Di Kaki Sigedong

Mengendap Dalam Ingatan
Dingin. Berkabut. Licin
Kudengar suara burung berkicau merdu, menemani petani kubis, wortel, kentang menyiangi tanaman di kaki bukit Sigedong. 
Hawa dingin merambat. Dari ujung kaki, hingga menelusup di balik hati. 
Bagi yang tidak terbiasa dengan hawa dingin, jaket tebal, sarung tangan, kaus kaki, dan syal adalah syarat utama untuk bisa lebih nyaman berada di dataran tinggi Kabupaten Tegal. 
Dok Pribadi/ Perjalanan Sigedong-Sirampog. 
Aku tidak pernah menyangka di Kabupaten Tegal memiliki banyak potensi alam yang masih alami, bahkan kusadari masih ada yang belum terjamah manusia.
Sore itu, usai hujan. Ini bukan kali pertama aku berkunjung ke Sigedong. Satu kawasan yang luar biasa menyejukkan. 
Kalau tidak salah mengingat, kali pertama aku ke Sigedong yakni di Curug Cantel pada bulan Februari. Di bulan itu, aku masih tinggal di Kota Tegal. 
Hingga pada akhirnya aku bertemu dengan Margaretta Pita di Slawi. Kami sama-sama perantau di Kabupaten Tegal kala itu dan satu kos. 
"Besok jogging yok Pit? Ke CFD Kota," 
"Parah kau Kin. Galau ya? Masak jogging di Kota," 
"Kan kamu ga pernah jogging di Kota? Sekalian aku liputan CFD," 
Akhirnya kami bersepakat berangkat dari Slawi pukul 05.00 WIB. 
Usai CFD di Kota Tegal itulah terbersit untuk kembali ke Sigedong. 
Kali itu, Sigedong bukan menjadi tujuan utama. Namun hanyalah persinggahan sebelum kami pada akhirnya bertemu dengan para petani kubis di Kabupaten Brebes.
Hari Minggu yang menggila. 
Itulah sebabnya mengapan kami kedinginan, kami tidak membawa jaket, syal, kaus kaki, maupun sarung tangan. 
Dari Kota Tegal, waktu tempuh ke Sigedong berkisar satu hingga satu setengah jam. 
Sejuk. 
Meski hanya sekejap mampir, daya tariknya mengingatkanku akan dinginnya air Cantel. 
Sehari-hari, sebagian besar warganya adalah bertani. 
Cuitan burung bebas. Menakhlukkan alam tanpa minta dipuji. 
Akupun hanya bisa bersyukur masih diberi kesempatan menginjakkan kaki di bumi. 
Ditulis untuk menitipkan kenangan perjalanan di Kab. Tegal bulan Februai-Mei. 
Semarang, 2/8/2018. 

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru