Membaca di Rumah Sakit Jiwa Daerah Amino

Jalan depan rumah sakit di Jalan Brigjen Sudiarto Semarang pagi itu terlihat menyisakan tanda langit usai hujan. 
Basah. Lembab. Mendung masih bergelayut. Hujan datang dan berhenti tanpa bisa ditebak-tebak hari itu, 23 Januari 2019. 
Perjalanan hidup setiap orang pasti berbeda-beda. Namun, kali ini aku bertemu sosok yang menginspirasi, nanti kamu akan tahu sendiri. 
Mia (kanan)
Terkadang kita dihadapan pada rupa-rupa pilihan kehidupan. Pilihan kita kelak akan meminta pertanggungjawaban penuh. 
Jika aku biasanya mengetahui rumah sakit jiwa adalah tempanya orang gila, kali ini tidak. Aku bertemu dengan orang-orang dengan passion yang kuat di sini. Para perawat yang merawat saudara kita dengan kejiwaan yang labil dengan hati. 
Kenapa aku sampai di RS Jiwa Daerah Amino Semarang? 
Aku perlu surat keterangan sehat jasmani, rohani, dan Napza di sini untuk pemberkasan CPNS 2018. 
Di waktu tungguku, usai tes kejiwaan, aku bertemu dengan 2 orang yang lolos CPNS di Kementerian Agama, dan 1 Dosen Universitas Swasta Semarang, namanya Mia. 
Dengan Mia aku lebih banyak berbicara. 
Usut punya usut kami saling diam menunggu dipanggil dokter jiwa untuk wawancara lanjutan terkait hasil tes tulis kami. 
Sosok berjilbab di ruang tunggu yang duduk di sampingku tiba-tiba mengeluarkan buku dari tasnya. 
"Baca buku Indonesia Mengajar, Mbak?" tanyaku. (Kupikir itu kisah para PM). 
Kulihat ia membuka buku bersampul biru dengam tulisan traveller. 
"Bukan, ini kisahnya para traveller di pelosok Indonesia," jelasnya. 
Lalu ia mengulurkan tangan. Kami saling berjabat. Ia menyebut namanya, latah, aku pun juga. 
Mia namanya. Ia adalah dosen di satu perguruan tinggi swasta, dosen farmasi. 
Sembari menunggu kami akhirnya saling membaca buku masing-masing dan berkisah.
"Aku dapat beasiswa di Bangkok. Asean Scholarship, dulu aku di Chulalongkorn University," jawab Mia saat aku bertanya tujuannya membuat surat kejiwaan. 
Untuk mendapatkan NIP Dosen ia membutuhkan berkas sehat jasmani, rohani, dan bebas Napza. 
Beruntung, hari ini aku bertemu dengan orang yang memiliki banyak pengalaman. 
"Beasiswa ini mencakup biaya kuliah dan hidup di Bangkok. Asean Scholarship ini beasiswa dari Pemerintah Bangkok untuk putra-putri dari Asia Tenggara. Biaya hidupnya diberi uang saku Rp 7 juta sampai Rp 8 juta perbulan, tapi dirapel langsung 3 bulan," jelasnya. 
Ia menceritakan, di Bangkok membaca di tempat umum sudah tidak asing lagi. 
Aku semakin kagum dengan Mia. 
Kami kemudian masing-masing membaca buku sambil bersenda gurau mengisahkan perjalanan Mia mendapat beasiswa ke Bangkok sebelum akhirnya ia mengajar di Semarang. 
"Aku suka lho sosok seperti kamu Mia, tidak malu membaca di tempat umum dan selalu positif,"
Kami asik membaca hingga masing-masing nama dipanggil. 
Hujan sudah reda berganti gerimis. Aku berharap lain kesempatan bisa bertemu dengan sosok-sosok Mia di tempat lain. 

Comments

Popular posts from this blog

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Terima Kasih Mbak Gojek

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan