Melihat Manusia Bekerja

Sore ini di tengah hiruk-pikuk.
Ketiga manusia ini duduk, bernafas, bersantai,  menikmati hidup. Apa yang kamu kejar?
Para pramusaji tak ada yang duduk santai, mereka mempersiapkan makanan fast food yang kami inginkan. Mempersiapkan makanan yang orang lain mau. 
Lalu apa daya kami dalam hidup? 
Jika mereka menyiapkan makanan untuk mencukupi hidup. 

Hidup kami adalah persoalan jual-beli cerita untuk pembaca. 
Apakah effort-nya adil? 
Melihat kisah Budha dan ajarannya, orang yang berhasil pada tulisan yang dalam adalah orang yang fokus pada satu hal. 
Romo Warto, hari ini memberikankanku banyak pelajaran.
Secara pribadi, ini adalah makna menulis dalam hidupku. Aku bisa memahami jika kedua orang sahabat di depanku sore itu, memiliki pemaknaan sendiri, karena tugas kami berbeda, tentu mereka memiliki pengalaman menarik yang tak akan pernah terbeli. Bahkan tak akan terbeli oleh gaji kami, yakni makna hidup dan lain-lainnya. 
Namun, setelah bercakap dengan Romo Warto dan Ibu, aku pikir benar juga pendapat Ibu dan Romo Warto.
Tulisan dalam dan bermakna tak akan lahir dari sebuah hal-hal yang tergesa-gesa. 
Dari satu tempat ke tempat lain, berbicara dengan banyak orang, mengumpulkan data sebanyak-banyaknya tanpa menaruh ruh bisa kami lakukan. 
Namun, tulisanku akan menjadi sebatas tulisan. Mentah termakan waktu karena memiliki keterbatasan, aku terbatas pada tuntuntan pemenuhan. Bukan seberapa bermaknanya sebuah hal. 
Kenapa aku bisa menyimpulkan demikian? 24 jam sehari adalah daya yang sama, yang diberikan Tuhan. 
Aku berpendapat tidak mungkin sehari 10 tulisan jika harus bertolak ke beberapa tempat. Insane. Aku manusia. Kecuali jika fokus kepada satu subjek, mininal satu pokok bahasan yang linier. 
Jika tulang-tulangku terasa berontak atas aktivitasku, aku cukup menghela nafas melupakan hal-hal yang tidak terkatakan. 
Kerinduan menulis dengan hati tanpa dianulir oleh uang-uang yang memiliki kepentingan terhadap diri mereka sendiri adalah sebuah penghiburan yang mahal. 
Kali ini, ini adalah titik di mana aku melihat hal itu bekerja. Bukan sekali dua kali aku mengalaminya. 
Jiwaku terlalu mahal menjual kebagiaan dalam kebebasan menulis.
Setidaknya tulisanku tak memiliki nyawa, namun bermakna bagi mereka yang menginginkan-nya, ya mereka adalah pembaca namun pembaca yang juga memiliki cara mengatur apa-apa saja yang harus di-framekan. 
Alias pembaca, narasumber, sekaligus yang berkuasa terhadap media. 
Apakah mereka keliru? Tentu tidak karena mereka memiliki kepentingan politik untuk mereka sendiri seperti, mengenalkan hal-hal baru kepada masyarakat ataupun hal yang lainnya. 
Semoga Tuhan menunjukkan keadilan dalam bentuk lain. Kembali mengingat nasihat Romo dan Ibu pada kesempatan yang berbeda. 
"Jika kebaikan yang kamu sebar, rezeki akan datang dengan sendirinya," 
"Jika hal-hal buruk yang kamu lakukan, secara tidak sadar rezeki baik telah berbalik," 
Romo dan Ibu tak  pernah mengajarkan ilmu tentang bagaimana orang lain berbuat demikian? 
Mereka hanya mengajarkan fokus diri dalam kebaikan-kebaikan yang mungkin tak sepenuhnya dianggap baik oleh politik kehidupan. 
Dalam diam, Semarang (20/10/2018). 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru