Babak Baru Setelah Tribun Jateng

Diterima baik-baik, keluar juga harus izin dengan baik. Semoga talisilaturahmi ini tidak putus. 
Itulah kalimat yang terngiang di telingaku, ketika aku dan dua rekan di Tribun Jateng memutuskan resign karena diterima di instansi pemerintahan.
Angkatan kami 11 orang, tahun ini 1 orang keterima beasiswa di Asia University Taiwan, 3 orang lolos seleksi nasional aparatur sipil, 1 orang pindah ke grup kompas lain, tinggal berenam. Dan akan selalu berkesan. 
Aku bersyukur diberi kesempatan hidup mengenal kalian. 
Bagaimana pesan-kesan Pimpinan Redaksi, Manager kami, hingga para kawan saat mengetahui kami akan meninggalkan "rumah berkarya" selama lebih dari setahun ini? 
Dok Pribadi/ taken by a friend. Yang fana adalah waktu kenangan abadi.   
Suci Rahayu dan aku memutuskan untuk pamit secara resmi kepada Kantor di 28 Januari 2019. 
Pimpinan  Redaksi Tribun Jateng Cecep Burdansyah, Manager Cetak Iswododo, dan para kawan yang berkarya di Tribun Jateng mengantarkan seuntai pesan-kesan selama kami berkarya di Media yang besar itu, bagian dari Kompas Gramedia Grup pada sore itu. 
Bagiku menjadi Jurnalis di Tribun Jateng adalah tempat yang tepat untuk belajar ilmu kehidupan, terutama saat terjun ke lapangan, melihat peristiwa, mengonfirmasinya, mulai dari masyarakat biasa hingga kepala daerah. 
Aku paling suka menulis feature (aku memiliki modal besar dalam hal ini, di Tribun skill ku tentang feature semakin terasah). Di situ aku bisa mengembangkan perasaan seseorang dalam bentuk tulisan pada peristiwa yang tengah ia alami. 
Tempat kami berkarya ternyata sangat baik sekali, kita harus menguasai tulisan tak hanya yang kita kuasai sebelumnya. Ada hardnews dan soft news. 
Angkatanku bersebelas, kami dibagi menjadi wartawan pada masing-masing job desk. Ada kriminal, peristiwa, ekonomi bisnis, kuliner, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, serta life style. 
Kadang ada orang yang memanggil kita wartawan, jurnalis, dan reporter, itu tidak masalah. Aku lebih suka dilabeli dengan Kingkin Jurnalis kala itu, meski dalam tulisan kami, kita harus menulis dengan awalan: Laporan Wartawan Tribun Jateng. 
Kami juga memiliki kewajiban melaporkan langsung kejadian/ peristiwa penting di halaman official facebook Tribun. Itulah sebabnya kami juga disebut Reporter.  
Seiring berkembangnya zaman, koran cetak sekarang juga diimbangi dengan berita di online. Itulah mengapa kami semua dituntun menulis cepat dengan akurat, jam terbang adalah jawabannya. 
Dulu, aku lebih terbiasa mengetik di laptop, lalu lama-lama mulai terbiasa dengan mengetik di smartphon menggunakan aplikasi microsoft words. 
Sore itu di hari Senin, Suci Rahayu atau yang akrab kami sama dengan Su pamit undur diri dari Tribun bersama aku.
Banyak hal yang akan selalu aku ingat dari sebelas teman seangkatanku ini. 
Mulai awal pertama kali di Tribun Jateng, hingga realita sosial yang ada di lapangan dan lainnya.
Sebagai Manager kami, Mas Aim memiliki peran besar kepada kami, hingga kami memiliki proges cepat beradaptasi dengan lapangan. 
Jujur saja, setiap liputan memiliki nilai kehidupan tersendiri yang bisa dipetik.
To be true, aku heran sama netizen yang dengan mudahnya berkomentar pada sebuah berita. Apa mereka tidak memikirkan banyak sisi yang ada? Eh kok malah ke netizen. Ya itu bagi mereka yang belum tahu.
Perlu kawan ketahui, Wartawan dilarang keras menulis kan selain fakta-fakta yang ada di lapangan, we straight to Kode Etik Jurnalistik. 
Back to Topic, usai pamitan dengan keluarga besar Tribun Jateng kami ucapkan terimakasih sekali telah menerima kami untuk berkarya, menyajikan kisah inspiratif, dan informasi terkini pada semua lini.
Maaf jika aku masih banyak kekurangan. 
Terlebih kepada para teman-sahabat-karib, bersebelas satu angkatan. Terimakasih atas penerimaan kalian kepadaku yang kadang suka mendelet hal-hal usai ngetik wkwk, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. 
Tulisan ini, aku buat sebagai kenang-kenangan kala kita saling berjabat tangan, dan melewati peristiwa bersama-sama. Hubungan persahabatan kita sudah seperti roll coaster belum? ho-ho. 
Mimpi-mimpi kita pasti akan terwujud kawan, tetaplah berkarya di manapun kita berada dengan hati. 
Sore itu, Suci dan aku pamit. Seharusnya ada satu lagi, Dwi. Karena dia masih sakit, ia memutuskan pamitnya beberapa hari lagi. 
Well, silaturahmi kami tidak terputus ya, tetap berkabar.
Kali Pertama di Tribun 
Penugasan awalku saat berkarya di grup Kompas ini yakni di Kota Tegal dan Slawi, aku diberi kandat mengawal berita pemerintah kota dan kabupaten tersebut selama kurang lebih 6 bulan, lalu aku ditarik lagi di Semarang. 
Ada banyak kisah yang melekat. Ada banyak orang yang aku temui di sana dan akhirnya berujung menjadi saudara. 
Terimakasih telah menerima kami berkarya, life must go on. 
Tribun Jateng keep enlightening people. 
Rez, Lit, Su, Li, Jen, Lik, Jje, Lit, Wi, Gum, jaga talisilaturahmi selalu. Aku yakin kalian akan meraih apa-apa saja yang menjadi harapan baik kalian dalam hidup. 
Tetap ramaikan skakikikidipap. 
Salam, Kingkin. 

Comments

Popular posts from this blog

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Terima Kasih Mbak Gojek

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru