Nyasar ke Grapari Si Merah Jalan Pahlawan Semarang

KOMINFO mewajibkan setiap pengguna gawai untuk meregistrasikan kartunya dengan syarat-syarat tertentu, semisal maksimal tiga kartu setiap provider dan lain sebagainya.
Belum lama ini, aku ingin berpindah nomor paketan. 
Dok pribadi/ Kingkin (Terima Kasih si Merah) ha-ha no sensor in the end.
Di gawaiku ada dua simcard, satu untuk paketan (yang tentatif kadang statusnya habis-buang), dan satunya simcard si merah yang sejak dulu menjadi nomor mandatory
Dengan percaya dirinya aku meregistrasi kartu baru untuk paketan, dengan menginput no.kk, no.ktp dan balasannya cukup bikin ber-heeeeeeeuh. 
Menarik nafas agak panjang.
"Maaf anda tidak bisa melakukan registrasi blabla," 
Reflek aku langsung bertanya kepada Mbak-mbak penjaga konternya (ini terjadi di Hari Jumat).
"Wah mbak berarti kamu sudah registrasi lebih dari dua nomor untuk NIK-mu,itu pakai nomor yang sebelumnya ya?" jelas mbak-mbak konter.
Hah? Masak? Batinku. 
Aku coba otak-atik, atak-utuk, aku unreg nomor voluntaryku "habis-ganti", sesuai prosedur, tetap tidak bisa.
Lalu aku ketik *444# dari simcard si merah (yang ini kemudian menjadi alasan si merahku diblokir). 
Tetap aku gak bisa registrasi nomor baru provider lain. 
"Mbak coba deh pakai NIK dan KK ini," empati Mbak-mbak konter smartphone. 
"Wah bisa mbak! Ini siapa Mbak?" tanyaku.
"Gak apa-apa Mbak, ini memang KK buat jaga-jaga," 
Ha-ha. Aku bisa internetan usai melakukan registrasi menggunakan NIK dan KK yang disodorkan Mbak-mbak konter. 
Lha, tapi kok si Merahku terblokir?
Terblokirnya si merah ini aku sadari saat Ibuku bilang, kok kamu ditelpon ga bisa, SMS juga ga bisa, kamu matiin hp-mu?
Usai omelan Ibu karena hari Jumat pagi itu aku hendak pulang ke rumah, aku cek lah si merah. 
Dan voila, kartuku diblokir kominfo. 
"Maaf nomor anda telah diblokir, mohon registrasi ulang kembali," tutur si mesin ulung mirip si merah. 
Capek ya baca blogku? 
Ha-ha back to keblokirnya si merahku. 
Aku sudah registrasi ulang sesuai yang diinstruksikan. 
Jawabannya sama berkali-kali, terima kasih data Anda telah kami terima blabla dan nyatanya masih terblokir, karena selalu aku cek dan gagal digunakan untuk menelpon dan SMS. 
Pulang dari Demak ke Semarang aku bertekad akan ke si merah. Baru sadar, itu hari Minggu, grapari di Jalan Pahlawan tutup. 
Yasudah kutunggu hari ini. 
Sebelum beraktifitas di sebuah Jalan Kapt. Piere Tendean, aku menuju grapari Jalan Pahlawan. Sudah terlihat beberapa antrean. 
"Mau ngapain, mbak?" tanya mas-mas berbaju merah di depan pintu masuk. 
Aku ingin sekali menjawab mau sarapan, ho-ho. 
Aku empet nyeletuk jokes garing itu. Aku jelaskan seluk-beluk lalu nomorku dicek dan aku mendapat nomor antrean. 
"Nomor antrean 1617 harap maju ke meja nomor tujuh belas," terang pengeras suara.
To be honest mungkin ini agak gak penting, tapi aku penasaran siapakah sosok suara yang direkam perusahaan si merah ini, dia tidak capek-capek ngabsen orang sampai berulang-ulang, ha-ha. 
Di depanku ada Mbak Oki nama di tagnya. 
Aku jelaskan kembali kenapa aku ke sini, dia cek nomor hpku. 
Aku disodori kertas berisi formalitas no. KK dan KTP. 
"Mbak untuk mengaktifkan kartu di custumer service nanti dikenakan biaya 25 ribu untuk beli pulsa, nanti pulsanya untuk transaksi blabla," 
Aku iyakan. 
"Tapi Mbak, biasanya kantorku tanggal segini biasanya transfer pulsa sekian, nanti masuk ga ya, kan nomorku terblokir," 
Lalu mbak berbaju merah ini, Oki namanya, mengecek kembali kartuku di layar komputernya. 
Voilla! Pulsanya masuk. 
"Saya potong saja dari sini ya Mba," 
Aku mengangguk. 
Di sela-sela itu aku bertanya, sudah berapa banyak orang yang ke grapari karena nomor terblokir dan sebagainya? 
Ia menjawab banyak. 
Dan ada juga yang marah-marah. 
Usut punya usut masalah blokir-blokiran itu merupakan wewenang Kominfo.
Sebagai pengguna jasa telekomunikasi terkait potongan Rp 25 ribu untuk syarat mengaktifkan kartu dengan cara didaftarkan internet minimal 25K, aku tidak keberatan ke perusahaan si merah.
Tapi, alangkah lebih baiknya pelanggan diberi keleluasaan untuk menggunakan hak 25k, supaya tidak mubadzir.
Aku bukan penggemar game, tapi sayang sekali hampir separuh paket untuk aktifkan kartu merahku paling banyak di game. 
Sisi Lain Pemecahan Kuota (Sedikit intermezo).
Sebenarnya, aku merasa agak kurang nyaman dengan pemecahan kuota.
Misal, 10Gb, kuota yang internet hanya 6Gb sisanya untuk aplikasi-aplikasi yang tidak pernah aku gunakan sekalipun. 
*urut dada* 
Itulah alasan besar aku tidak menggunakan si merah untuk paket internet, merah hanya untuk telepon.
Berbeda dengan pengguna jasa dengan intensitas ngegame banyak, tentu sepatuh kuota tersebut berguna, lha kalau tidak?
Krik-krik-krik. 
Aku berharap si merah mengevaluasi kembali terkait pembagian kuota. 
Biar win-win solution antara penerima jasa dan penawar jasa. 
Ini bukan masalah mampu atau tidak mampu membayar kuota tersebut, akan tetapi lebih ke kenyamanan pengguna jasa. 
Lol. 
Kembali ke Pengaktifan Kartu 
Terima kasih mbak berbaju merah, Oki, atas pelayanan pengaktifkan kartu yang memuaskan. 
Ya, itu di atas usulan untuk pemegang keputusan si merah, bukan Mbak Oki lho. 
Karena sebenarnya karyawan hanya mematuhi SOP yang kadang freak. 
Selamat malam, selamat beraktifitas. 
Semarang, 6/8/2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru