Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Oleh: Bare Kingkin Kinamu
USAI penjajahan Belanda, macam budaya dan kebiasan dalam kehidupan manusia di Indonesia semakin beraneka ragam. Bahkan ada budaya yang terbentuk karena menginginkan terlepas dari belenggu tekanan penjajah. 
Masa kolonial, masyarakat mengatur strategi untuk bebas dari tekanan dengan berbagai cara. Soekarno memanfaatkan kecendekiaannya untuk mengarahkan dan menyatukan bangsa memperjuangkan kemerdekaan. 
Dahulu tidak ada gadget yang mempermudah jalannya komunikasi, hanya ada tombak dan komunikasi konvensional. Secara paradoks, bahkan ada warga yang menganut atau berguru kepada orang yang dituakan. 
Kepada mereka meluncur petuah-petuah untuk mengusir penjajah, setidaknya membuat mereka tidak betah. 
Di Blora ada tokoh Samin Surosentiko, pada waktu kolonial mencabut nyawa manusia dengan berperang, Samin mengajarkan paham Saminisme. 
Samin memiliki gagasan memerangi Belanda tidak dengan cara kekerasan, ia mengajarkan beberapa cara seperti menolak pembayaran pajak kepada Belanda dan pembelotan dalam bentuk lainnya. 
Para suku ini mengisolasikan diri, bahkan baru tahu jika Indonesia merdeka di sekitar tahun 1970-an, penganut saminisme ini menyebar di Blora, Banjarnegara, dan Gunung Kendeng. 
Ajaran ini memiliki lima pokok penting. Samin membentuk ajarannya sendiri untuk kepentingan dan ketentraman penganut Saminisme. 
Tidak poligami,  tidak berpeci, tidak memakai celana panjang, tidak sekolah, menolak kapitalisme, dan tidak berdagang. 
Karena itu, bisa dibayangkan betapa berseberangannya pandangan ini dengan kenormalan orang pada umumnya, yang haus ilmu, berdagang, dan memperbaiki hidup melalui dinamikanya. 
Jujur saja, saya belum menemukan ajaran Saminisme langsung dari penganutnya. Namun, di Blora jejak-jejak ajaran tersebut masih ada namun bercampur dengan zaman. 
Temanku berujar, ia percaya Tuhan, namun masalah ibadah salat dijalankan atau tidak, menurut dia itu tidak masalah. Samin Surosentiko memiliki kitab sendiri untuk para pengikutnya, kitab kalimosodo dan beberapa hal lainnya. Sekarang, entah ke mana perginya ajaran kitab-kitab Saminisme. 
Meski berbalikan dengan cara beberapa masyarakat Indonesia lainnya, penganut Samanisme menghargai cara berjuang warga Indonesia dalam memerangi penjajah, meski harus dengan tragedi yang luar biasa, dengan bedil dan darah. 
Adalah tugas kita semua untuk mempertahankan perjuangan berdarah para pahlawan dengan karya yang bermanfaat, menghormati pemeluk kepercayaan.
Jika menilik kalimat Soekarno, Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri, maka keberagaman pemikiran ini adalah pemersatu bangsa. Tidak untuk dipecah belah dengan politik demi kekuasaan semu.
Di luar aspek ajaran Saminisme, era sekarang bahkan ada celetuk mengenai Samin. 
"Samin to koe," celetuk seorang saat mendapat jawaban tidak meningkatkan. 
"Jalan ke Gunung Prau bisa lewat mana ya?" 
"Wah aku ga reti. Kae lho, kono mesti ngulon," 
"Walah Samin to koe, nek ga reti ngomong wae ga reti ojo mblocoke," 
Ada pergeseran pengertian Saminisme pada zaman sekarang. Membawa-bawa Samin pada konteks yang telah berbeda jauh pada masanya. 
Jika para pendahulu Samin mengucilkan diri dan membangkang kepada Belanda, kali ini Samin sering disebut-sebut manakala seorang memiliki watak yang bertolak belakang dari fakta-fakta yang ada. Dari percakapan di atas tentu tak bisa saja disebut orang Samin. 
Ajaran Saminisme zaman dahulu yakni anti berkata bohong. Jika tidak tahu bilang tidak. 
Setidaknya, Saminisme sekarang telah melebur dengan budaya lainnya. Ada proses peleburan budaya, jejak-jejak kitab Saminisme pun saya sendiri belum pernah memiliki kesempatan langsung untuk melihatnya. 
Alangkah lucunya jika beberapa orang tiba-tiba saja saling menuduh jika lawan bicaranya adalah penganut Saminisme, membaca ajaran dan meyakini Kalimasadapun tidak pernah. 
Semarang, 19/9/2018. 

Comments

  1. Btw ngomong soal kalimasada jdi inget dulu pas masih kecil mbahku sering nyebut 'jimat kalimasada' mungkin ada hubungannya ya... aku wes lali. Btw kalau aku hidup di jaman itu mungkin aku bakal milih menyendiri sek. Engko nek wes siap mati & buat senjata baru melok nyerang. wkwkkw
    btw mereka g mau berdagang kenapa ya? apa gara2 dulu g mau berurusan sm orang 'luar' gara2 Belanda ya...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru