Brebes terdapat potret kecil kehidupan yang jauh dari hiruk-pikuk suara knalpot. 
Udara bersih memenuhi paru-paru, kami melewati sejenak lahan kol tersebut sembari bercakap-cakap dengan para buruh tani. 
Hingga akhirnya kita sampai di Bukit Baper, Sirampog, Brebes. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan