A.A Navis dan Pergulatan Hidup di Musim Kemarau

A.A Navis membuatku teringat cerita pendek Robohnya Saurau Kami. Flashback 1998, kali pertama aku membacanya di Buku Pintar Berbahasa Indonesia, 20 tahun lalu. 
Dok Pribadi
Ada tokoh Ajo Sidi yang memberitahu Kakek Garin mengenai pentingnya membantu sesama dalam sindirannya. 
Kakek Garin pada masa itu menghabiskan 24 jam hanya untuk ibadah.
Ia tak peduli dengan tetangganya yang kelaparan ataupun kesusahan. Yang ia pikirkan hanyalah ibadah. 
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri saat Ajo Sidi membeberkan fakta-fakta kehidupan.
Beberapa waktu lalu, di tanggal 20 Oktober, tanpa sengaja aku berkelana di Gramedia Jalan Pemuda Semarang, kudapati Novel A.A Navis dengan judul Kemarau.
Seperti apa cerita novel yang ditulis olehnya kali ini? 
Tentu aku mendapat potongan harga 20% dengan menunjukkan "tanda pengenal".
Novel yang diterbitkan oleh Grasindo ini memiliki jumlah halaman 162. Novel ini resmi bisa dibaca oleh publik pada tahun 1967. 
Ketika saya membaca halaman pertama novel Kemarau ini kudapati Sapardi Djoko Damono memberikan pengantar dengan meningat kembali cara A.A Navis melakukan sindiran dan kritikan pada cerita pendek Robohnya Surau Kami. 
Aku selama membaca Novel ini terhanyut dengan tokoh-tokoh yang dihadirkan. Beberapa di antara mereka bahkan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari. 
Kegeraman sempat aku alami saat melihat Saniah semena-mena melontarkan hal-hal yang merugikan orang lain untuk membuatnya seolah-olah menjadi pihak yang terdzolimi. 
Namun, pada akhirnya semua orang paham bagaimana watak Saniah, janda yang culas dan suka mengguncingkan orang lain, meski sebenarnya orang yang digunjingkan berperingai baik. 
Terbit 2018 oleh Grasindo, Kemarau menghadirkan kembali sastra era A.A Navis. Sindiran tentang kehidupan terasa di bagian pertama hingga akhir bab. Terlebih saat Sutan Duano memiliki pemikiran yang bagus hingga masa kelam yang suram. Percerian-percerian hingga akhirnya ia bertaubat.
Sutan Duano berhasil memberi rasa percaya masyarakat. 
Seperti, yang benar-benar harus mendapatkan zakat adalah orang yang tidak mampu. Bancaan adalah kemubadziran lebih baik untuk makan bersama anak yatim. 
Hal-hal tersebut merupakan ciri khas A.A Navis. 
Sindiran-sindiran halus untuk kehidupan. 
Gudam, Acin, Saniah, dan Sutan Duano membuatku tertawa sekaligus bersedih bersamaan. Betapa benarnya watak mereka. Seperti Gudam, merupakan sosok janda yang sering ditemukan dipedesaan, pemalu, ingin bersuami namun tak punya daya untuk mengutarakan. 
"Siapa yang menyiksa hatimu?" 
"Kalau Guru kawin dengan si Gudam."
"Siapa bilang aku kawin dengannya?" 
"Tindak tanduk Guru mengatakannya. Guru menyiramkan sawah si Gudam. Guru mati-matian mengurus pengobatan Acin. Guru beri si Gudam uang seribu rupiah untuk ongkosnya ke Bukittinggi. Guru kira sedikitkah uang itu? Buat apa semuanya itu? Kalau tidak karena Guru mencintai si Gudam?" 
Cuplikan percakapan Saniah dengan Duano membuatku sempat tertawa. 
Kenapa jika Duano menyukai Gudam? 
Cerita ini sangat rekomen untuk dibaca, terlebih dengan latar di Sumatera Barat menjadikan buku ini bisa menuntun pembaca menggambarkan suasana Sumbar di musim kemarau. 
Pada saatnya pembaca akan tertawa di bagian tertentu melihat agama dan budaya beriringan dalam hidup di Sumbar. 
Semarang, 28/10/2018 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru