Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru

PERGI merupakan skuel buku kedua Pulang.
Tere Liye, buatku berpendapat jika ia adalah penulis yang penuh kejutan, bisa jadi akan ada skuel ketiga buku ini, bukan? 
Pergi memiliki banyak sekali definisi, Tere Liye meracik cerita Bujang pergi ke suatu tempat yang akan ia sebut sebagai rumah.  Usai ia meninggalkan alias pergi dari hal yang selama ini ia perjuangkan. 
Dok Republika

Meski ia harus melalui perjalanan panjang menuntaskan dendam untuk Keluarga Tong dan teka-teki Ayahnya sendiri 
Di awal cerita, Bujang bersama Kiko-Yuki, Solonga, dan lainnya melakukan perjalanan ke negara-negara penguasa shadow economy untuk mencari tahu siapa saja sekutunya. 
Dok Pribadi/ kingkin


Kita sering melihat para konglomerat hidup kayaraya tanpa bekerja "keras", tersohor sejak dalam pikiran memiliki usaha transportasi, properti, dan sektor bisnis lainnya. 
Bujang menjadi tokoh sentral penyelesai masalah keluarga Shadow Economy yang menukik Kelurga Tong. 
Perlu diingat kembali di novel sebelumnya, Pulang, ada tokoh penghianat, ia kembali hadir. 
Satu keunikan sendiri, Tere Liye selalu mengemas tokoh-tokoh saling memiliki benang merah. 
Saat itu, Bujang juga menyimpan dendam kepada keluarga shadow economy di seluruh Asia yang mencoba menghancurkan bisnis Keluarga Tong. 
Dalam perjalanannya, tak dinyana ia memiliki kebimbangan. Detik-detik kebimbangan inilah ia sering berdiskusi dengan Solonga mengenai kebaikan, kejahatan, dan makna Pergi. 
Tere Liye berhasil menimbulkan celah kepada para pembaca sepertiku untuk merenungi makna hidup. 
Misal, saat Diego bertemu dengan Bujang. Meski saudara tiri, Dieogo memiliki masa lalu yang sama dengan Bujang, sama-sama memiliki ayah yang sama namun dari ibu berbeda. 
Jika cita-cita Bujang ini ingin menghabisi orang yang mengusik keluarga Tong, Diego justru ingin menghabisi semua keluarga shadow economy, jelas betul di dalamnya ada keluarga Tong. Lalu bagaimana usai Diego membantu Bujang? Apakah mereka akan bersiteru? Inilah titik-titik proses perjalanan hidup. 
"Satu bulan dari sekarang, aku akan melancarkan serangan pertama kepada keluarga shadow economy, Agam. Aku akan merontokkan sistem keuangan mereka. Terima kasih atas prototype teknologi anti serangan siber milikmu yang aku ambil dari Meksiko. Benda itu bisa dirancang sebaliknya, mengirim serangan mematikan ke sistem keuangan digital. Setelah industri keuangan runtuh, aku akan mulai menyerang fisik  markas besar mereka. Satu persatu, hingga tiba di markas Keluarga Tong, aku akan meratakannya dengan tanah, hingga tak tersisa lagi yang bisa mengenang nama keluarga itu." (Diego)
Aku diam menelan ludah. (Agam/ Bujang)
"Bergabung denganku, Agam." (Diego)
Itu ide buruk. (Agam/ Bujang)
Pada sebuah Epilog, Pulang.
Hal ini menjadi bagian favoritku. Usai Diego membantu Bujang, alias Agam, memberantas keluarga Shadow Economy yang ingin menghancurkan bisnis keluarga Tong, Diego membeberkan keinginannya dan mengajak Bujang bergabung melibas semua keluarga shadow economy tanpa kecuali termasuk bisnis keluarg Tong.
Ada pertukaran batin Bujang, di sini. 
Alurnya menarik. Terutama saat Bujang ke sebuah rumah dan menemukan surat-surat masa lalu ayahnya. 
Hingga ia bercakap tentang makna Pergi dengan Solonga. 
Di satu sisi, kelemahan penceritaan surat-surat ayah Bujang ke istrinya (Ibu Diego) membuat aku lelah membaca, penuturannya banyak melibatkan teknik "tell" pada surat-surat terakhir yang dibaca Bujang. Selebihnya novel Pergi ini menjadi satu novel yang sangat layak dibaca. 
Banyak makna hidup dan arti pergi bagi masing-masing orang. Pasti setiap orang memiliki interpretasi sendiri dari kata Pergi. 
Apakah Bujang akan bergabung dengan Diego usai melepas status utamanya di keluarga Tong? 
Tak seorangpun akan tahu. 
Di akhir resensi ini, ingatlah, bukan kebahagiaan artifisial yang kita cari. Bukan toxic success yang kita inginkan. Namun kebahagiaan itu sebenarnya sederhana, memeluk masa lampau, berdamai dengah hati, dan keadaan.
Termasuk ke manakah pilihan hidup Agam, alias Bujang usai pergi dari keluarga Tong?
Semarang, 8/8/2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018