Idul Adha yang Berbeda

IDUL Adha diperantauan bukan kali ini saja aku alami. Dulu sewaktu masih kuliah, idhul adha tidak pulang ke rumah juga pernah aku lakukan. 
Masjid Agung Jawa Tengah saat Idul Adha 22/8/2018/ dok kingkin
Salat idul adha di perantauanpun bukan hal baru bagiku.
Kali ini meski tidak pulang kampung, idul adha yang jatuh tepat di hari Rabu, 22 Agustus 2018 menjadi saksi bagaimana aku bisa melaksakan salat sembari bekerja. 
Bangun pagi kala hari raya juga bukan hal baru bagiku, saat idul fitri aku pasti di kampung halaman, biasanya Ibu selalu membangunkanku lebih pagi. 
Untuk melaksanakan salat katanya, biar tidak terlambat. 
Sapi Jawa seberat 1 ton, 100 kg, hewan kurban Presiden RI Joko Widodo di Masjid Agung Jateng/ dok Kingkin

Bagiku, idul fitri dan idul adha sama-sama memiliki arti yang penting. 
Aku hari Rabu itu tanpa dibangunkanpun sudah bangun pagi. Ini karena niat, niat untuk beribadah di hari yang datangnya satu tahun sekali sekaligus beribadah. 
Dulu, jika di rumah, terkadang imanku masih goyah. Niatku belum sempurna, hingga ada masa di mana saat dibangungkan ibu aku hanya menggeliat. 
Kali ini waktu telah menyadarkanku, nilai-nilai yang ibu ajarkan adalah tentang kebaikan niat. Sebagai perantau, ternyata ajaran tersebut menumbuhkan motivasi tersendiri untukku. 
Meliput para Jamaah yang melakukan Idhul Adha di Masjid Agung Jawa Tengah merupakan pengalaman yang tak bisa dibeli. 
Sebelum salat, aku bersama beberapa teman jurnalis MAJT mengambil spot di pintu masuk Masjid dan halaman MAJT. 
Di titik itulah kami beribadah sembari mengambil gambar. Tak hanya itu, aku juga melihat beberapa jurnalis lain yang menunaikan ibadah dalam khusuk meski usai salat kembali bertugas. 
Hal-hal baru mengenai nilai kehidupan selalu aku temui saat meliput. 
Menghargai sesama hingga tidak memaksakan kehendak.
Di MAJT. 
Para Jamaah memenuhi Masjid Agung Jawa Tengah di tengah para Jamaah, ada beberapa sosok yang sudah familiar, mas Kewer salat sembari meliput, mas Aim fokus beribadah, dan mas Daniel yang meliput pelayan nomor satu di Jawa Tengah usai salat Idul Adha, yakni penyerahan hewan kurban. 
Khusuk yang mendamaikan. 
Entah seberapa besar dosa yang telah aku perbuat, mungkin aku tak bisa menghitungnya dengan pas atau menakarnya dengan alat timbang. 
Usai salam, aku merindukan rasa itu, rasa yang 10 tahun aku rasakan kala berdialog langsung lewat Tuhan melalui doa-doa. 
Hingga aku mengingat satu kata usai salat idhul adha, doakan apa yang kamu kerjakan, kerjakan apa yang kamu doakan. 
Selamat Hari Raya Idul Adha bagi teman-teman yang merayakan pada 22/8/2018. 
Semarang, 3/9/2018
PS: baru sempat ngeshare. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru