Review Novel Semua Ikan di Langit Bareng Radite Canaleta

Hai, selamat menikmati kalimat-kalimatku. Kali ini aku akan mereview novel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Semua Ikan di Langit. 
Ini adalah novel ketiga Ziggy yang aku baca, sebelumnya aku telah menamatkan Di Tanah Lada dan Jakarta Sebelum Pagi. 
Bahasa Ziggy begitu fresh, dan jujur saja ketagihan dengan karya novelnya yang lain. 
Dok Pribadi

Jika Di Tanah Lada menjadi pemenang II pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014, Semua Ikan di Langit karya Ziggy ini menjadi pemenang I di Sayembara Novel DKJ 2016. 
Selamat Ziggy, sangat bermanfaat. Entah kenapa sejak membaca Di Tanah Lada aku sudah menduga jika Ziggy memiliki cara pandang hidup yang dalam dengan kebijaksanaannya. Duile. 
Karyanya matang, mudah dicerna, serius, sedih, tapi juga bikin tertawa. 
Apalagi di Novel Jakarta Sebelum Pagi, banyak sindiran yang tepat sasaran. 
Bagaimana dengan Semua Ikan di Langit? Pertama kali mendengar judulnya jidatku berkerut. Apa ini? Aku buka halaman pertama semakin berkerut? 
Dalam hati aku bertanya, mau sampai kapan aku akan terseret pada pembuka Ikan Julung-julung di angkasa dan sosok "saya".
Hingga akhirnya aku menemukan kalimat ini: 
Kedengarannya sinting, manusia menonton kecoa betina melahirkan setelah menculik dan menyekapnya dan mengirimnya pergi jauh di dalam ruang penyiksaan ke luar angkasa. (Halaman 27) 
Dari situ Ziggy telah berhasil membuatku sebagai penumpang bus lain di bus. Entah sebagai Nad atau pun penumpang lain dengan berbagai karakter. 
Kali ini direview ini aku juga akan menarik pembaca Ziggy untuk ikut  berdiskusi. 
Siapa dia? Yaw dia adalah lulusan Sastra Jepang, Radite Canaleta. Aku memanggilnya Dite. 
Sampai di halaman 58 novel ini masih memiliki rasa penasaran melalui tokoh-tokoh yang di hadirkan. 
Saya. Beliau. Ikan julung-julung. Nad. Dan  beberapa tokoh yang membuat perjalanan ini semakin menarik saat "saya" bersama rombongan bertemu dengan beberapa orang. 
Saat tokoh Saya berhenti ia bisa mendengar keluh kesah bahkan kisah seorang yang menapakkan kakinya dalam "tubuh Saya". 
Berbeda dengan beliau, tokoh Beliau sangat misterius. Akan membawa pembaca menebak-nebak. Uniknya, Saya di dalam cerita Semua Ikan di Langit melihat Beliau marah, bahagia, dan sedih di beberapa kesempatan saat tertentu ketika mengunjungi Bumi. 
Setiap pembaca memiliki interpretasinya sendiri. Aku juga memiliki seorang teman yang menyukai karya-karya Ziggy, Dite namanya, Radite Canaleta. 
Berikut ini sekilas percakapan ku dengan seorang teman, Dite, yang seorang kutu buku (tidak karbitan): 
1. Bagaimana kisah Semua Ikan di Langit dari sudut pandangmu? 
"Aku suka bangettt loh yang Jakarta Sebelum Pagi. Kalo yang  ini tuh (Semua Ikan di Langit) bahasanya gampang tapi entah kenapa kayak aku ga paham ceritanya ahaha," 
2. Menurutmu sebenarnya siapa itu Beliau? 
"Apa ya, kadang kayak aku bayanginnya, apa malaikat pencabut nyawa gitu," Dite ternyum manis sembari melakukan diskusi ini. 
3. Kamu gak punya ilustrasi jika Beliau itu Sang Penguasa Alam? 
"Nah iya, kan pokoknya antara dua itu tapi aku lebih mikir banget ke malaikat gitu karena menjemput, nganter orang," 
Ziggy membuat karakter yang membebaskan pembaca melalui Beliau, Saya, Nad, dan Ikan Julung-julung. Keempat tokoh itu memiliki peran penting dalam memandang kehidupan. 
Beberapa di antaranya yakni ketika ada seorang anak kecil yang baru dipukuli, membuat Nad (Kecoa kelahiran Rusia marah, sedih, geram, namun tidak bisa apa-apa). 
Di lain sisi ikan julung-julung juga memberikan tanda ketika ada ketidak adilan di muka bumi. 
Hal ini memberikan bukti jika Ziggy berhasil membiarkan pembaca menilai sendiri bagaimana kehidupan di Bumi terjadi, mengenai sikap-sikap para manusia dan  tentang ketidakadilan yang ada di bumi. 
Mengutip halaman 75: tokoh Saya (bus, alat kendara luar angkasa); 
Saya belum pernah melihat ini sebelumnya: muntah bintik hitam. Ini berbeda dengan apa yang terjadi ketika Beliau yang bersedih. 
Itulah cuplikan kegetiran melihat ketidakadilan di Bumi. Di halaman 76, menuntaskan rasa penasaran sedikit, Beliau seperti terkaan Dite, ia adalah Malaikat. Entah Malaikat pencabut nyawa, pencatat amal, atau yang lain. 
Mereka membawa kita seolah-olah bisa melihat kisah setiap orang yang "dijemput" oleh Ziggy.
Alur. Pesan. Seting. Bagus sekali. 
Sekali lagi, novel ini sangat pas untuk dibaca. 
Semarang, 29/12/2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan