Posts

Showing posts from September, 2018

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Oleh: Bare Kingkin KinamuUSAI penjajahan Belanda, macam budaya dan kebiasan dalam kehidupan manusia di Indonesia semakin beraneka ragam. Bahkan ada budaya yang terbentuk karena menginginkan terlepas dari belenggu tekanan penjajah.  Masa kolonial, masyarakat mengatur strategi untuk bebas dari tekanan dengan berbagai cara. Soekarno memanfaatkan kecendekiaannya untuk mengarahkan dan menyatukan bangsa memperjuangkan kemerdekaan.  Dahulu tidak ada gadget yang mempermudah jalannya komunikasi, hanya ada tombak dan komunikasi konvensional. Secara paradoks, bahkan ada warga yang menganut atau berguru kepada orang yang dituakan.  Kepada mereka meluncur petuah-petuah untuk mengusir penjajah, setidaknya membuat mereka tidak betah.  Di Blora ada tokoh Samin Surosentiko, pada waktu kolonial mencabut nyawa manusia dengan berperang, Samin mengajarkan paham Saminisme.  Samin memiliki gagasan memerangi Belanda tidak dengan cara kekerasan, ia mengajarkan beberapa cara seperti menolak pembayaran pajak k…

Tentang Ingatan

Image
Menemuimu dalam mimpi-mimpi malam ini, mengingatkanku akan berbagi.  Berbagi bahagia, sedih, dan semua di antaranya.  Rasa penasaran, menjadi diri sendiri, melihat kehidupan sekitar lebih dekat.  Tidak ada luka yang tergores, hanya saja waktu terlalu cepat.  Keingananmu terus berkecamuk, selalu ada waktu untuk terus belajar dari hidup.  Keinginam untuk membantu mimpi-mimpi lain yang tak pernah kamu raba dalam pikiran mereka.  "Benar, inikah keinginanmu untuk bermanfaat untuk mereka?"  Caramu memaknai hidup meningatkanku akan kematian-kematian dan siklus hidup.  "Cobalah selalu bermanfaat selagi masih bernafas,"  Ingatanku tidak akan lepas, ada cerita-cerita yang sengaja aku tulis sebagai pengingat.  Semarang, 17/9/2018.

First Blood Donation

Image
SAYA merasa malu dengan teman-teman SMP dan SMA yang sudah memiliki panggilan jiwa untuk mendonorkan darahnya kala kami sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah.  Mereka dengan beraninya mendaftarkan diri menjadi pendonor. Tak cuma itu saja, namun mereka juga ikut menjadi relawan PMI di sekolah. Sedang kegiatan saya kala di bangku Sekolah Menengah hanya seputar pelajaran-novel-bermain. Sempat terlibat dalam KIR, klub Bahasa Inggris, dan ekstrakulikuler volly. Namun hanya bertahan pada klub bahasa inggris saja hingga tamat SMP, kegiatan yang lain gugur di tengah jalan.   Di Kelas X saya sempatkan mengikuti karate satu tahun, usai itu Sekolah Menengah saya biasa-biasa saja. Berkutat pada buku pelajaran, novel, dan dunia remaja pada umumnya (baca: sekolah-tempat les-rumah).  Yang terberserit dalam sanubari kekanak-kanakkan saya kala itu mengenai teman-teman yang tergabung dalam PMI adalah mereka keren. Rela menolong tanpa pamrih. Lha aku? hanya menekuri novel-novel pop hingga sastra ta…

Review Wesel Pos: Ketimpangan Sosial di Jakarta

Image
Novel Wesel Pos tulisan Ratih Kumala ini menjadi pengingat pembacanya mengenai hidup, aku menjadi bagian dari salah satu pembaca itu.
Novel yang tebalnya 100 halaman ini sangat harum. Karena aku suka membaui aroma kertas buku, sebelum membaca di tanggal 1/9/2018, aku telah tamat terlebih dahulu mengendusnya.  Sarat makna namun bisa dibaca sekali duduk, ya itulah Wesel Pos.  Mengisahkan seorang perempuan yang mencari kakaknya di Jakarta menjadi inti penting novel ini. Perempuan bernama Elisa. Kala di Jakarta, kakak Elisa selalu mengirimi uang dengan wesel pos. Kisah inilah yang menggerakkan tumpang tindihnya dualisme yang kental, antara kuno-modern, ekonomi kurang beruntung - kaya, kurir narkoba - pejabat, hingga keadilan-keadilan kecil yang ditampilkan Ratih Kumala dengan sarat makna.  Seperti pada halaman 13.  "Kalau saya lihat orangnya, saya ingat kok, Pak,"  "Ya kalau barang kamu masih ada. Kalo baju-baju kamu udah diloakin, kamu mau apa? Kriminal receh gini, susah …

Bernapak Tilas di Candi Boko

Image
RATU Boko menjadi Candi bersejarah pada masa lampau. Dari jejak-jejak yang ada, Candi yang terletak di ketinggian sekitar 190 meter dari permukaan air laut ini adalah sebuah Kerajaan.  Bukti-bukti seperti adanya pemukiman di Ratu Boko menunjukkan kuat jika dulu ini adalah kerajaan.  Ini merupakan kali kedua aku menginjakkan kaki di Candi ini, terakhir  yakni di tahun 2016.  Dengan membayar tiket masuk Rp 40.000/ orang keindahan alam Yogyakarta dari sini terlihat jelas. Batu-batu kokoh menyimpan rapat rahasia masa lampau yang masih menjadi dugaan-dugaan.  Sunset menjadi momen terbaik mengabadikan foto di candi ini.  Dari Kota Yogyakarta lama perjalanan yang bisa ditempuh menuju Boko yakni berkisar 30 menit - 40 menit.  Alami, kokoh, dan penuh misteri.  Saat aku mencuri dengar para pemandu wisata yang mengantar para wisatawan mancanegara dan dalam negeri, konon Boko berarti Burung Bangau.  Boko adalah ayah dari Roro Jonggrang.  Wisata dengan alam di Candi Ratu Boko sembari memandang hij…

Idul Adha yang Berbeda

Image
IDUL Adha diperantauan bukan kali ini saja aku alami. Dulu sewaktu masih kuliah, idhul adha tidak pulang ke rumah juga pernah aku lakukan.  Salat idul adha di perantauanpun bukan hal baru bagiku. Kali ini meski tidak pulang kampung, idul adha yang jatuh tepat di hari Rabu, 22 Agustus 2018 menjadi saksi bagaimana aku bisa melaksakan salat sembari bekerja.  Bangun pagi kala hari raya juga bukan hal baru bagiku, saat idul fitri aku pasti di kampung halaman, biasanya Ibu selalu membangunkanku lebih pagi.  Untuk melaksanakan salat katanya, biar tidak terlambat. 
Bagiku, idul fitri dan idul adha sama-sama memiliki arti yang penting.  Aku hari Rabu itu tanpa dibangunkanpun sudah bangun pagi. Ini karena niat, niat untuk beribadah di hari yang datangnya satu tahun sekali sekaligus beribadah.  Dulu, jika di rumah, terkadang imanku masih goyah. Niatku belum sempurna, hingga ada masa di mana saat dibangungkan ibu aku hanya menggeliat.  Kali ini waktu telah menyadarkanku, nilai-nilai yang ibu ajar…

Hujan Pertama di Bulan September

Image
September telah tiba. Di negeriku tercinta, September merupakan pertanda musim peralihan dari kemarau ke penghujan.
Tapi, aku tidak tahu pasti musim-musim tersebut  hadir tepat tanggal berapa.  Panas-dingin berganti berlalu. Mengiringi perjalanan hidup.  Syukur apapun terjadi.  Saat aroma basah tercium dari jendela kamar,  rasanya membawa kepada masa-masa kegembiraan tanpa syarat.  Membaca dalam diam, tertawa dalam kebersamaan. Menangis dalam sendu haru mereview sebuah perjalanan.  Tersenyum kembali.  Menunggu musim-musim silih berganti.  Pada 1 September 2018 sore hari, hujan itu meneduhkan banyak rasa yang tersimpan abadi.  Semarang, 1/9/2018.