Posts

Hijau Kehidupan

Image
PENGGANTI aroma buku, adalah pemandangan yang hijau.  Aku pernah bermimpi kembali merasakan kedamaian, benar-benar menggunakan 2% persen kehidupan.
Dok Pribadi/ kingkin
Sadar bernafas, sadar melihat warna hijau di hadapan, sadar bersinggungan dengan angin sepoi, sadar mendengarkan kicauan burung dari balik pintu kaca dengan duduk santai memegang buku Ernes Hemingway. Impianku tercapai, menggunakan 2% kehidupan untuk fokus masih diberi jantung yang berdetak normal menghirup oksigen bersih tanpa kegaduhan sore ini.  Hidup selalu memiliki caranya sendiri memperlihatkan berbagai sisi kehidupan.  Menjadikanku semakin mengagumi tetes hujan yang jatuh tepat pada daun bambu yang ada di mataku sore ini.  Hal ini membuatku sadar, orang-orang boleh mengomentari pilihan hidup kita tanpa mengetahui "diri kita" meski itu keliru.  Warna hijau di sini melemparkanku pada memori yang melompat-lompat. Antara buku dan meninggalkan sebongkah sayang yang berganti memaafkan.  Bandungan, 8/11/2018.…

Review Buku Like Water for Chocholate

Image
JIKA Pram bilang menulislah jika tidak ingin tenggelam dalam peradaban, maka Laura Esquile menghadirkan tokoh novel yang akan mengajari keabadian melalui resep makanan yang digunakan turun-temurun. Laura Esquile menghadirkan romansa khas Amerika Latin. Bumbu cinta dan deskripsi yang pas. Ditambah dengan penggerak resep makanan.

Novel dengan judul Like Water for Chocholate ini memiliki alur yang sangat tidak bisa diduga.  Menghadirkan sosok Mama Elena yang memiliki rahasia cinta sendiri. Hingga ia memiliki tradisi anak perempuan terakhir tidak boleh menikah.  Tita adalah sosok itu. Ia wajib mengurusnya hingga ia tua dan mati.  Di tengah dan ending baru ada penegas asal-usul yang menyayat pembaca kenapa sampai ada tradisisi tersebut? Tradisi ini bahkan menurun ke generasi ketiganya, Ezperansa. Namun, Tita telah merubah segala-galanya. Awal novel ini mengisahkan ketika Tita mengungkapkan akan ada seorang lelaki yang mencintainya akan datang melamar. Pedro namanya.  Justru Mama Elena mala…

Bersua Suara Kesunyian

Image
*cerpen ini ditulis untuk mengabadikan percakapan dengan seorang karib pada sekitar akhir Bulan Oktober  Malam beranjak larut. Musik di kedai kopi masih terdengar, dari volumenya belum menunjukkan tanda-tanda akan diberhentikan.  Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB.  Dalam kesunyian, mereka mendengarkan kehidupan. 
"Apa kamu sudah paham dengan politik kehidupan?" lelaki itu menyulut rokok keduanya.  Ruangan kedai kopi ini memiliki jendela yang lebar. Membuat pengunjung bebas memantik rokok tak perlu risau asapnya akan melambung berputar-putar di depan wajah lelaki itu ataupun lawan bicaranya.  "Maaf ya, aku merokok," izin lelaki itu.  Perempuan di hadapannya mengangguk belum menjawab pertanyaan tentang politik kehidupan.  Dalam keheningan, kehidupan yang ramai bisa di dengar. Mana suara-suara yang patut didengarkan, mana suara-suara yang penuh penghakiman.  "Apa semua kehidupan memiliki politik kehidupan?" tidak menjawab perempuan itu balik bertanya.  Samb…

A.A Navis dan Pergulatan Hidup di Musim Kemarau

Image
A.A Navis membuatku teringat cerita pendek Robohnya Saurau Kami. Flashback 1998, kali pertama aku membacanya di Buku Pintar Berbahasa Indonesia, 20 tahun lalu.  Ada tokoh Ajo Sidi yang memberitahu Kakek Garin mengenai pentingnya membantu sesama dalam sindirannya.  Kakek Garin pada masa itu menghabiskan 24 jam hanya untuk ibadah. Ia tak peduli dengan tetangganya yang kelaparan ataupun kesusahan. Yang ia pikirkan hanyalah ibadah.  Hingga akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri saat Ajo Sidi membeberkan fakta-fakta kehidupan. Beberapa waktu lalu, di tanggal 20 Oktober, tanpa sengaja aku berkelana di Gramedia Jalan Pemuda Semarang, kudapati Novel A.A Navis dengan judul Kemarau. Seperti apa cerita novel yang ditulis olehnya kali ini?  Tentu aku mendapat potongan harga 20% dengan menunjukkan "tanda pengenal". Novel yang diterbitkan oleh Grasindo ini memiliki jumlah halaman 162. Novel ini resmi bisa dibaca oleh publik pada tahun 1967.  Ketika saya membaca halaman pertama novel Kem…

Melihat Manusia Bekerja

Sore ini di tengah hiruk-pikuk. Ketiga manusia ini duduk, bernafas, bersantai,  menikmati hidup. Apa yang kamu kejar? Para pramusaji tak ada yang duduk santai, mereka mempersiapkan makanan fast food yang kami inginkan. Mempersiapkan makanan yang orang lain mau.  Lalu apa daya kami dalam hidup?  Jika mereka menyiapkan makanan untuk mencukupi hidup. 
Hidup kami adalah persoalan jual-beli cerita untuk pembaca.  Apakah effort-nya adil?  Melihat kisah Budha dan ajarannya, orang yang berhasil pada tulisan yang dalam adalah orang yang fokus pada satu hal.  Romo Warto, hari ini memberikankanku banyak pelajaran. Secara pribadi, ini adalah makna menulis dalam hidupku. Aku bisa memahami jika kedua orang sahabat di depanku sore itu, memiliki pemaknaan sendiri, karena tugas kami berbeda, tentu mereka memiliki pengalaman menarik yang tak akan pernah terbeli. Bahkan tak akan terbeli oleh gaji kami, yakni makna hidup dan lain-lainnya.  Namun, setelah bercakap dengan Romo Warto dan Ibu, aku pikir ben…

Percakapan Hidup dengan Okky Madasari

Image
Ia mengenakan kaus berwarna cerah, kuning di tengah sinar matahari siang yang menjelang sore.  Mengenakan turban (hem, aku suka menyebutkan kupluk) di antara para pengunjung Klenteng Sam Poo Kong, tak perlu aku memastikan berulangkali jika  dia adalah Okky Puspa Madasari.  Kami telah berkomunikasi jauh hari untuk bertemu, di sinilah aku kembali bisa berdiskusi tentang kehidupan.  Terkahir kali aku bertemu dengan penulis Pasung Jiwa ini pada acara yang Mbak Okky gagas yaitu Asean Literary Festival 2017 di Kota Tua Jakarta.  Sebagai pembaca novel-novelnya, aku merekomendasikan tulisa Okky untuk dibaca, jika kamu ingin melihat sisi hidup dari sisi yang berbeda.  Kabar dan beberapa remah-remah kehidupan kami ceritakan pada rentang jeda hidup, kami tidak bertemu dalam satu tahun terkahir.  "Dulu kamu 2017 belum di Tribun kan Kin?" tanyanya. Kami duduk pada bayang-bayang sejarah Ceng Ho membicarakan update masing-masing diri.  Terkahir Mbak Okky berkabar, ia sedang mengikuti fell…

Eksistensi Saminisme Suku Samin di Tahun 2018

Oleh: Bare Kingkin KinamuUSAI penjajahan Belanda, macam budaya dan kebiasan dalam kehidupan manusia di Indonesia semakin beraneka ragam. Bahkan ada budaya yang terbentuk karena menginginkan terlepas dari belenggu tekanan penjajah.  Masa kolonial, masyarakat mengatur strategi untuk bebas dari tekanan dengan berbagai cara. Soekarno memanfaatkan kecendekiaannya untuk mengarahkan dan menyatukan bangsa memperjuangkan kemerdekaan.  Dahulu tidak ada gadget yang mempermudah jalannya komunikasi, hanya ada tombak dan komunikasi konvensional. Secara paradoks, bahkan ada warga yang menganut atau berguru kepada orang yang dituakan.  Kepada mereka meluncur petuah-petuah untuk mengusir penjajah, setidaknya membuat mereka tidak betah.  Di Blora ada tokoh Samin Surosentiko, pada waktu kolonial mencabut nyawa manusia dengan berperang, Samin mengajarkan paham Saminisme.  Samin memiliki gagasan memerangi Belanda tidak dengan cara kekerasan, ia mengajarkan beberapa cara seperti menolak pembayaran pajak k…