Posts

Showing posts from 2018

Review Novel Semua Ikan di Langit Bareng Radite Canaleta

Image
Hai, selamat menikmati kalimat-kalimatku. Kali ini aku akan mereview novel Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Semua Ikan di Langit.  Ini adalah novel ketiga Ziggy yang aku baca, sebelumnya aku telah menamatkan Di Tanah Lada dan Jakarta Sebelum Pagi.  Bahasa Ziggy begitu fresh, dan jujur saja ketagihan dengan karya novelnya yang lain. 
Jika Di Tanah Lada menjadi pemenang II pada Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2014, Semua Ikan di Langit karya Ziggy ini menjadi pemenang I di Sayembara Novel DKJ 2016.  Selamat Ziggy, sangat bermanfaat. Entah kenapa sejak membaca Di Tanah Lada aku sudah menduga jika Ziggy memiliki cara pandang hidup yang dalam dengan kebijaksanaannya. Duile.  Karyanya matang, mudah dicerna, serius, sedih, tapi juga bikin tertawa.  Apalagi di Novel Jakarta Sebelum Pagi, banyak sindiran yang tepat sasaran.  Bagaimana dengan Semua Ikan di Langit? Pertama kali mendengar judulnya jidatku berkerut. Apa ini? Aku buka halaman pertama semakin berkerut?  Dalam hati aku bertany…

Review Buku Fahrenheit 451, Ray Bradbury

Image
Bagi penikmat buku membaca membuka cakrawala seluas-luasnya. Bahkan dengan membaca seolah-olah mereka masuk ke dalam pikiran penulis dan bisa merasakan emosi yang ditawarkan. 
Ray Bradbury, membalut kisa seorang pemadam kebakaran dalam intimasi dengan buku yang amat erat.  Penulis berkebangsaan Amerika Serikat yang telah mangkat pada 5 Juni 2012 ini membuat saya teringat akan buku-buku di Indonesia pada masa Orde Baru yang tidak boleh beredar. Buku tersebut dilenyapkan, tak boleh seorangpun membaca. Termasuk sajak-sajak kritis para penyair yang kala itu dianggap komunis.  Apa salah dalam isi buku tersebut?  Apakah pemerintah pada masa itu anti kritik?  Mengkritik dengan cara yang benar sebenarnya membantu pemerintah menyelesaikan masalah, setidaknya ingin maju bersama dan memperbaiki keadaan yang lebih baik lagi daripada yang lampau. Ray mengisahkan tentang pekerjaan Guy Montag yang berkaitan erat dengan pembakaran buku.  Ada alat yang digunakan sebagai mata-mata, mulai dari anjing y…

350 ml Kehidupan dalam 8 Menit

Image
DARAH. Komponen penting dalam manusia. Mulai dari mengangkut oksigen dalam tubuh, dan lainnya. 
13 Desember 2018:  Hb 13,5 Tekanan darah 110/ 70  Dengan bekal fisik tersebut saya dengan bahagianya menuju pintu pengambilan donor di PMI Kota Semarang.  Inilah kisah donor darah kedua saya.  Bahahia dan relax adalah kunci memudahkan berdonor. Niat tentu menjadi kunci paling utama sebelum menginjakkan kaki di kantor PMI Kota Semarang.  "Kenapa, mas?" "Ini, pas ditusuk ototnya mbak ikut mundur-mundur,"  "Wah aku udah mulai jarang olahraga iku,"  "Ya, perempuan ta, kan ada siklus menstruasinya juga,"  Donor kedua saya berjalan lancar. Hanya dalam 8 menit, 350 mili darah telah siap diolah dan semoga bermanfaat untuk orang lain.  Donor darah pertama saya berjalan cukul alot yakni butuh waktu 21 menit untuk memenuhi kantong darah dengan volume 350 mili.  Kenapa demikian? Saya punya tips, pertama bahagia. 

Berbahagialah, hari ini rasa bahagia tersebut mem…

Reuni Bersama R.L Stine di Serial Goosebumps

Image
Edisi Tetangga Hantu  Dulu waktu Sekolah Menengah Pertama, aku sering meminjam buku R.L Stine di perpustakaan. Serial demi serial menemani hari-hari liburku.  Kejutan demi kejutan yang R.L Stine hadirkan sangat nyata, aku kembali menikmatinya saat memutuskan membeli satu di antara serial Goosebumps berjudul Tetangga Hantu di Gramedia Balaikota Semarang Jalan Pemuda, hari ini.


Novel misteri dengan tebal 153 ini mengajak pikiran relax sekaligus berkelana. Mencekam namun tidak seperti kebanyakan pada novel-novel misteri lainnya. Novel ini menghadirkan teka-teki tanpa usur kriminalitas. Novel Goosebumps yang paling berkesan yakni tentang teka-teki halaman (aku lupa judulnya). Di Tetangga Hantu, R.L Stine menghadirkan tokoh Hannah Fildchild sebagai tokoh utama.  Awalnya, ia merasa bosan dengan musim panasnya.  Dari pengamatanku, prolog R.L Stine sering menginspirasi para pembuat film supaya setiap alur selalu mengandung rasa penasaran, misterius, namun masuk akal.  Hannah merasa bosan saat…

Hijau Kehidupan

Image
PENGGANTI aroma buku, adalah pemandangan yang hijau.  Aku pernah bermimpi kembali merasakan kedamaian, benar-benar menggunakan 2% persen kehidupan.
Dok Pribadi/ kingkin
Sadar bernafas, sadar melihat warna hijau di hadapan, sadar bersinggungan dengan angin sepoi, sadar mendengarkan kicauan burung dari balik pintu kaca dengan duduk santai memegang buku Ernes Hemingway. Impianku tercapai, menggunakan 2% kehidupan untuk fokus masih diberi jantung yang berdetak normal menghirup oksigen bersih tanpa kegaduhan sore ini.  Hidup selalu memiliki caranya sendiri memperlihatkan berbagai sisi kehidupan.  Menjadikanku semakin mengagumi tetes hujan yang jatuh tepat pada daun bambu yang ada di mataku sore ini.  Hal ini membuatku sadar, orang-orang boleh mengomentari pilihan hidup kita tanpa mengetahui "diri kita" meski itu keliru.  Warna hijau di sini melemparkanku pada memori yang melompat-lompat. Antara buku dan meninggalkan sebongkah sayang yang berganti memaafkan.  Bandungan, 8/11/2018.…

Review Buku Like Water for Chocholate

Image
JIKA Pram bilang menulislah jika tidak ingin tenggelam dalam peradaban, maka Laura Esquile menghadirkan tokoh novel yang akan mengajari keabadian melalui resep makanan yang digunakan turun-temurun. Laura Esquile menghadirkan romansa khas Amerika Latin. Bumbu cinta dan deskripsi yang pas. Ditambah dengan penggerak resep makanan.

Novel dengan judul Like Water for Chocholate ini memiliki alur yang sangat tidak bisa diduga.  Menghadirkan sosok Mama Elena yang memiliki rahasia cinta sendiri. Hingga ia memiliki tradisi anak perempuan terakhir tidak boleh menikah.  Tita adalah sosok itu. Ia wajib mengurusnya hingga ia tua dan mati.  Di tengah dan ending baru ada penegas asal-usul yang menyayat pembaca kenapa sampai ada tradisisi tersebut? Tradisi ini bahkan menurun ke generasi ketiganya, Ezperansa. Namun, Tita telah merubah segala-galanya. Awal novel ini mengisahkan ketika Tita mengungkapkan akan ada seorang lelaki yang mencintainya akan datang melamar. Pedro namanya.  Justru Mama Elena mala…

Bersua Suara Kesunyian

Image
*cerpen ini ditulis untuk mengabadikan percakapan dengan seorang karib pada sekitar akhir Bulan Oktober  Malam beranjak larut. Musik di kedai kopi masih terdengar, dari volumenya belum menunjukkan tanda-tanda akan diberhentikan.  Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB.  Dalam kesunyian, mereka mendengarkan kehidupan. 
"Apa kamu sudah paham dengan politik kehidupan?" lelaki itu menyulut rokok keduanya.  Ruangan kedai kopi ini memiliki jendela yang lebar. Membuat pengunjung bebas memantik rokok tak perlu risau asapnya akan melambung berputar-putar di depan wajah lelaki itu ataupun lawan bicaranya.  "Maaf ya, aku merokok," izin lelaki itu.  Perempuan di hadapannya mengangguk belum menjawab pertanyaan tentang politik kehidupan.  Dalam keheningan, kehidupan yang ramai bisa di dengar. Mana suara-suara yang patut didengarkan, mana suara-suara yang penuh penghakiman.  "Apa semua kehidupan memiliki politik kehidupan?" tidak menjawab perempuan itu balik bertanya.  Samb…

A.A Navis dan Pergulatan Hidup di Musim Kemarau

Image
A.A Navis membuatku teringat cerita pendek Robohnya Saurau Kami. Flashback 1998, kali pertama aku membacanya di Buku Pintar Berbahasa Indonesia, 20 tahun lalu.  Ada tokoh Ajo Sidi yang memberitahu Kakek Garin mengenai pentingnya membantu sesama dalam sindirannya.  Kakek Garin pada masa itu menghabiskan 24 jam hanya untuk ibadah. Ia tak peduli dengan tetangganya yang kelaparan ataupun kesusahan. Yang ia pikirkan hanyalah ibadah.  Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri saat Ajo Sidi membeberkan fakta-fakta kehidupan. Beberapa waktu lalu, di tanggal 20 Oktober, tanpa sengaja aku berkelana di Gramedia Jalan Pemuda Semarang, kudapati Novel A.A Navis dengan judul Kemarau. Seperti apa cerita novel yang ditulis olehnya kali ini?  Tentu aku mendapat potongan harga 20% dengan menunjukkan "tanda pengenal". Novel yang diterbitkan oleh Grasindo ini memiliki jumlah halaman 162. Novel ini resmi bisa dibaca oleh publik pada tahun 1967.  Ketika saya membaca halaman pertama novel Kem…

Melihat Manusia Bekerja

Sore ini di tengah hiruk-pikuk. Ketiga manusia ini duduk, bernafas, bersantai,  menikmati hidup. Apa yang kamu kejar? Para pramusaji tak ada yang duduk santai, mereka mempersiapkan makanan fast food yang kami inginkan. Mempersiapkan makanan yang orang lain mau.  Lalu apa daya kami dalam hidup?  Jika mereka menyiapkan makanan untuk mencukupi hidup. 
Hidup kami adalah persoalan jual-beli cerita untuk pembaca.  Apakah effort-nya adil?  Melihat kisah Budha dan ajarannya, orang yang berhasil pada tulisan yang dalam adalah orang yang fokus pada satu hal.  Romo Warto, hari ini memberikankanku banyak pelajaran. Secara pribadi, ini adalah makna menulis dalam hidupku. Aku bisa memahami jika kedua orang sahabat di depanku sore itu, memiliki pemaknaan sendiri, karena tugas kami berbeda, tentu mereka memiliki pengalaman menarik yang tak akan pernah terbeli. Bahkan tak akan terbeli oleh gaji kami, yakni makna hidup dan lain-lainnya.  Namun, setelah bercakap dengan Romo Warto dan Ibu, aku pikir ben…

Percakapan Hidup dengan Okky Madasari

Image
Ia mengenakan kaus berwarna cerah, kuning di tengah sinar matahari siang yang menjelang sore.  Mengenakan turban (hem, aku suka menyebutkan kupluk) di antara para pengunjung Klenteng Sam Poo Kong, tak perlu aku memastikan berulangkali jika  dia adalah Okky Puspa Madasari.  Kami telah berkomunikasi jauh hari untuk bertemu, di sinilah aku kembali bisa berdiskusi tentang kehidupan.  Terkahir kali aku bertemu dengan penulis Pasung Jiwa ini pada acara yang Mbak Okky gagas yaitu Asean Literary Festival 2017 di Kota Tua Jakarta.  Sebagai pembaca novel-novelnya, aku merekomendasikan tulisa Okky untuk dibaca, jika kamu ingin melihat sisi hidup dari sisi yang berbeda.  Kabar dan beberapa remah-remah kehidupan kami ceritakan pada rentang jeda hidup, kami tidak bertemu dalam satu tahun terkahir.  "Dulu kamu 2017 belum di Tribun kan Kin?" tanyanya. Kami duduk pada bayang-bayang sejarah Ceng Ho membicarakan update masing-masing diri.  Terkahir Mbak Okky berkabar, ia sedang mengikuti fell…

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Oleh: Bare Kingkin KinamuUSAI penjajahan Belanda, macam budaya dan kebiasan dalam kehidupan manusia di Indonesia semakin beraneka ragam. Bahkan ada budaya yang terbentuk karena menginginkan terlepas dari belenggu tekanan penjajah.  Masa kolonial, masyarakat mengatur strategi untuk bebas dari tekanan dengan berbagai cara. Soekarno memanfaatkan kecendekiaannya untuk mengarahkan dan menyatukan bangsa memperjuangkan kemerdekaan.  Dahulu tidak ada gadget yang mempermudah jalannya komunikasi, hanya ada tombak dan komunikasi konvensional. Secara paradoks, bahkan ada warga yang menganut atau berguru kepada orang yang dituakan.  Kepada mereka meluncur petuah-petuah untuk mengusir penjajah, setidaknya membuat mereka tidak betah.  Di Blora ada tokoh Samin Surosentiko, pada waktu kolonial mencabut nyawa manusia dengan berperang, Samin mengajarkan paham Saminisme.  Samin memiliki gagasan memerangi Belanda tidak dengan cara kekerasan, ia mengajarkan beberapa cara seperti menolak pembayaran pajak k…

Tentang Ingatan

Image
Menemuimu dalam mimpi-mimpi malam ini, mengingatkanku akan berbagi.  Berbagi bahagia, sedih, dan semua di antaranya.  Rasa penasaran, menjadi diri sendiri, melihat kehidupan sekitar lebih dekat.  Tidak ada luka yang tergores, hanya saja waktu terlalu cepat.  Keingananmu terus berkecamuk, selalu ada waktu untuk terus belajar dari hidup.  Keinginam untuk membantu mimpi-mimpi lain yang tak pernah kamu raba dalam pikiran mereka.  "Benar, inikah keinginanmu untuk bermanfaat untuk mereka?"  Caramu memaknai hidup meningatkanku akan kematian-kematian dan siklus hidup.  "Cobalah selalu bermanfaat selagi masih bernafas,"  Ingatanku tidak akan lepas, ada cerita-cerita yang sengaja aku tulis sebagai pengingat.  Semarang, 17/9/2018.

First Blood Donation

Image
SAYA merasa malu dengan teman-teman SMP dan SMA yang sudah memiliki panggilan jiwa untuk mendonorkan darahnya kala kami sama-sama duduk di bangku Sekolah Menengah.  Mereka dengan beraninya mendaftarkan diri menjadi pendonor. Tak cuma itu saja, namun mereka juga ikut menjadi relawan PMI di sekolah. Sedang kegiatan saya kala di bangku Sekolah Menengah hanya seputar pelajaran-novel-bermain. Sempat terlibat dalam KIR, klub Bahasa Inggris, dan ekstrakulikuler volly. Namun hanya bertahan pada klub bahasa inggris saja hingga tamat SMP, kegiatan yang lain gugur di tengah jalan.   Di Kelas X saya sempatkan mengikuti karate satu tahun, usai itu Sekolah Menengah saya biasa-biasa saja. Berkutat pada buku pelajaran, novel, dan dunia remaja pada umumnya (baca: sekolah-tempat les-rumah).  Yang terberserit dalam sanubari kekanak-kanakkan saya kala itu mengenai teman-teman yang tergabung dalam PMI adalah mereka keren. Rela menolong tanpa pamrih. Lha aku? hanya menekuri novel-novel pop hingga sastra ta…

Review Wesel Pos: Ketimpangan Sosial di Jakarta

Image
Novel Wesel Pos tulisan Ratih Kumala ini menjadi pengingat pembacanya mengenai hidup, aku menjadi bagian dari salah satu pembaca itu.
Novel yang tebalnya 100 halaman ini sangat harum. Karena aku suka membaui aroma kertas buku, sebelum membaca di tanggal 1/9/2018, aku telah tamat terlebih dahulu mengendusnya.  Sarat makna namun bisa dibaca sekali duduk, ya itulah Wesel Pos.  Mengisahkan seorang perempuan yang mencari kakaknya di Jakarta menjadi inti penting novel ini. Perempuan bernama Elisa. Kala di Jakarta, kakak Elisa selalu mengirimi uang dengan wesel pos. Kisah inilah yang menggerakkan tumpang tindihnya dualisme yang kental, antara kuno-modern, ekonomi kurang beruntung - kaya, kurir narkoba - pejabat, hingga keadilan-keadilan kecil yang ditampilkan Ratih Kumala dengan sarat makna.  Seperti pada halaman 13.  "Kalau saya lihat orangnya, saya ingat kok, Pak,"  "Ya kalau barang kamu masih ada. Kalo baju-baju kamu udah diloakin, kamu mau apa? Kriminal receh gini, susah …

Bernapak Tilas di Candi Boko

Image
RATU Boko menjadi Candi bersejarah pada masa lampau. Dari jejak-jejak yang ada, Candi yang terletak di ketinggian sekitar 190 meter dari permukaan air laut ini adalah sebuah Kerajaan.  Bukti-bukti seperti adanya pemukiman di Ratu Boko menunjukkan kuat jika dulu ini adalah kerajaan.  Ini merupakan kali kedua aku menginjakkan kaki di Candi ini, terakhir  yakni di tahun 2016.  Dengan membayar tiket masuk Rp 40.000/ orang keindahan alam Yogyakarta dari sini terlihat jelas. Batu-batu kokoh menyimpan rapat rahasia masa lampau yang masih menjadi dugaan-dugaan.  Sunset menjadi momen terbaik mengabadikan foto di candi ini.  Dari Kota Yogyakarta lama perjalanan yang bisa ditempuh menuju Boko yakni berkisar 30 menit - 40 menit.  Alami, kokoh, dan penuh misteri.  Saat aku mencuri dengar para pemandu wisata yang mengantar para wisatawan mancanegara dan dalam negeri, konon Boko berarti Burung Bangau.  Boko adalah ayah dari Roro Jonggrang.  Wisata dengan alam di Candi Ratu Boko sembari memandang hij…

Idul Adha yang Berbeda

Image
IDUL Adha diperantauan bukan kali ini saja aku alami. Dulu sewaktu masih kuliah, idhul adha tidak pulang ke rumah juga pernah aku lakukan.  Salat idul adha di perantauanpun bukan hal baru bagiku. Kali ini meski tidak pulang kampung, idul adha yang jatuh tepat di hari Rabu, 22 Agustus 2018 menjadi saksi bagaimana aku bisa melaksakan salat sembari bekerja.  Bangun pagi kala hari raya juga bukan hal baru bagiku, saat idul fitri aku pasti di kampung halaman, biasanya Ibu selalu membangunkanku lebih pagi.  Untuk melaksanakan salat katanya, biar tidak terlambat. 
Bagiku, idul fitri dan idul adha sama-sama memiliki arti yang penting.  Aku hari Rabu itu tanpa dibangunkanpun sudah bangun pagi. Ini karena niat, niat untuk beribadah di hari yang datangnya satu tahun sekali sekaligus beribadah.  Dulu, jika di rumah, terkadang imanku masih goyah. Niatku belum sempurna, hingga ada masa di mana saat dibangungkan ibu aku hanya menggeliat.  Kali ini waktu telah menyadarkanku, nilai-nilai yang ibu ajar…

Hujan Pertama di Bulan September

Image
September telah tiba. Di negeriku tercinta, September merupakan pertanda musim peralihan dari kemarau ke penghujan.
Tapi, aku tidak tahu pasti musim-musim tersebut  hadir tepat tanggal berapa.  Panas-dingin berganti berlalu. Mengiringi perjalanan hidup.  Syukur apapun terjadi.  Saat aroma basah tercium dari jendela kamar,  rasanya membawa kepada masa-masa kegembiraan tanpa syarat.  Membaca dalam diam, tertawa dalam kebersamaan. Menangis dalam sendu haru mereview sebuah perjalanan.  Tersenyum kembali.  Menunggu musim-musim silih berganti.  Pada 1 September 2018 sore hari, hujan itu meneduhkan banyak rasa yang tersimpan abadi.  Semarang, 1/9/2018.

Kepada Hidup

Image
Semesta tak pernah berhenti memperlihatkan kehidupan  Kehidupan melaju, pagi - malam dan terus berotasi 
Mata tak pernah buta melihat keangkuhan pencongkak, tak pernah tuli mendengar rintihan para tuna.  Melaju bersama kata-kata, membebaskan kemerdekaan diri sendiri  Penghuni semesta tetap membebaskan ruah-ruah kata  Dengan cepat aku tuliskan,  Waktu adalah penguji Seberapa jauh kata-kata terjelma menjadi kehidupan abadi? Semarang, 20/8/2018

Ruang

Image
DI sela-sela membaca buku, gadget menjadi satu di antara sekian hal, sebagai pengisi waktu jeda. 
Aku tertunduk, melihat beberapa teman yang update status melalui whatsapp. Ada beberapa teman yang sebenarnya ke-update-annya aku rindukan. Well, karena mereka irit kata dan tak suka update-update hal pribadi di media sosial, tapi sekali ngobrol omongan mereka selalu menginspirasi.  Ada ruang dalam kehidupan ini yang tanpa menghakimi saling mengerti.  Seperti, aku dan buku. Seperti kamu dan buku. Seperti kita.  Ruang-ruang ini tercipta dari benang-benang tipis yang kelak mungkin bisa menebal.  Kisah-kisan tentang kehidupan yang jauh dari kepongahan serta rasa bertinggi-hati.  Semarang, 8/8/2018

Mimpi

SAKING mikirin tentang suatu hal atau teringat dengan seseorang ataupun beberapa orang belakangan ini, tadi malam apa-apa saja yang saya pikirkan muncul dalam mimpi.  Termasuk teman diskusi ku mengenai buku. Wajahnya jelas, tersenyum. Lalu aku bangun, eh sudah pagi.  Apakah ini yang dinamakan rasa kangen yang tak terucap dan tersampaikan?  bisa jadi aku sedang kangen berdebat tentang buku dengannya.  Paling aneh lagi, ini seperti dejavu.  8/8/2018 

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru

Image
PERGI merupakan skuel buku kedua Pulang. Tere Liye, buatku berpendapat jika ia adalah penulis yang penuh kejutan, bisa jadi akan ada skuel ketiga buku ini, bukan?  Pergi memiliki banyak sekali definisi, Tere Liye meracik cerita Bujang pergi ke suatu tempat yang akan ia sebut sebagai rumah.  Usai ia meninggalkan alias pergi dari hal yang selama ini ia perjuangkan. 
Meski ia harus melalui perjalanan panjang menuntaskan dendam untuk Keluarga Tong dan teka-teki Ayahnya sendiri  Di awal cerita, Bujang bersama Kiko-Yuki, Solonga, dan lainnya melakukan perjalanan ke negara-negara penguasa shadow economy untuk mencari tahu siapa saja sekutunya. 

Kita sering melihat para konglomerat hidup kayaraya tanpa bekerja "keras", tersohor sejak dalam pikiran memiliki usaha transportasi, properti, dan sektor bisnis lainnya.  Bujang menjadi tokoh sentral penyelesai masalah keluarga Shadow Economy yang menukik Kelurga Tong.  Perlu diingat kembali di novel sebelumnya, Pulang, ada tokoh penghianat,…

Nyasar ke Grapari Si Merah Jalan Pahlawan Semarang

Image
KOMINFO mewajibkan setiap pengguna gawai untuk meregistrasikan kartunya dengan syarat-syarat tertentu, semisal maksimal tiga kartu setiap provider dan lain sebagainya. Belum lama ini, aku ingin berpindah nomor paketan.  Di gawaiku ada dua simcard, satu untuk paketan (yang tentatif kadang statusnya habis-buang), dan satunya simcard si merah yang sejak dulu menjadi nomor mandatory.  Dengan percaya dirinya aku meregistrasi kartu baru untuk paketan, dengan menginput no.kk, no.ktp dan balasannya cukup bikin ber-heeeeeeeuh.  Menarik nafas agak panjang. "Maaf anda tidak bisa melakukan registrasi blabla,"  Reflek aku langsung bertanya kepada Mbak-mbak penjaga konternya (ini terjadi di Hari Jumat). "Wah mbak berarti kamu sudah registrasi lebih dari dua nomor untuk NIK-mu,itu pakai nomor yang sebelumnya ya?" jelas mbak-mbak konter. Hah? Masak? Batinku.  Aku coba otak-atik, atak-utuk, aku unreg nomor voluntaryku "habis-ganti", sesuai prosedur, tetap tidak bisa. Lalu…