Review Buku Fahrenheit 451, Ray Bradbury


Bagi penikmat buku membaca membuka cakrawala seluas-luasnya. Bahkan dengan membaca seolah-olah mereka masuk ke dalam pikiran penulis dan bisa merasakan emosi yang ditawarkan. 

Ray Bradbury, membalut kisa seorang pemadam kebakaran dalam intimasi dengan buku yang amat erat. 
Penulis berkebangsaan Amerika Serikat yang telah mangkat pada 5 Juni 2012 ini membuat saya teringat akan buku-buku di Indonesia pada masa Orde Baru yang tidak boleh beredar. Buku tersebut dilenyapkan, tak boleh seorangpun membaca. Termasuk sajak-sajak kritis para penyair yang kala itu dianggap komunis. 
Apa salah dalam isi buku tersebut? 
Apakah pemerintah pada masa itu anti kritik? 
Mengkritik dengan cara yang benar sebenarnya membantu pemerintah menyelesaikan masalah, setidaknya ingin maju bersama dan memperbaiki keadaan yang lebih baik lagi daripada yang lampau.
Ray mengisahkan tentang pekerjaan Guy Montag yang berkaitan erat dengan pembakaran buku. 
Ada alat yang digunakan sebagai mata-mata, mulai dari anjing yang seolah-olah dilatih mengendus aroma buku. 
Kehidupan percintaan Montagpun sangat pelik. 
Well, buku ini endingnya membuat para pembacanya berpikir lebih mengenai kebebasan menjadi pembaca. 
Apa salah orang yang mengutip buku itu saat mengobrol di kedai kopi terbuka? 
Skala 1-5 saya beri skala 4, pas dibaca kala ingin merenungkan hidup. 
Semarang, 25/12/2018 

Comments

Popular posts from this blog

Review Buku Lelaki yang Membunuh Kenangan: Cinta dan Luka

Review Novel Perempuan Bersampur Merah: Apakah Kamu Ingat Pembantaian Banyuwangi 1998?

Review Novel Gadis Pesisir: Rahasia Mata seorang Gadis yang Kelaparan