Reuni Bersama R.L Stine di Serial Goosebumps

Edisi Tetangga Hantu 
Dulu waktu Sekolah Menengah Pertama, aku sering meminjam buku R.L Stine di perpustakaan. Serial demi serial menemani hari-hari liburku. 
Kejutan demi kejutan yang R.L Stine hadirkan sangat nyata, aku kembali menikmatinya saat memutuskan membeli satu di antara serial Goosebumps berjudul Tetangga Hantu di Gramedia Balaikota Semarang Jalan Pemuda, hari ini.

Dok Pribadi

Novel misteri dengan tebal 153 ini mengajak pikiran relax sekaligus berkelana. Mencekam namun tidak seperti kebanyakan pada novel-novel misteri lainnya. Novel ini menghadirkan teka-teki tanpa usur kriminalitas.
Novel Goosebumps yang paling berkesan yakni tentang teka-teki halaman (aku lupa judulnya).
Di Tetangga Hantu, R.L Stine menghadirkan tokoh Hannah Fildchild sebagai tokoh utama. 
Awalnya, ia merasa bosan dengan musim panasnya. 
Dari pengamatanku, prolog R.L Stine sering menginspirasi para pembuat film supaya setiap alur selalu mengandung rasa penasaran, misterius, namun masuk akal. 
Hannah merasa bosan saat dia liburan musim panas tapi tidak ke mana-mana. Hingga akhirnya ia berkenalan dengan Danny Anderson, tetangga barunya. 
Saat Hannah bertanya kepada orangtuanya, tak seorang pun melihat keluarga Danny pindah di rumah sebalah Hanna yang kosong itu. 
Endingnya sangat tidak terduga. 
Hanna mengira jika Danny dan keluarganya adalah hantu. 
Seperti tukilan percakapan Hannah dan Danny di halaman 137 berikut: 
Ia berbaling terlentang, wajahnya tampak bingung. 
"Hannah," bisiknya serak. "Hannah, terima kasih." 
Hannah tersenyum. 
Segalanya menjadi terang, terang seperti dinding api. 
Lalu gelap. 
R.L Stine berhasil membuat ku selalu berdegup-degup memberikan kejutan di setiap halaman. 
Alurnya cepat dan rapat. 
Masih seperti dulu. 
Bahkan meski mesteri dan horor di beberapa bagian aku sempat tertawa. 
Novel horor yang renyah, wajib di baca. 
Uniknya, setiap ending cerita ada cuplikan serial Goosebumps selanjutnya. Berbeda karakter, tokoh, dan alur, serta sensi deg-degan yang misterius. 
Sekali duduk, sekitar 2-3 jam selesai membaca novel karya Stine. Ia mengingatkanku akan tahun 2000-an awal ketika aku mulai membaca karyanya.
Di perpustakaan SD dan SMP ku sampai warna kertasnya berbuah coklat, dulu. Inilah kenangan yang paling abadi, karya-karya pada seorang penulis dalam buku. 
Kali ini, Gramedia mencetak ulang karya-karya R.L Stine dengan kover yang menarik. 
Bacaan yang renyah. 
Semarang, 28 November 2018

                                                    Comments

                                                    Popular posts from this blog

                                                    Terima Kasih Mbak Gojek

                                                    Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

                                                    Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru