Bersua Suara Kesunyian

 
*cerpen ini ditulis untuk mengabadikan percakapan dengan seorang karib pada sekitar akhir Bulan Oktober 
Malam beranjak larut. Musik di kedai kopi masih terdengar, dari volumenya belum menunjukkan tanda-tanda akan diberhentikan. 
Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB. 
Dalam kesunyian, mereka mendengarkan kehidupan. 
Usai Percakapan saat langit menggelap, masing-masing di antara mereka berada di bawah langit biru/ dok pribadi

"Apa kamu sudah paham dengan politik kehidupan?" lelaki itu menyulut rokok keduanya. 
Ruangan kedai kopi ini memiliki jendela yang lebar. Membuat pengunjung bebas memantik rokok tak perlu risau asapnya akan melambung berputar-putar di depan wajah lelaki itu ataupun lawan bicaranya. 
"Maaf ya, aku merokok," izin lelaki itu. 
Perempuan di hadapannya mengangguk belum menjawab pertanyaan tentang politik kehidupan. 
Dalam keheningan, kehidupan yang ramai bisa di dengar. Mana suara-suara yang patut didengarkan, mana suara-suara yang penuh penghakiman. 
"Apa semua kehidupan memiliki politik kehidupan?" tidak menjawab perempuan itu balik bertanya. 
Sambil menghisap rokok, lelaki tersebut mengeluarkan sebatang coklat. 
"Ya beginilah hidup. Selalu begini, nikmati saja, aku yakin dunia dalam sehari tidak bisa digenggam," jawab perempuan itu. 
Lelaki di hadapannya mengisahkan cerita-cerita yang sering ia alami. 
Tak pernah ia reaktif terhadap sesuatu, namun ia sering mengamati dan menganalisa. 
"Tahukah? Kemarin ada seorang perempuan mengaku diculik, eh dia ngaku kehilangan uang. Itu logis tidak? Kendaraannya masih lho,"kenang lelaki itu. 
"Apa kamu melihat bagaimana mimiknya?" 
"Rambutnya acak-acakan," 
"Wah, apa mungkin dia diculik mantannya?"
Lelaki tersebut menahan tanya mengedikkan bahu. 
"Sudah baca koran terbaru?" 
"Tahu tidak, suatu kali aku benar-benar nyata membaca setiap kata dalam kalimat berita itu," lelaki itu menghembuskan nafas. 
"Koran yang seminggu kamu berikan kepadaku?" 
"Iya benar, ceritanya sudah tak sama lagi sekarang....." lelaki tersebut enggan meneruskan kalimatnya. 
Perempuan di hadapannya kembali mengingat judul apa yang ia baca di koran itu. 
Alunan suara Adam Levine menyanyikan Girls Like You terdengar seantro ruangan. Usai itu, suara Cris Martin melantunkan Something Just Like This. 
"Ini maksudmu? Alangkah Lucunya Bangunan Ini di Gerogoti Kanker,"
"Kanker itu penyakit. Bisa menggerogoti kewarasan," 
Perempuan itu berkerut, mengingat-mengingat apa maksud kanker ini. 
Ajaib, berita yang ia baca beberapa bulan lalu telah berganti gara-gara sebuah penyakit.
Hening menyeruak. 
Dalam kesunyian, manusia bisa mendengarkan hati masing-masing.
Dalam keramaian, kesunyian adalau kunci mendengarkan suara-suara lain yang tidak kasat mata. 
"Hahaha, kita tidak bisa menggenggam peristiwa dalam satu genggaman dalam sehari," 
Apa yang kamu cari dalam hidup? Apakah kamu bahagia? 
Jika aku berada di antara mereka malam itu, aku dengan senang hati menjawab kehidupan memang tidak bisa digenggam. Fokus. Doakan yang dikerjakan.
Suara-suara itu terus tumbuh, berpositif dalam keheningan. 
Bernegatif dalam hingar-bingar melupakan kebenaran dari makna asli kehidupan.
"Apa esok ada kisah yang akan berganti lagi?"
Perempuan itu mengisahkan kembali tentang denting-denting garpu yang bersahutan, beberapa jam sebelum pertemuannya dengan karibnya. 
"Mereka membicarakan tentang keberlangsungan yang dipras-preskan," 
Pekat malam semakin menjadi, aroma hujan bercampur aspal yang terkena terik matahari seharian menyembul di antara keduanya. 
Melebur. Bersua. Berhening cipta. 
Sudah lama aku tidak menyaksikan pemandangan ini. 
Dua orang berbicara, bersua suara menanyakan kabar keramaian dalam kesunyian.
Ada kesunyian di antara mereka berdua, yakni jawaban-jawaban yang tak kasat mata.
Semarang, 3/11/2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru