Review Buku Aroma Karsa

Dua suku kata yang mengisahkan tentang kisah cinta serta perjalanan hidup beberapa tokoh yang ada di dalam buku ini tentu membuat pembaca sepertiku selalu mencium terlebih dahulu aroma kertas buku ini, Aroma Karsa.
Aroma Karsa, Dee melibatkan indra yang sangat vital untuk aroma yakni penciuman, hidung adalah komponen penting bagi jalannya cerita ini. Tokoh utamanya memiliki keunikan dalam penciuman, ia mampu mencium semua aroma baik sampah hingga molekul terkecil, ia Jati Wesi.


Aku dengan senang hati akan mengategorikan novel ini ke dalam genre drama fantasi cinta. Penciuman Jati Wesi menemukan siapa jati dirinya sebelumnnya. Hidupnya terdiri dari beberapa hal yang rumit dalam hidup, masa lalu, asal usul, masa depan dan cinta.
Kata kerja yang sederhana yang mudah diucapkan, cinta dan sayang. Sering terdengar namun kadang kita tak pernah memikirkan terlalu dalam arti cinta dan sayang sendiri, atau pada akhirnya cinta itu hanya membuat kita menjadi terpuruk karena memutuskan hal yang kurang benar.
Jawaban Jati Wesi terjawab sudah memalui aroma yang selalu ia endus, dengan indra penciumannya yang luar biasa ia bisa menembus alam di mana ia berasal hingga bertemu dengan Puspa Karsa yang menitis kepada seorang perempuan yang ia sayangi dan cintai, Suma.
Perkenalan yang tidak terduga, ambisi seorang dari dunia manusia yang tidak pernah terpikirkan membuat Jati Wesi bertemu dengan beberapa orang yang membuatnya menyibak takdirnya sendiri.
Dee Lestari membuat tokoh-tokoh dalam buku ini memiliki karakter yang kuat seperti Jati Wesi, Suma, dan Raras. Aroma Karsa mengumpulkan keberanian-keberanian dalam mengungkapkan fakta kecil terkait Tempat Pembuangan Akhir yang ada di Jakarta dan beberapa permasalahan yang samar namun pasti menjadi masalah klasik di Indonesia yakni sampah.
Jati Wesi kecil tak ubahnya sampah itu sendiri, sebab ia hidup di antara tumpukan sampah. Di sana ia belajar sendiri mengembangkan bakat penciumannya.
Hingga ia jatuh cinta hingga ia mampu menjelma menjadi hal yang riil dalam bentuk parfum yang nyaris sempurna.
Seperti pada judulnya, awal buku ini menceritakan  keunikan Jati Wesi yang memiliki indra penciuman di atas rata-rata pada orang biasa. Keunikan yang ia dimiliki tanpa ia sadari dimanfaatkan untuk kepentingan orang demi ambisi.
Di awal buku dimulai dengan keseharian Jati Wesi yang telah dewasa bekerja di sebuah toko parfum dan dia selalu berhasil menduplikat parfum asli bahkan dengan lebih sempurna aromanya dari parfum yang asli.
Keahliannya ini pada akhirnya menyeret dia ke sebuah area di mana masa lalunya terbuka, di mana ambisi Puspa Karsa melalui Raras. Di samping itu, Jati Wesi akhirnya menemukan seorang perempuan yang memiliki kemampuan yang hampir sama sepertinya, mencium suatu hal dengan lebih baik.
“Tan wenang kinawruhan ng katrsnan, wenang rinasan ri manah juga,” (Asmara tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya).  Aroma Karsa - 614.
Ada beberapa sifat manusia dalam menghadapi hidup yang tercermin dari Aroma Karsa, hal yang paling luput dari manusia itu biasanya perasaaan. Jati Wesi menemukan rasa cintanya yang mendalam hingga pada akhirnya juga harus melepaskannya dengan cara yang berbeda pada akhir cerita.
Masih belum ditemukan jawabannya seperti pada halnya kehidupan hingga kematian yang menjemput, di titik itulah sepertinya manusia akan dikenang seperti apa.
Cinta kasih Jati Wesi  merupakan hal yang menarik, seperti pada beberapa adegan di mana ia merasakan jatuh cinta hingga patah hati, dan akhirnya cinta itu tidak bisa dipahami selain dibuktikan melalui karyanya yang mendunia, Puspa Kangga.
Kisah cinta dengan konflik batin hingga fisik yang menyiksa Jati Wesi pada pengamatanku di Slawi ini.
Terima kasih Dee Lestari, telah memberikanku asupan bacaan yang indah di Kabupaten Tegal ini. Kurang lebih seminggu aku menyelesaikan buku ini di antara keseharian.
Slawi, 21/4/2018.

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru