Posts

Showing posts from October, 2018

A.A Navis dan Pergulatan Hidup di Musim Kemarau

Image
A.A Navis membuatku teringat cerita pendek Robohnya Saurau Kami. Flashback 1998, kali pertama aku membacanya di Buku Pintar Berbahasa Indonesia, 20 tahun lalu.  Ada tokoh Ajo Sidi yang memberitahu Kakek Garin mengenai pentingnya membantu sesama dalam sindirannya.  Kakek Garin pada masa itu menghabiskan 24 jam hanya untuk ibadah. Ia tak peduli dengan tetangganya yang kelaparan ataupun kesusahan. Yang ia pikirkan hanyalah ibadah.  Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri saat Ajo Sidi membeberkan fakta-fakta kehidupan. Beberapa waktu lalu, di tanggal 20 Oktober, tanpa sengaja aku berkelana di Gramedia Jalan Pemuda Semarang, kudapati Novel A.A Navis dengan judul Kemarau. Seperti apa cerita novel yang ditulis olehnya kali ini?  Tentu aku mendapat potongan harga 20% dengan menunjukkan "tanda pengenal". Novel yang diterbitkan oleh Grasindo ini memiliki jumlah halaman 162. Novel ini resmi bisa dibaca oleh publik pada tahun 1967.  Ketika saya membaca halaman pertama novel Kem…

Melihat Manusia Bekerja

Sore ini di tengah hiruk-pikuk. Ketiga manusia ini duduk, bernafas, bersantai,  menikmati hidup. Apa yang kamu kejar? Para pramusaji tak ada yang duduk santai, mereka mempersiapkan makanan fast food yang kami inginkan. Mempersiapkan makanan yang orang lain mau.  Lalu apa daya kami dalam hidup?  Jika mereka menyiapkan makanan untuk mencukupi hidup. 
Hidup kami adalah persoalan jual-beli cerita untuk pembaca.  Apakah effort-nya adil?  Melihat kisah Budha dan ajarannya, orang yang berhasil pada tulisan yang dalam adalah orang yang fokus pada satu hal.  Romo Warto, hari ini memberikankanku banyak pelajaran. Secara pribadi, ini adalah makna menulis dalam hidupku. Aku bisa memahami jika kedua orang sahabat di depanku sore itu, memiliki pemaknaan sendiri, karena tugas kami berbeda, tentu mereka memiliki pengalaman menarik yang tak akan pernah terbeli. Bahkan tak akan terbeli oleh gaji kami, yakni makna hidup dan lain-lainnya.  Namun, setelah bercakap dengan Romo Warto dan Ibu, aku pikir ben…

Percakapan Hidup dengan Okky Madasari

Image
Ia mengenakan kaus berwarna cerah, kuning di tengah sinar matahari siang yang menjelang sore.  Mengenakan turban (hem, aku suka menyebutkan kupluk) di antara para pengunjung Klenteng Sam Poo Kong, tak perlu aku memastikan berulangkali jika  dia adalah Okky Puspa Madasari.  Kami telah berkomunikasi jauh hari untuk bertemu, di sinilah aku kembali bisa berdiskusi tentang kehidupan.  Terkahir kali aku bertemu dengan penulis Pasung Jiwa ini pada acara yang Mbak Okky gagas yaitu Asean Literary Festival 2017 di Kota Tua Jakarta.  Sebagai pembaca novel-novelnya, aku merekomendasikan tulisa Okky untuk dibaca, jika kamu ingin melihat sisi hidup dari sisi yang berbeda.  Kabar dan beberapa remah-remah kehidupan kami ceritakan pada rentang jeda hidup, kami tidak bertemu dalam satu tahun terkahir.  "Dulu kamu 2017 belum di Tribun kan Kin?" tanyanya. Kami duduk pada bayang-bayang sejarah Ceng Ho membicarakan update masing-masing diri.  Terkahir Mbak Okky berkabar, ia sedang mengikuti fell…