Review Film Ayat-ayat Cinta 2

“Kadang kita harus mundur sedikit, hanya untuk melompat lebih jauh,” Fahri, Ayat-ayat Cinta 2.
*review ini pindahan dari blog saya yang lama*
Sudah pernah membaca novelnya? film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, Ayat-ayat Cinta 2, yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy.
Minggu, 24/12/2017, kusempatkan menonton film ini saat liputan nobar film Bollywood, sebenarnya di dalam aku curi-curi sambil menulis, ho-ho-ho, aku suka bagian ini.
Aku sudah membaca buku Ayat-ayat Cinta 2 di tahun .... (lupa), waktu itu seorang teman yang mencintai buku daripada omong kosong menginformasikan kepadaku jika buku keduanya sudah terbit.
Pernah mendengar tentang perbedaan agama?
Film ini menceritakan dengan apik bagaimana sosok Fahri bisa menjadi contoh untuk menghargai keberagaman di negara orang.

Saat melihat adegan pertama, aku langsung teringat dengan buku yang kubaca beberapa tahun yang lalu.
Sebagai seorang muslim yang hidup di negeri nan jauh dari mayoritas islam Fahri membawa pengertian sendiri mengenai menghargai kehidupan.
“Dia Amalek!” begitu ucap seorang di gereja saat Fahri mengantarkan nenek, seorang yahudi, ke gereja.
Tentang orang-orang yang melabeli terlalu general digambarkan dengan apik dalam film ini.
Film yang disutradari oleh Guntur Soehargjanto ini memikat dengan nilai yang tidak kalah sarat makna hidup seperti novelnya. Ia berhasil mengadopsi ruh novel yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy.
“Kadang kita harus mundur sedikit, hanya untuk melompat lebih jauh,” ungkap Fahri yang diperankan oleh Fedi Nuril saat dia dihina oleh tetangganya yang berbeda kepercayaan itu.
Meski dihina Fahri tetap menebarkan kebaikan. Lewat keyakinannya akhirnya kebaikannya terjawab sudah. Di sisi cinta, ia sebenarnya sedang gundah, Aisyah yang diperankan oleh Dewi Sandra belum ada kabar saat ia memutuskan untuk menjadi relawan di Palestina.
Fahri mencerminkan cinta yang benar-benar hakiki. Tidak peduli ras, agama, bahasa, dan latar belakang, ia curahkan semua itu.
Fahri mengungkapkan bahasa manusia dan cinta.
Sebagai seorang muslim, Fahri memiliki perjuangan yang berat di negeri orang itu. Mulai dari diskriminasi yang meng-generalkan hingga akhirnya satu persatu masalah hidup terjawab sudah.
Film ini wajib ditonton!
Tegal, 25/12/2017.

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru