Percakapan Hidup dengan Okky Madasari

Ia mengenakan kaus berwarna cerah, kuning di tengah sinar matahari siang yang menjelang sore. 
2018, di Sam Poo Kong
Mengenakan turban (hem, aku suka menyebutkan kupluk) di antara para pengunjung Klenteng Sam Poo Kong, tak perlu aku memastikan berulangkali jika  dia adalah Okky Puspa Madasari. 
Kami telah berkomunikasi jauh hari untuk bertemu, di sinilah aku kembali bisa berdiskusi tentang kehidupan. 
Terkahir kali aku bertemu dengan penulis Pasung Jiwa ini pada acara yang Mbak Okky gagas yaitu Asean Literary Festival 2017 di Kota Tua Jakarta. 
Pertemuan Pertama dengan Mbak Okky di Yogyakarta, 2016
Sebagai pembaca novel-novelnya, aku merekomendasikan tulisa Okky untuk dibaca, jika kamu ingin melihat sisi hidup dari sisi yang berbeda. 
Kabar dan beberapa remah-remah kehidupan kami ceritakan pada rentang jeda hidup, kami tidak bertemu dalam satu tahun terkahir. 
"Dulu kamu 2017 belum di Tribun kan Kin?" tanyanya. Kami duduk pada bayang-bayang sejarah Ceng Ho membicarakan update masing-masing diri. 
Terkahir Mbak Okky berkabar, ia sedang mengikuti fellowship di NUS, Singapura.
Aku lihat melalui media sosialnya akhir-akhir ini berjalan-jalan di berbagai daerah di Indonesia. 
Percapakan intim: 2017, di Asean Literary Festival Kota Tua Jakarta
Hingga suatu kali inbox media sosialku bergema darinya. Biasanya, aku yang selalu menanyakan kabarnya saat-saat aku galau tentang kehidupan "politik" jurnalis. 
Ia bertanya, apakah kali ini aku berdomisili di Semarang? Lalu mbak Okky memiliki ide untuk mebuat forum diskusi tentang literasi, alih-alih ia melakukan traveling. 
Diskusi untuk mewujudkan forum inipun berlanjut ke japri nomor pribadi. 
Wah, aku senang melihat semangat Mbak Okky terus menulis di jalannya. 
Pada forum yang cukup personal, Okky Madasari sempat membocorkan kebebasan menulis tanpa "beban" ketika itu terjadi saat masih belum memutuskan menulis sebagai jalan hidupnya.
Fakta yang disampaikan melalui cerita, pesannya lebih sampai kepada para pembaca. Ada quote menarik pada waktu itu, menulis dan membaca merupakan kegiatan politik yang bisa dilakukan siapa saja. 
Sederhana bukan? Namun dari sana tumbuh pertanyaan-pertanyaan aktual tentang kehidupan. Bahkan sikap kritis tentang pemikiran pada umumnya lebih terasah. 
Banyak hal yang membuatku membuka mata, terutama saat membaca tulisan-tulisan Mbak Okky Madasari, Pasung Jiwa, Entrok, dan Maryam.
Diskusi pertamakali Okky Madasari di Kota Semarang, 3/10/2018 
Ia pun tak menutup pintu-pintu diskusi.
Di Sam Poo Kong di Bulan Oktober, menjadi saksi beberapa percakapan yang tak akan pernah aku lupakan. 
Tujuan-tujuan hidup lebih baik selalu memotivasi diri menjadikan panggilan jiwa Mbak Okky terus menemukan jalan baru. 
Mbak Okky mengisahkan tentang keinginannya memfokuskan diri menimba ilmu lagi di samping menulis. 
Aku bisa menyimpulkan, cita-cita tak menghitung usia. Dari percakapan ini bisa menjadi contoh kecil sudut pandang.
Orang pada umumnya akan skeptis tentang seorang ibu yang telah memiliki anak meneruskan sekolah lagi dan terus tetap menulis, nyatanya Mbak Okky Madasari bisa melakukan itu. 
Saat fellowship di Singapura, Mbak Okky pun mengajak Raya, putri pertamanya yang masih balita. Tidak ada masalah. Ini yang aku bisa contohkan tentang sekelumit remah-remah kehidupan mengenai sudut pandang. 
"Jadi penulis itu harus kaya sudut pandang. Bertanya, kritis. Tidak semua hal yang umum itu sudah tentu benar," jelas Mbak Okky. 
Sore itu, Mbak Okky memberikan banyak gambaran tentang hidup, termasuk menyemangatiku untuk menjadikan ini sebagai titik, titik untuk menyambungkan titik-titik lain, pada tempat-tempat di mana jiwaku terpanggil dan Sang Pencipta memberikan keberkahan hingga terbentuklah garis hidup. 
Sore itu aku tak akan lupa, hangatnya pasangan Mbak Okky, bebasnya Raya dalam menangkap tanda-tanda hidup. 
Kesederhanaan yang tak bisa diganti dengan materi. Terima kasih mbak okky. 
Semarang di Bulan Oktober 2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru