Review Wesel Pos: Ketimpangan Sosial di Jakarta

Novel Wesel Pos tulisan Ratih Kumala ini menjadi pengingat pembacanya mengenai hidup, aku menjadi bagian dari salah satu pembaca itu.
Dok Pribadi/ Kingkin

Novel yang tebalnya 100 halaman ini sangat harum. Karena aku suka membaui aroma kertas buku, sebelum membaca di tanggal 1/9/2018, aku telah tamat terlebih dahulu mengendusnya. 
Sarat makna namun bisa dibaca sekali duduk, ya itulah Wesel Pos. 
Mengisahkan seorang perempuan yang mencari kakaknya di Jakarta menjadi inti penting novel ini.
Perempuan bernama Elisa. Kala di Jakarta, kakak Elisa selalu mengirimi uang dengan wesel pos. Kisah inilah yang menggerakkan tumpang tindihnya dualisme yang kental, antara kuno-modern, ekonomi kurang beruntung - kaya, kurir narkoba - pejabat, hingga keadilan-keadilan kecil yang ditampilkan Ratih Kumala dengan sarat makna. 
Seperti pada halaman 13. 
"Kalau saya lihat orangnya, saya ingat kok, Pak," 
"Ya kalau barang kamu masih ada. Kalo baju-baju kamu udah diloakin, kamu mau apa? Kriminal receh gini, susah diproses. Udah ikhlasin aja," katanya enteng. 
Kejadian tersebut bermula saat Erlina baru tiba di Jakarta menggunakan Bus. Karena ingin pipis, Erlina memutuskan mencari toilet. Ia menitipkan tasnya kepada pedagang gendongan yang menasihatinya untuk hati-hati.
Tak dinyana, justru pedagang tersebut malah mengambil lari tasnya saat Erlina ke Kamar Mandi. 
Saat melapor ke polisi, Erlina pun tak bisa mendapatkan tasnya kembali. Ia diberi surat tanda kehilangan untuk mengurusi ktp dan ijazahnya. 
Inilah potret ironi yang terjadi, pencuri tersebut juga orang susah, pun Erlina. Lalu bagaimana solusinya?
Ketimpangan sosial ini, antara kebutuhan dan pemasukan masih terjadi, tak hanya di Jakarta tapi di Kota-kota lainnya, sampai-sampai tokoh pedagang tersebut berani mengambil tas Erlina. Padahal Erlinapun juga sedang dirundung duka. 
Aku rasa, banyak sosok erlina lain dan kakak erlina lainnya. Mereka menjelma pada dunia nyata menghadapi kerasnya kehidupan. 
Kenyataan yang diterima Erlina sangatlah tidak mudah, terlebih jika ia mengetahui apa sebenarnya pekerjaan sambilan sang kakak. 
Kurir narkoba adalah hal tak kasat mata yang benar-benar hadir di tengah masyarakat. 
Wesel Pos menghadirkan potret itu kembali, mengingatkan kepada manusia-manusia. 
Mengingatkan kepada mereka yang masih berjuang melawan takdir buruk. 
Kuberjuang membaca untuk tidak menghakimi mereka, bagaimana jika aku menjadi mereka? Mungkin aku tidak akan setegar Erlina. 
Titik lain yang memilukan bagi Erlina yakni ketika kakaknya telah meninggal, yang tersisa hanyalah kenyataan. 
Novel ini sangat bagus untuk dibaca, luangkan waktu 2 jam kamu pasti akan mendapatkan potret ini dalam lingkup masyarakat kita dengan lika-likunya. 
Terima kasih Mbak Ratih telah menulis novel seperti ini, ini merupakan novel ketiga Mbak Ratih yang aku baca usai Gadis Kretek dan Tabula Rasa. 
Semarang, 10/9/2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru