SINDHUNATA: EKONOMI KERBAU BINGUNG

"Don’t judge those who try and fail, judge them who fail to try" –anonymous
Blog, kali ini aku akan menulusimu dengan cerita, meringkas bukunya Sindhunata. Ekonomi Kerbau Bingung. Sebelumnya di post ku yang lama, menceritakan Sindhunata dengan –Anak Bajang Menggiring Angin dan –Sakitnya Melahirkan Demokrasi. Giliran buku kumpulan featurenya ku ceritakan –kali ini.

Semenjak tahun 2011, aku mulai melirik buku-buku yang bergenre feature, lewat Bazar Gramedia Yogyakarta pada tahun 2011 aku akhirnya menemukan beberapa kumpulan feature milik Sindhunata. Salah satunya –Ekonomi Kerbau Bingung. Seperti judulnya, kumpulan feature kerbau bingung ini berisi tentang kritik social, -humanistic feature. Feature-feature Sindhunata semua pernah dimuat dalam Kompas semenjak tahun 1978. Buku ini dibagi menjadi lima bagian.
Bagian pertama menggambarkan tentang hukum yang mulai berpaling dari rakyat, sebuah permasalahan hukum yang hanya menjerat maling “kere” tak elit dan bukan golongan pejabat lini utama. Konon, rakyat biasa –tak berjabat dan tak beruang- yang pada waktu itu memiliki masalah hukum dengan aparat negara –sebut saja polisi,tni dan antek-anteknya, hukum bersifat subjective. Mereka bungkam terhadap kebenaran dan memilih melindungi tersangka sebenarnya.
Bagian kedua bertutur tentang kemiskinan di tengah pembangunan, di sini Sindhunata bercerita pembangunan tak merata karena hanya dinikmati oleh sebagian kecil  masyarakat Indonesia. Dan adanya ketimpangan ekonomi, social dan pendidikan yang menyebabkan adanya ruang perbedaan yang lebar antara si miskin dan si kaya. Dan kisah para pelacur, serta sebabnya mereka menjadi demikian. Pada siang bolong ia berkata kepada temannya “hidup dan bekerja tak perlu bosan” dan tersenyum inilah nasib. Ada cerita juga tentang koraban banjir yang hendakmelahirkan disebuah pojok kumuh Jakarta, tak ada yang mau menolong. Namun akhirnya tukang bajailah yang menolongnya –sesama rakyat kecil. Di sini Sindhunata mewancarai dua mahasiswa yang berbeda latar ekonominya dan ia mendapat jawaban yang berbeda pula mengenai gaya bahasa yang digunakan dan arti kasih sayang kepada orang tua. Intinya dibagian dua ini menggambarkan adanya ketimpangan social yang sangat lebar di masyarakat Indonesia.
Bagian ketiga lebih khusus lagi, menceritakan kisah gelandangan di Yogyakarta, Saman anak kecil yang berumur 10 tahun memutuskan menjadi gelandangan di kota Jogja karena Ayahnya memutuskan menikah lagi setelah ibunya meninggal dan ibu tiri Saman selalu menindas Saman ketika Ayah Saman bekerja. Kemudian. Diceritakan pula, adanya progam transmigrasi bagi para gelandangan jogja, syaratnya mereka harus menikah. Hasilnya mereka gelandangan lelaki melamar gelandangan perempuan baik yang belum maupun sudah dikenalnya –mereka ingin hidup lebih baik lagi dengan adanya progam ini.
Bagian keempat feature ekonomi kerbau bingung ini berkisah tentang, usaha kaum marginal masyarakat Indonesia. Bagian inilah yang paling bercerita tentang isi buku ini. Kasum yang mencari barang bekas disektitar gedung bercakar DPR diceritakan kelelahan karena dari subuh hingga siang berjalan menyelusuri gedung bercakar demi barang bekas, ia pun tertidur karena kecapekan. Sehari biasanya ia hanya mendapat Rp 500. Apakah di sini kasum bisa dikatakan sebagai pemalas karena kantuknya? Sedang DPR terkadang terkantuk-kantuk saat rapat penting sedang digelar. Selanjutnya. Diceritakan pula tentan bejo yang berprofesi sebagai tukanng jahit yang dengan humoris menerima nasibnya. Berjuang demi menghidupi keluarganya sebagai penjahit jalanan –jalan slamet riyadi. Ia berpendapat berwirausaha adalah jalan yang peling bisa ia lakukan untuk memecah kemiskinan –meskipun dalam skala kecil, sesuai bajunya.  Kemudian, dikisahkan tentang perempuan-perempuan kulonprogo yang mencari batu di sungai-sungai demi hidup yang dicukup-cukupkan. Ketika Sindhunata berbincang dengan Mbok Pariyah salah satu perempuan yang mencari batu di sungai, Mbok Pariyah santai-santai saja melihat nasibnya seperti ini. Berat mbok? –“nggih awrat, wong dibruki watu”. Kerja kayak gini gak susah mbok? –“ah sampeyan ini kok ndagel. Tiyang nyambut damel kok diarani susah.” Mereka perempuan-perempuan perkasa –nerimo ing pandhum. Lanjutnya dikisahkan pula kisah Pak Abadin yang menyadari nasibnya harus bingung, tak memilki pendidikan yang cukup untuk bisa memperoleh sesuatu yang layak, jadinya ia menerima apa saja yang diputuskan pemerintah seperti kerbau. Mau enak tak enak asal makan.
Bagian kelima menceritakan tentang nasib para pengadu nasib, orang kampung yang muda merantau di Ibu Kota yang malah berakhir tragis nasibnya. Dikisahkan Arjo seorang “urban” yang malah kehilangan kakinya terlindas truk di Ibu Kota. Di sini arjo malah ketakutan, haruskah ia menehurus asuransi tentang dirinya.
Dari bagiang satu hingga lima, bagian keempatlah yang menjadi “gong” dari buku ini, sesuai dengan judulnya. Akhir dari ringkasan isi, Ekonomi Kerbau Bingung, sebuah bacaan yang inspirative dan layak  untuk dibaca. Bon Voyage!

Comments

Popular posts from this blog

Terima Kasih Mbak Gojek

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Review Buku Pergi, Sebuah Akhir Membawa Ke Awal Baru