Review Buku Orhan Pamuk: The Red-Haired Woman

Ini merupakan karya Orhan Pamuk yang kedua kalinya saya baca dalam balutan bahasa Indonesia, dengan kata lain terjemahan dari bahasa aslinya. 
Penulis kelahiran Turki ini mendapatkan berbagai penghargaan atas tulisan-tulisannya. Satu di antaranya yakni IMPAC Dublin Literary Award pada 2003 atas karyanya yang berjudul My Name Is Red. 
Masalah Orhan Pamuk lebih detai lagi, teman-teman bisa googling lebih dalam. 
Kali ini saya bakal mengulas sedikit terkait novelnya yang tebal 341 halaman ini. 
Dok Pribadi

The Red-Haired Woman pertama kali terbit dengan judul Kirmizi Sacli Kadin, diterjemahkan oleh penerbit Alfred. A. Knopf, New York dengan judul The Red-Haired Woman pada tahun 2017. 
Pada tahun 2018 awal, Bentang Pustaka menerjemahkan novel Orhan Pamuk ini dengan baik. 
Menyiksa. Bagi saya sebagai tokoh "aku" yang dihadirkan sejak awal membuat saya penasaran, siapa dia? 
Hingga saya tidak sadar, sejak awal di beberapa bab pertama belum disebutkan siapakah sebenarnya tokoh aku. 
Hingga di tengah-tengah, disebutkan jika tokoh aku adalah Cem. 
Saking asiknya membaca. 
Cem ingin menjadi seorang penulis, ia ingin sekolah tinggi hingga mahasiswa. Pada tahun ia beranjak dewasa, keluarganga bangkrut, ia izin kepada Ibunya untuk membantu seorang penggali sumur, karena upahnya lebih besar.
Karena alasan yang logis, ibu Cem mengizinkan ia pergi selama beberapa bulan untuk melakukan pekerjaan tersebut. 
Pada masa itu, menjadi pengebor sumur adalah pekerjaan yang beresiko namun menghasilkan. Pada masa itu, Cem bertemu dengan perempuan berambut merah. 
Perempuan inilah yang di masa pernikahannya kelak membuat dia seolah-olah menjadi tokoh yang diceritakan mirip cerita Oedipus. 
Pesan moral sarat pada novel yang ditulis Orhan ini. 
Cem ikut Tuan Mahmut menggali sumur. Pada sela-sela malam, Tuan Mahmut menceritakan kisah-kisah yang ia baca melalui al-kitab atau pun pengetahuannya sendiri. 
Ketika melangkah mundur dan mencermati masalahnya secara rasional, aku bisa melihat apa yang begitu kukenal dari cerita tentang Sohrab san Rostam serta kesamaanya dengan cerita Oedipus. Halaman 187. 
Dari paragraf tersebut, Orhan Pamuk menunjukkan jika tokoh Cem merupakan tokoh pemikir, ia suka mengkritik kehidupan.
Hingga akhirnya, ada peristiwa yang membuatnya lari terbirit-birit meninggalkan Tuan Mahmut dan hal tersebut selalu menghantuinya hingga ia menikah. 
Hingga pada akhirnya ia bertemu kembali dengan perempuan si rambut merah kala ia sudah menikah. 
Seperti kisah Sohrab dan Rostam pada akhirnya Cem mendapati takdirnya. 
Perempuan merah tersebut menyimpah teka-teki. 
Perlu teman-teman ketahui, Cem memilih menjadi mahasiswa Geologi, namun ia tidak menyurutkan keinginannya untuk menjadi penulis. 
Rambut merah menjawab kekhawatirannya hingga di akhir bab. 
Suaru ending yang sangat epic, manakala Orhan Pamuk menjungkir balikkan sudut pandang Cem berubah ke sudut pandang si rambut merah. 
Konflik mengenai politik kehidupan ditampilkan secara apik oleh Orhan Pamuk mulai awal hingga akhir novel. 
Kisah mengenai percintaan sejak pandangan pertama hingga pergulatan batin Cem saat tahu Ayahnya dijebloskan ke penjara karena pemikiran ayahnya.
Ingat: ayahmu juga ingin menjadi penulis. (Halaman terakhir oleh perempuan berambut merah). 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru