First Blood Donation

SAYA merasa malu dengan teman-teman SMP dan SMA yang sudah memiliki panggilan jiwa untuk mendonorkan darahnya kala kami sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah. 
Dok Pribadi/ pemilik goldar O+
Mereka dengan beraninya mendaftarkan diri menjadi pendonor. Tak cuma itu saja, namun mereka juga ikut menjadi relawan PMI di sekolah.
Sedang kegiatan saya kala di bangku Sekolah Menengah hanya seputar pelajaran-novel-bermain.
Sempat terlibat dalam KIR, klub Bahasa Inggris, dan ekstrakulikuler volly. Namun hanya bertahan pada klub bahasa inggris saja hingga tamat SMP, kegiatan yang lain gugur di tengah jalan.  
Di Kelas X saya sempatkan mengikuti karate satu tahun, usai itu Sekolah Menengah saya biasa-biasa saja. Berkutat pada buku pelajaran, novel, dan dunia remaja pada umumnya (baca: sekolah-tempat les-rumah). 
Yang terberserit dalam sanubari kekanak-kanakkan saya kala itu mengenai teman-teman yang tergabung dalam PMI adalah mereka keren.
Rela menolong tanpa pamrih. Lha aku? hanya menekuri novel-novel pop hingga sastra tanpa ujung.
"Apa mereka tidak mau pingsan saat jarum itu menusuk lengan dan mengisap darah?" pertanyaan itu yang bertalu-talu hingga saya meninggalkan bangku sekolah menengah sampai mahasiswa. 
Sampai pada akhirnya, panggilan itupun datang dengan sendirinya. 
Hidup merantau sudah menjadi makanan sehari-hari, hingga di bulan Februari 2018 saya dipertemukan dengan para pencari orang tenggelam dari Basarnas Semarang di PMI Kab. Tegal. 
Di titik itu, saya kembali teringat dengan keberanian teman-teman SMP dan SMA dengan berdonor. 
Di sanalah awal aku mulai tergerak, benar-benar empati, tak hanya sekedar simpati untuk belajar tentang kehidupan manusia. 
Lalu apa hubungannya dengan donor darah?
Sejak itu saya sering berdikusi dengan PMI Kab. Tegal mengenai darah, orang tenggelam, dan hal-hal lain seputar Slawi. Saya mendapatkan keluarga baru di sini. 
Hingga akhirnya saya bertemu Kepala Unit Donor Darah PMI Kabupaten Tegal, Titin Widyaningsih. 
Dia cerita banyak tentang pengalamannya berdonor dan lainnya. 
Panggilan untuk donor akhirnya menggebu-gebu. Setiap kali cek kesehatan sebelum donor membuat saya semakin antusias.
Namun sayang, kala saya bertugas di Slawi saya gagal menjaga Hb biar stabil, walhasil saya selalu gagal donor. 
Saya sering bergadang. Tidur tidak teratur. Makan tidak teratur.
Selama di Slawi setiap kali periksa kesehatan sebelum berdonor pasti hasilnya seperti ini: darah rendah dan Hb kurang. 
Akhirnya Pecah Telur 
Bulan Mei saya kembali ke Semarang setelah enam bulan bertugas memantau kejadian di Tegal-Slawi.
Di Semarang, saya bertemu lagi orang-orang kesehatan, kali ini mereka membuat tekadku semakin kuat untuk menata hidup sehat. 
Tidur sehari minimal enam jam, makan buah dan sayur, aktivitas fisik. 
Selama sebulan saya akui, hidup lebih tertata, berat badan bertambah 5kg. 
Hingga suatu kali, salah seorang Public Relation sebuah hotel ternama di Semarang menginformasikan ada donor darah. 
Panggilan itu datang dan saya sangat optimis Hb normal, tekanan darah normal. 
21 Agustus 2018 saya berhasil menjadi pendonor darah.
Pikiran buruk di masa SMP saya salah besar. Sensi saat berdonor tidak seperti apa yang saya pikirkan dulu.
Sebagai pemilik golongan darah O+ rasanya saya senang sekali, akhirnya keinginan saya tercapai untuk berdonor.
Inilah pengalaman mengenai kali pertama berdonor.
Saya sah menjadi pendonor, semoga bermanfaat. 
Semarang, 17/9/2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru