Posts

Showing posts from November, 2018

Hijau Kehidupan

Image
PENGGANTI aroma buku, adalah pemandangan yang hijau.  Aku pernah bermimpi kembali merasakan kedamaian, benar-benar menggunakan 2% persen kehidupan.
Dok Pribadi/ kingkin
Sadar bernafas, sadar melihat warna hijau di hadapan, sadar bersinggungan dengan angin sepoi, sadar mendengarkan kicauan burung dari balik pintu kaca dengan duduk santai memegang buku Ernes Hemingway. Impianku tercapai, menggunakan 2% kehidupan untuk fokus masih diberi jantung yang berdetak normal menghirup oksigen bersih tanpa kegaduhan sore ini.  Hidup selalu memiliki caranya sendiri memperlihatkan berbagai sisi kehidupan.  Menjadikanku semakin mengagumi tetes hujan yang jatuh tepat pada daun bambu yang ada di mataku sore ini.  Hal ini membuatku sadar, orang-orang boleh mengomentari pilihan hidup kita tanpa mengetahui "diri kita" meski itu keliru.  Warna hijau di sini melemparkanku pada memori yang melompat-lompat. Antara buku dan meninggalkan sebongkah sayang yang berganti memaafkan.  Bandungan, 8/11/2018.…

Review Buku Like Water for Chocholate

Image
JIKA Pram bilang menulislah jika tidak ingin tenggelam dalam peradaban, maka Laura Esquile menghadirkan tokoh novel yang akan mengajari keabadian melalui resep makanan yang digunakan turun-temurun. Laura Esquile menghadirkan romansa khas Amerika Latin. Bumbu cinta dan deskripsi yang pas. Ditambah dengan penggerak resep makanan.

Novel dengan judul Like Water for Chocholate ini memiliki alur yang sangat tidak bisa diduga.  Menghadirkan sosok Mama Elena yang memiliki rahasia cinta sendiri. Hingga ia memiliki tradisi anak perempuan terakhir tidak boleh menikah.  Tita adalah sosok itu. Ia wajib mengurusnya hingga ia tua dan mati.  Di tengah dan ending baru ada penegas asal-usul yang menyayat pembaca kenapa sampai ada tradisisi tersebut? Tradisi ini bahkan menurun ke generasi ketiganya, Ezperansa. Namun, Tita telah merubah segala-galanya. Awal novel ini mengisahkan ketika Tita mengungkapkan akan ada seorang lelaki yang mencintainya akan datang melamar. Pedro namanya.  Justru Mama Elena mala…

Bersua Suara Kesunyian

Image
*cerpen ini ditulis untuk mengabadikan percakapan dengan seorang karib pada sekitar akhir Bulan Oktober  Malam beranjak larut. Musik di kedai kopi masih terdengar, dari volumenya belum menunjukkan tanda-tanda akan diberhentikan.  Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB.  Dalam kesunyian, mereka mendengarkan kehidupan. 
"Apa kamu sudah paham dengan politik kehidupan?" lelaki itu menyulut rokok keduanya.  Ruangan kedai kopi ini memiliki jendela yang lebar. Membuat pengunjung bebas memantik rokok tak perlu risau asapnya akan melambung berputar-putar di depan wajah lelaki itu ataupun lawan bicaranya.  "Maaf ya, aku merokok," izin lelaki itu.  Perempuan di hadapannya mengangguk belum menjawab pertanyaan tentang politik kehidupan.  Dalam keheningan, kehidupan yang ramai bisa di dengar. Mana suara-suara yang patut didengarkan, mana suara-suara yang penuh penghakiman.  "Apa semua kehidupan memiliki politik kehidupan?" tidak menjawab perempuan itu balik bertanya.  Samb…