Review Film The Judge


Saya akan menuturkan dari sudut pandang saya mengenai film yang satu ini: The Judge. Menarik.

            Saya iseng-iseng ingin menyelesaikan naskah “sampah-busuk” saya di luar tempat –yang tidak biasa. Kami –aku dan seorang kawan ku yang kutemukan di pulau ini ternyata memiliki hobbi yang sama, menulis. Malam ini, kami harus tuntas menyelesaikan semuanya –“draft sampah”. Bukankah sampah jika di daur ulang itu akan memiliki manfaat yang sangat luar biasa?
            Malam ini. Kaki-kaki itu yang merasa pegal, melangkah ke suatu tempat yang nyaman, harum roti-roti menertawakan perut yang keroncongan, tawa memekkan telinga pengunjung-pengunjung lain yang juga sedang asyik menghabiskan hari untuk menghabiskan akhir minggu mereka dengan senang –bersama pacar, keluarga, dan sahabat. Tempat ini tergolong bersahabat. Banyak orang yang berlalu-lalang, entah apa yang ada di benak mereka. Sebelum kami memilih tempat ini sebagai tempat persinggahan kami menyelesaikan sebuah draft yang –mungkin enak dibaca setelah mengalami revisi berkali-kali. Kami memutuskan mengitip Blitz- film apa saja yang ada di sana?
            Saya pikir, hidup ini akan memberikan banyak pelajaran tentang nilai-nilai yang tersirat. Kamu mau menjadi golongan manusia yang seperti apa? coba tentukan pilihan kalian.
            Kenapa? –kami memutuskan nonton film.
            Untuk merangsang otot-otot kami sebelum menyelesaikan semua ini –naskah yang belum jadi.
            Kawan, maafkan saya. Tanganki kali ini sudah gatal sekali ingin menceritakan tentang film yang membuat kalian –sedikit mengerti tentang arti kehidupan ini.
            THE JUDGE. Jika kalian menafsirkan bahwa film ini akan mencerminkan sebuah komedi atau aroma horror, kalian mungkin ada benarnya dengan pilihan yang pertama. Keluarga, komedi, moral, dan cinta –kepada kelurga.
            Film ini dibintangi oleh Robert Dawny. Sangat bagus. Film ini menceritakan tentang kehidupan seorang pengacara. Dawny berperan sebagai pengacara –Henry. Ketika ia sedang menyelesaikan kasus –dipengadilan. Ia mendapatkan telepon dari Indiana –yang mengabarkan bahwa Ibunya telah meninggal.  
            Ia kembali ke kampung halamannya. Di sana ia teringat dengan kenangan masa kecilnya. Cinta pertamanya, tentang kenangan masa kecilnya –dan memori indah bersama Ayahnya.
            Kenangan masa lalu, memang selalu terasa indah. Ketika ia hendak pergi lagi ke rumahnya. Ayahnya mendapatkan tuduhan menabrak orang secara sengaja. Di momen-momen itulah Henri –yang memiliki nama panggilan Hank memperbaiki hubungan yang selama ini menburuk dengan Ayahnya.
            Sebanarnya, film ini memiliki benang merah yang sangat sentimental. Dimulai dari kenapa Hank memilih sekolah di universitas yang jauh dari tempat lahirnya, dan membuat ia semakin jauh dengan orang tuanya. Saat Ayahnya dituduh membunuh dengan sengajar, ternyata mambuatnya sepenuhnya sadar, sesungguhnya Ayahnya selalu bangga dengannya –dan juga dengan kedua saudara laki-lakinya.
            Di akhir persidangan ia berusaha membela ayahnya mati-matian, di momen inilah terbukti, semuanya tentang semuanya –tentang kasus tabrakan itu, dan tentang hubungan Ayah dan anak.
            Setelah hakim kasus ini memutuskan bahwa Ayah Hank –sering disebut sebagai Pak Hakim, karena sebenarnya beliau adalah hakim yang memiliki jasa besar di kota Indiana selama kurang lebih 42 tahun –ia mendapat hukuman penjara selama empat tahun.
            Di akhir persidangan, baru semua dikuak oleh Hank, bahwa Ayahnya sebenarnya telah mengidap kanker stadium empat. Selama ini ia sembunyi-sembunyi berobat. Ayah Hank berusaha menyembunyikan penyakit itu dari semua orang –kecuali istrinya yang telah meninggal. Ayah Hank, jika ia memberi tahu publik tentang penyakitkan, itu berari tidak fair.
            Setelah di penjara selama tujuh bulan, Hank mengunjungi Ayahnya. Mereka mengenang masa-masa kecilnya bersama Ayahnya yang telah tua. Memancing di tengah danau, dan di saat itulah, Ayahnya menghembuskan nafas terakhir.

            Sungguh kawan. Jika hidupmu penuh dengan kepenatan dan butuh inspirasi untuk membuatmu sedikit lebih refresh, film ini wajib kalian tonton. –kawan tahukah kamu? Sekarang pukul sepuluh, dan di tempat ini beberapa kafe lampunya telah di matikan. Tetapi kami masih asyik mengetik “draft naskah sampah” di tengah keadaan yang remang-remang.

Comments

  1. well, akhirnya saya mampir juga di blogmu, kawan. dan, hey, siapa bilang kamu boleh majang foto wajah tanpa (baca: penuh) dosa diatas?? *becanda sih. wkwkwk
    Ah, balik ke topik utama. Ya ya ... Errr.... sebenarnya saya mereview film yang sama sih. well-karna kita nonton bersama waktu itu. hehehe...
    memang ini film yang sangat layak tonton buat semua golongan masyarakat. salut banget sama sutradara dan para pemeran yang sangat apik berlakon, mereka berhasil menyuguhkan pelajaran bermakna tentang arti pentingnya menjadi manusia seutuhnya (kok jadi rada rancu ya kalimat saya), maksudnya menjadi manusia seutuhnya dengan menomorsatukan hukum meskipun waktu itu berada dalam konflik batin sebagai pengacara dan anak, seperti si Hank itu. pokoknya gak rugi ngehabisin waktu dan duit buat nonton itu.

    ReplyDelete
  2. dua orang itu kok kayak Alien hahahahahahaha ya Lia, tapi ini film bermakna yang pernah aku tonton selama ini, di sini :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru