Review Buku Kambing dan Hujan: Cinta yang Plural dalam Kehidupan

SEBAGAIMANA mencintai, satu kata kerja yang dilakukan oleh seseorang akan terasa pedih saat tak bisa memiliki apa yang ia cintai.
Dok Pribadi/ Kingkin
Atau pun menjadi yang dicintai namun tak mencintai, ketika sama-sama tak bisa menolak peluang lain karena perbedaan.
Klise seperti perbedaan kepercayaan, negara, dan lain-lain yang berbeda menjadi satu alasan seseorang melakukan pertimbangan mencintai seseorang. 
Apakah cinta butuh ditimbang?
Apakah cinta bisa dipegang? 
Tentu kata kerja ini tak pernah terlihat, namun terasa. 
Saling pengertian meski berbeda itulah yang digambarkan tokoh-tokoh yang ditulis oleh Mahfud Ikhawan. 
Saya membeli novel dengan tebal 379 halaman ini di Bulan Mei dan selesai membaca sekitar bulan Juni. 
Cara membaca marathonku terputus-tupus namun itu tetap saja menyenangkan. 
Novel yang menjadi Pemenang Sayembara Novel DKJ 2014 ini mengharibiru. Jika kamu mau menganggap saya cengeng, silakan. Saya sempat hampir menangis manakala sampai bagian Miftah datang ke wisuds Fauzia. 
Dua sejoli ini merupakan manusia biasa yang saling mencinta. Namun, kedua orangtua berasal dari keyaknikan yang berbeda mazhab. 
Berkat cinta mereka berdua justru membuka lembaran lama kedua orangtua yang penuh dengan lika-liku perbedaan yang sebenarnya menyejukkan.  
Jika cinta kepada lawan jenis lebih kepada perasaan pribadi, novel ini menggambarkan hal tersebut sekaligus rasa pluralisme yang sarat. 
Apalagi saat era Komunis digaungkan dan dipolitisasi sana-sini, saya melihat ada pengkambing hitaman oleh pihak-pihak tertentu saja yang memiliki kepentingan. 
Kenapa judulnya Kambing dan Hujan? 
Jika saya bertemu langsung dengan penulisnya itulah hal pertamakali yang akan saya tanyakan. 
Karena ini mereview, ini dari pandangan saya, Kambing tak lepas dari masa kecil Ayah Miftah. Sedangkan ayah Fauzia tergolong dari keluarga yang memiliki keadaan ekonomi cukup beruntung. 
Jadi, masa kecil ayah Mif dan Za adalah persahabatan sejati sebelum perbedaan-perbedaan itu menguar bagai virus yang saling bertolak belakang menolak bersandingan. 
Hujan menjadi momen di mana mereka mengalami rasa saling menerima sebagai manusia yang memiliki aroma berbeda. 
Hm, masa lalu yang penuh sejarah. 
Jujur saja, cara berturur Mahfud Ikhwan tidak membosankan, alur campuran yang ia ceritakan sangat menggugah selera baca. Apalagi saat masing-masing ayah menceritakan masalalu mereka. 
Konfliknya mengalir, percintaan yang plural. 
Saat meriview novel ini, saya sembari membuka halaman-halaman yang kalimatnya saya tandai. 
Hm, aroma kertas ini dari dulu selalu menggugah selera baca. 
Ini sedikit paragraf di Novel Kambing dan Hujan yang memberikan pelajaran yang sarat:
 Malah Islam membentji orang jang malas-malasan dan mengabaikan dunia. Namun, orang Tjentong sering keterlaluan dalam mendahulukan ladang dan sawah dibandingkan urusan ibadah. Oleh karena itu, apa jang engkau dan kawan-kawanmu lakukan bersama Tjak Ali patutlah dipuji. Halaman 152. 
Kutipan surat dari salah satu orang keduanya pada zaman itu, sungguh, tak ragu lagi jika Mahfud di Kambing dan Hujan mendapatkan gelar pemenang Sayembara DKJ 2014. 
Buku ini sangat rekomen sekali untuk dibaca. 
Semarang, 1/8/2018

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru