Dunia Anak-anak dan Kekerasan

Review buku ini saya tujukan kepada anak-anak, calon orangtua, hingga orang tua yang masih memiliki anak-anak.
Semoga kehidupan mereka selalu diselimuti dengan cinta. 
Judul buku : Dunia Duniya 
Penulis : Dewi Sartika 
Penerbit : Grasindo 
Tebal : 183 
Dok Pribadi/ Kingkin 

Buku ini mengisahkan cerita masa kanak-kanak Duniya dan teman-teman masa kecilnya. 
Duniya baru berumur 10 tahun kala itu, Dewi Sartika berhasil membuat saya mengangguk-angguk. 
"Iya-ya. Benar. Dunia anak-anak ada yang seperti itu, mereka mendapatkan kekerasan verbal maupun fisik dari orang terdekat mereka," batinku.
 Saat Duniya tidak bisa mengerjakan matematika ia ingin sekali guru mengajarinya.
Namun saat ia mendekat ke arah gurunya, seolah-olah ia adalah anak yang bodoh. 
Di rumah, saat Duniya tidak bisa mengerjakan PR ataupun saat orangtua mereka tahu nilai ulangannya jelek gesper ikat pinggang ayah Duniya adalah hadiahnya.
Saya jadi mengenang masa kecil saya, meski tidak ada kekerasan fisik yang saya dapat tapi saya pernah mendengar dan melihat teman-teman saya sering mendapat pandangan mencemooh jika tidak bisa mengerjakan soal bahkan hanya dari raut muka. 
Pernah suatu kali dulu ada orang dewasa yang memaki-maki teman saya di tengah orang banyak.
Mungkin ini salah satu hal yang harus diperbaiki mengenai prespektif yang telah menjamur. Hal keliru menjadi benar manakala sudah menjadi pembenaran pada sebuah mayoritas.
Seperti berkata bodoh kau, kepada anak-anak yang masih berkembang. 
Saya jadi punya pemikiran, orang yang suka membully sejatinya tidak ingin orang yang dibully berkembang dengan baik sesuai jalannya sendiri. 
Sejatinya pelajaran bisa dipelajari dengan baik dan benar. Mengapa harus menggunakan kekerasan verbal hingga fisik? 
Hingga zaman berganti, di tahun 2018 nyatanya juga masih sering ditemukan kasus kekerasan pada anak hingga pelecehan yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. 
Sebenarnya apa yang ada di benak orang-orang dewasa hingga sampai menggauli anak-anak? Kasus ini masih ditemui hingga saat ini
Duniya menjadi cermin dunia kanak-kanak dengan kekerasan. 
Hingga akhirnya ia bertemu dengan teman-teman yang senasib seperti Mutashor dan Sihar. 
Sihar dan Duniya membentuk suatu janji hingga dewasa. 
Masjid dan Tegal menjadi saksi masa kanak-kanak mereka baik senang ataupun duka. 
Novel ini bagus untuk dibaca kala senggang, bisa dijadikan sebagai referensi untuk menyikapi hal-hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan saat menghadapi anak-anak. 
Jangan sampai dunia anak-anak meninggalkan bekas hitam di antara warna-warna yang indah. 
Deep book! 
Semarang, 2/8/2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru